KABAR BIREUEN, Peusangan Siblah Krueng– Pemulihan ekonomi pascabencana tidak cukup hanya dengan bantuan darurat. Dibutuhkan inovasi dan keberlanjutan.
Itulah yang dilakukan mahasiswa Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh melalui Program Mahasiswa Berdampak dari Kemdiktisaintek di Gampong Rambong Payong, Kecamatan Peusangan Siblah Krueng, Kabupaten Bireuen.
Desa yang terdampak banjir siklon Senyar ini memiliki potensi unggulan berupa tanaman moringa (kelor) yang telah dibudidayakan sejak beberapa tahun terakhir.
Produk tersebut diluncurkan pada 18 Februari 2026 dan mendapat respons positif dari panelis.
Produk tersebut dikelola oleh Badan Usaha Milik Gampong (BUMG) dan menjadi sumber ekonomi warga.
Sebelum bencana, moringa telah diolah menjadi serbuk herba kering siap seduh bermerek Chie Jebs dengan kandungan 100 persen moringa murni.
Namun, banjir menyebabkan kebun rusak dan fasilitas produksi terdampak, sehingga aktivitas usaha terhenti.
Tim pelaksana kegiatan tersebut terdiri dari Dr. Sulastri, Prof. Nasrul A. Rahman, Prof. Ichwana, dan Dr. Teuku Meldi.
Ketua Tim Pelaksana, Dr. Sulastri, Jumat (20/2/2025) kepada Kabar Bireuen, menilai potensi gampong di Aceh sangat besar jika dikelola secara sistematis dan berbasis riset.
Menurut tim, kolaborasi antara kampus, pemerintah daerah, dan pelaku usaha lokal menjadi kunci agar desa-desa di Aceh dapat naik kelas melalui inovasi berbasis sains.

Dikatakannya, melalui pendampingan 50 mahasiswa lintas disiplin, Teknik Kimia, Pendidikan Kimia, Teknik Pertanian, dan Manajemen Produksi kembali menghidupkan sekaligus meningkatkan kualitas dan inovasinya.
Mahasiswa tidak hanya memulihkan varian original, tetapi juga menghadirkan tiga varian baru hasil riset dosen USK: moringa pandan, moringa jahe, dan moringa rosella.
Lebih jauh, mahasiswa juga melatih warga memproduksi mi hijau berbahan dasar moringa.
Produk ini memiliki warna hijau alami, tekstur lembut dan kenyal, serta nilai gizi lebih karena kandungan metabolit sekunder moringa yang kaya antioksidan.
Program ini menunjukkan bahwa hilirisasi riset dapat dilakukan secara nyata melalui pelibatan mahasiswa di tengah masyarakat.
“Produk-produk yang dikembangkan merupakan hasil penelitian dosen USK yang sebelumnya mengkaji kandungan antioksidan, daya simpan, serta diversifikasi produk moringa,” kata Sulastri.
Menurutnya, kolaborasi antara kampus, pemerintah daerah, dan pelaku usaha lokal menjadi kunci agar desa-desa di Aceh dapat naik kelas melalui inovasi berbasis sains.
Dengan dukungan kebijakan yang tepat, Rambong Payong berpotensi menjadi model desa hilirisasi moringa berbasis riset di tingkat regional bahkan nasional.
“Kami berharap pemerintah daerah dapat berkolaborasi lebih kuat dengan perguruan tinggi untuk mengembangkan potensi gampong menjadi produk komersial yang berdaya saing. Hasil riset tidak seharusnya berhenti sebagai artikel ilmiah, tetapi menjadi solusi ekonomi nyata bagi masyarakat,” sebut tim pelaksana.
Program Mahasiswa Berdampak ini diharapkan dapat terus berlanjut dengan durasi yang lebih panjang agar proses penguatan kapasitas masyarakat dan pengembangan produk dapat dilakukan secara berkesinambungan.
Kebangkitan Rambong Payong melalui moringa menjadi bukti, ketika riset, mahasiswa, dan masyarakat bergerak bersama, pemulihan pascabencana dapat berubah menjadi momentum transformasi ekonomi. (Ihkwati)










