Kamis, 21 Mei 2026

Pers Bukan Corong Kekuasaan

HARI Pers Nasional (HPN), 9 Februari 2026, kembali mengingatkan kita pada satu hal mendasar: pers lahir bukan untuk menyenangkan penguasa. Pers hadir untuk menjaga kewarasan publik. Untuk mengawasi jalannya pemerintahan. Untuk memastikan negara atau daerah tidak berjalan tanpa kontrol.

Sejak awal, fungsi pers jelas. Pers adalah alat kontrol sosial. Ia mengawasi. Ia mengkritik. Ia menekan ketika kekuasaan mulai keluar jalur. Bahkan, kata pers sendiri mengandung makna menekan. Menekan kekuasaan agar tetap berada dalam rel yang benar.

Namun, dalam praktiknya, pemahaman ini kerap kabur. Tidak sedikit pihak yang berharap media menjadi etalase keberhasilan pemerintah. Pers diharapkan hanya menulis yang baik-baik. Yang manis-manis saja. Yang menyenangkan hati penguasa.

Padahal, pers bukan humas pemerintah. Pers bukan pula panggung pencitraan. Ia bukan mesin produksi berita seremonial. Bukan pula pengeras suara agenda kekuasaan. Ketika pers hanya menulis sisi positif, publik kehilangan gambaran utuh tentang realitas. Demokrasi pun menjadi pincang.

Pers yang sehat justru berdiri pada jarak yang kritis dengan kekuasaan. Ia tidak bermusuhan. Bukan juga bersekutu. Pers harus independen. Harus berdiri atas kebenaran dan kepentingan masyarakat. Bukan di bawah bayang-bayang penguasa.

Sayangnya, sikap alergi terhadap kritik masih sering muncul. Wartawan yang menulis berita kritis kerap dianggap menghambat pembangunan. Dianggap tidak mendukung pemerintah. Bahkan, tidak jarang dilabeli sebagai penyebar fitnah. Ada pula yang dicurigai sebagai bagian dari kelompok politik yang kalah dalam pemilihan kepala daerah.

Pelabelan seperti ini berbahaya. Ia merusak kemerdekaan pers. Ia juga mengaburkan profesionalisme wartawan. Kritik jurnalistik lahir dari kerja peliputan. Dari verifikasi data. Dari konfirmasi narasumber. Dari proses yang diatur ketat dalam kode etik jurnalistik. Bukan dari kepentingan politik.

Pemerintah dan pemimpin daerah perlu memahami satu hal penting. Kritik bukan ancaman. Kritik adalah sistem peringatan dini. Ia mencegah kekuasaan tergelincir. Ia mengingatkan penguasa agar tidak menyalahgunakan wewenang. Ia menjadi pagar moral sekaligus hukum.

Ingat, banyak skandal besar di berbagai negara terbongkar karena kerja pers. Banyak penyimpangan anggaran terungkap karena liputan investigatif. Banyak kebijakan keliru dikoreksi karena sorotan media. Tanpa pers yang kritis, penyalahgunaan kekuasaan justru lebih mudah terjadi.

Di sisi lain, pers juga memiliki keterbatasan. Sebab, wartawan bekerja berdasarkan fakta. Berdasarkan kepentingan publik. Berdasarkan etika profesi. Karena itu, pers tidak bisa diminta menjadi perancang kebijakan. Tidak pula berkewajiban menawarkan solusi atas berbagai persoalan di pemerintahan.

Tugas pers mengungkap masalah. Menyampaikan fakta. Memberi ruang diskusi publik. Soal solusi, itu wilayah pemerintah, legislatif, dan para pemangku kebijakan.

Meminta wartawan memberikan solusi kalau mengkritik pemerintah adalah sebuah kekeliruan dalam memahami fungsi pers. Pers mengawasi. Bukan mengeksekusi program.

Harus dipahami di era digital saat ini, tantangan pers semakin kompleks. Arus informasi bergerak cepat. Media sosial membanjiri publik dengan berbagai narasi, termasuk hoaks dan propaganda. Dalam situasi seperti ini, peran pers profesional justru semakin penting dan dibutuhkan.

Pers menjadi penjernih informasi. Menjadi penyeimbang arus kabar yang belum tentu benar. Menjadi penjaga akal sehat publik.

Karena itu, kemerdekaan pers harus dijaga bersama. Pemerintah perlu membuka ruang kritik. Wartawan harus menjaga integritas dan profesionalisme. Publik pun harus mendukung pers yang bekerja berdasarkan fakta dan beretika.

Hubungan pers dan kekuasaan sejatinya bukan saling memusuhi. Hubungan keduanya saling mengingatkan. Pers mengawasi agar kekuasaan tidak menyimpang. Kekuasaan menghormati pers agar demokrasi tetap hidup.

Hari Pers Nasional 2026 seharusnya menjadi momentum refleksi diri. Apakah pers masih cukup merdeka? Apakah penguasa sudah cukup dewasa menerima kritik dari pers? Apakah wartawan masih tetap teguh menjaga etika profesinya?

Tanpa pers yang kritis, kekuasaan mudah lupa diri. Tanpa pers yang independen, publik kehilangan hak untuk mengetahui kebenaran.

