Sabtu, 27 Juni 2026

Kerusakan Hutan Tak Terkendali, Dinilai Jadi Faktor Utama Bencana Banjir dan Longsor di Aceh

KABAR BIREUEN, Bireuen – Kerusakan hutan lindung dan hutan adat yang terus berlangsung tanpa pengawasan serius, dinilai menjadi faktor utama meningkatnya bencana banjir bandang dan longsor di Aceh. Lemahnya penegakan hukum serta pembiaran terhadap perambahan hutan, telah menempatkan keselamatan masyarakat dalam ancaman nyata.

Pandangan tersebut diungkapkan Muhammad Iqbal, warga Kecamatan Peudada, Kabupaten Bireuen, yang peduli terhadap isu lingkungan, kepada Kabar Bireuen, Selasa (6/1/2026).

Menurut Iqbal, bencana yang melanda sedikitnya 18 kabupaten/kota di Aceh, bukan semata-mata akibat faktor alam, melainkan dampak langsung dari rusaknya hutan sebagai penyangga ekosistem.

BACA JUGA: Diterjang Banjir, Puluhan Rumah Warga Alue Kuta Hanyut ke Laut dan Permukiman Berubah Jadi Kuala

“Kalau hutan rusak, air tidak lagi tertahan. Saat hujan deras, banjir dan longsor tidak bisa dihindari,” ujar Iqbal.

Dijelaskannya, alih fungsi hutan lindung dan hutan adat menjadi perkebunan sawit, ditambah maraknya aktivitas tambang ilegal seperti galian C dan tambang emas tanpa izin, telah merusak fungsi ekologis hutan secara masif. Aktivitas tersebut, kata dia, terjadi di berbagai wilayah, termasuk kawasan batu gajah dan sekitarnya.

Iqbal menyoroti lemahnya pengawasan dari pemerintah daerah, aparat penegak hukum, hingga minimnya peran tokoh adat dalam mencegah perambahan hutan. Kondisi ini, membuat praktik perusakan hutan terus berulang tanpa konsekuensi yang berarti.

“Banyak yang tahu, tapi dibiarkan. Akhirnya rakyat yang menanggung dampaknya,” katanya.

BACA JUGA: Survei Mapala ALASKA Umuslim, Ungkap Fakta Ancaman Serius di DAS Krueng Peusangan

Disebutkannya, pembiaran terhadap pelanggaran lingkungan, tidak bisa lagi dianggap sebagai kelalaian biasa. Ketika perusakan hutan berlangsung terus-menerus tanpa tindakan tegas, kepercayaan masyarakat terhadap negara ikut terkikis.

Dia juga menyinggung posisi masyarakat adat dan lokal yang kerap tidak dilibatkan dalam pengelolaan sumber daya alam. Dalam banyak kasus, mereka hanya menjadi penonton, bahkan ikut menanggung risiko bencana, sementara keuntungan justru dinikmati oleh pihak-pihak tertentu.

BACA JUGA: Dua Warga Makmur Meninggal Tertimbun Longsor dan Terseret Banjir

“Hutan bukan untuk dirusak, tapi untuk dijaga bersama. Kalau hutan habis, yang hilang bukan hanya pohon, tapi juga sumber hidup masyarakat,” tegasnya.

Iqbal berharap, pemerintah segera mengambil langkah nyata, mulai dari penegakan hukum yang tegas terhadap pelaku perusakan hutan hingga pembenahan tata kelola sumber daya alam yang lebih adil dan transparan.

Dia mengingatkan, tanpa perubahan serius dan keberpihakan pada kelestarian lingkungan, bencana serupa akan terus berulang dan masyarakat Aceh akan selalu berada pada posisi paling rentan. (Suryadi) 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

BACA JUGA

KABAR TERBARU

Lantik 173 Pejabat, Bupati Bireuen Tegaskan Tak Ada Jual Beli Jabatan, Kalau Ketahuan Dicopot

0
KABAR BIREUEN, Bireuen–Bupati Bireuen, Ir. Mukhlis, S.T., melantik dan mengambil sumpah/janji jabatan 173 pejabat di lingkungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bireuen, Jumat (26/6/2026) sore di...

Desak Bahlil Batalkan PoD Blok Andaman, Warga Aceh Demo Kementerian ESDM

0
KABAR BIREUEN, Jakarta– Aksi damai ratusan warga Aceh dari paguyuban Taman Iskandar Muda (TIM) digelar depan Kantor Kementerian ESDM, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta...

Sekda Aceh Terima Audiensi Mahasiswa, Paparkan Capaian dan Percepatan Pemulihan Pascabencana Hidrometeorologi

0
KABAR BIREUEN, Banda Aceh - Sekretaris Daerah (Sekda) Aceh M Nasir menerima audiensi sekitar 15 mahasiswa dari berbagai kampus di Posko Penanggulangan Bencana Kantor...

PSSB Bireuen U-12 Tampil Gemilang di Laga Perdana Festival Piala Presiden, Tekuk SSB Bijeh...

0
KABAR BIREUEN, Banda Aceh – PSSB U-12 mengawali kiprahnya di Festival Piala Presiden RI 2026 dengan hasil gemilang. Tim asal Kabupaten Bireuen itu menundukkan...

Sudah Dua Bulan Diproses, Polres Bireuen Belum Tetapkan Status Hukum Kasus Dugaan Penghinaan Wartawan

0
KABAR BIREUEN, Bireuen - Zulfikar Muhammad, kuasa hukum M. Ilham bin Sakubat, wartawan wilayah liputan Bireuen, mendesak Polres Bireuen segera memberikan kepastian hukum atas...

KABAR POPULER

Lantik 173 Pejabat, Bupati Bireuen Tegaskan Tak Ada Jual Beli Jabatan, Kalau Ketahuan Dicopot

0
KABAR BIREUEN, Bireuen–Bupati Bireuen, Ir. Mukhlis, S.T., melantik dan mengambil sumpah/janji jabatan 173 pejabat di lingkungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bireuen, Jumat (26/6/2026) sore di...

Sudah Dua Bulan Diproses, Polres Bireuen Belum Tetapkan Status Hukum Kasus Dugaan Penghinaan Wartawan

0
KABAR BIREUEN, Bireuen - Zulfikar Muhammad, kuasa hukum M. Ilham bin Sakubat, wartawan wilayah liputan Bireuen, mendesak Polres Bireuen segera memberikan kepastian hukum atas...

PSSB Bireuen U-12 Tampil Gemilang di Laga Perdana Festival Piala Presiden, Tekuk SSB Bijeh...

0
KABAR BIREUEN, Banda Aceh – PSSB U-12 mengawali kiprahnya di Festival Piala Presiden RI 2026 dengan hasil gemilang. Tim asal Kabupaten Bireuen itu menundukkan...

Target Juara, PSSB Bireuen U-12 Bertolak ke Banda Aceh Ikuti Festival Sepak Bola Piala...

0
KABAR BIREUEN, Bireuen – Tim sepak bola PSSB Bireuen U-12 resmi dilepas keberangkatannya menuju Banda Aceh untuk mengikuti Festival Sepak Bola Piala Presiden U-12...

Dokumen Sudah Lengkap, HRD Kembali Ajukan Usulan Pembangunan Gedung Fakultas Kedokteran Umuslim ke Menteri...

0
KABAR BIREUEN, Jakarta – Anggota Komisi V DPR RI Fraksi PKB, H. Ruslan Daud (HRD), kembali memperjuangkan pembangunan Gedung Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Almuslim...