Pers tidak diciptakan untuk menyanjung. Pers ada untuk mengingatkan dan mengkritisi.

Hari Pers Nasional 2026 harus menjadi pengingat keras bahwa kemerdekaan pers bukan hadiah. Ia hasil perjuangan panjang. Ia harus terus dijaga. Penguasa boleh berganti. Pemerintahan boleh berubah. Namun, fungsi pers sebagai pengawas kekuasaan tidak boleh ditawar.

Perlu dicamkan, pemimpin yang kuat bukan penguasa antikritik. Pemimpin yang kuat adalah mereka yang berani bercermin dari kritikan.

Sejarah menunjukkan, kekuasaan yang menutup mata dan telinga pada suara pers sering berakibat fatal baginya. Sebab, pers mampu membangun opini publik. Bisa menaikkan dan menjatuhkan pamor penguasa. Sementara kekuasaan yang bersedia diawasi dan membuka diri terhadap kritikan pers, justru lebih kokoh dan dipercayai rakyat.

Pers akan terus berkarya. Akan terus bertanya. Akan terus mengingatkan dan mengkrisi kebijakan-kebijakan yang tidak berpihak pada masyarakat. Bukan mau menjatuhkan, tetapi untuk memastikan kekuasaan tetap berpihak pada kepentingan rakyat. Karena ketika pers dibungkam, yang hilang bukan sekadar suara wartawan, melainkan hak rakyat untuk mengetahui kebenaran.

Selamat Hari Pers Nasional 2026! “Pers Sehat, Ekonomi Berdaulat, Bangsa Kuat”. []

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

BACA JUGA

KABAR TERBARU

Pelatihan Ekonomi Hijau, HMI MPO Bireuen Dorong Pemulihan Ekosistem Pascabencana

0
KABAR BIREUEN, Bireuen— Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) MPO Cabang Bireuen menggelar Pelatihan Ekonomi Hijau dan Pemulihan Ekosistem bertema “Strategi Rehabilitasi Lahan Basah Pascabencana bagi...

Pemkab Bireuen Salurkan Bantuan Masa Panik untuk Korban Terbakar Rumah dan Angin Kencang

0
KABAR BIREUEN, Bireuen - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bireuen melalui Dinas Sosial setempat bergerak cepat menyalurkan bantuan masa panik kepada warga terdampak musibah korban rumah...

Buka FLS3N SMP, Kadisdikbud Bireuen: Jadikan Ajang Ini Panggung yang Sportif

0
KABAR BIREUEN, Bireuen- Guna membentuk dan memperkuat karakter peserta didik melalui pengembangan potensi, bakat, serta kreativitas siswa di bidang seni dan sastra, Dinas Pendidikan dan...

Pemerintah Aceh Perkuat Layanan Dasar Pascabencana, Daerah Diminta Benahi Data SPM

0
KABAR BIREUEN, Lhokseumawe - Pemerintah Aceh memperkuat upaya pemenuhan layanan dasar bagi masyarakat terdampak bencana hidrometeorologi dengan menggelar Lokakarya dan Bimbingan Teknis Pendataan dan...

Bank Aceh Syariah Gandeng PosSaku : Kolaborasi Digital yang Siap Naikkan Level UMKM Aceh

0
KABAR BIREUEN, Banda Aceh - Transformasi digital UMKM di Aceh kembali mendapat dorongan baru. PT Bank Aceh Syariah(BAS)  resmi menjalin kerja sama strategis dengan...

KABAR POPULER

FLS3N SD Tingkat Kabupaten Bireuen Berakhir, Ini Juaranya

0
KABAR BIREUEN, Bireuen- Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) Jenjang Sekolah Dasar (SD) Tingkat Kabupaten Bireuen Tahun 2026, berakhir sukses FLS3N yang digelar...

Ilham Sakubat Tolak Berdamai dengan Anderson, Proses Hukum Tetap Berlanjut

0
KABAR BIREUEN, Bireuen - Kasus dugaan penghinaan dan pencemaran nama baik melalui media sosial (medsos) yang menjerat Zarkasyi alias Anderson terus bergulir di Polres...

Lima Jabatan Tinggi Pratama dan 15 Administrator di Pemkab Bireuen Kosong, Ini Penyebabnya

0
KABAR BIREUEN, Bireuen - Lima jabatan tinggi pratama (eselon II) dan 15 jabatan administrator (eselon III) di lingkungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bireuen saat ini...

Wakil Bupati Bireuen Buka Forum Konsultasi Publik Penyelenggaraan Perizinan dan Non Perizinan

0
KABAR BIREUEN, Bireuen-Pemerintah Kabupaten Bireuen melalui Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Bireuen, menggelar Forum Konsultasi Publik (FKP). Kegiatan dalam rangka penyelenggaraan...

Sekda Aceh Apresiasi Universitas Almuslim, Tegaskan Mahasiswa Berorganisasi Tetap Bisa Berprestasi

0
KABAR BIREUEN, Peusangan — Sekretaris Daerah (Sekda) Aceh, M. Nasir Syamaun, S.IP, MPA, menghadiri sekaligus memberikan apresiasi tinggi kepada Universitas Almuslim atas konsistensinya dalam...