Sabtu, 17 Januari 2026

Bukan Menolak, Warga Balee Panah Tegaskan Sangat Butuh Huntara

KABAR BIREUEN, Juli – Warga Gampong Balee Panah, Kecamatan Juli, Kabupaten Bireuen, menegaskan, mereka sangat membutuhkan hunian sementara (huntara) sebagai solusi mendesak pascabencana banjir dan tanah longsor. Pernyataan ini sekaligus membantah kabar yang menyebutkan, para pengungsi di desa tersebut menolak huntara dan hanya menginginkan hunian tetap (huntap).

Hal tersebut disampaikan sejumlah warga Balee Panah, di antaranya Zubir, Hendra, dan Rizal, kepada Kabar Bireuen, Senin (5/1/2026) sore.

Mereka menyatakan, informasi penolakan yang berkembang sebelumnya, tidak mewakilu suara mayoritas warga terdampak.

“Jangan hanya karena satu atau dua orang yang mungkin menolak, lalu digeneralisasi seakan-akan semua warga Balee Panah tidak mau menerima huntara. Itu tidak benar,” ujar Zubir.

Menurutnya, huntara tersebut sangat dibutuhkan, sambil menunggu proses pembangunan huntap yang memerlukan waktu lama.

Zubir menambahkan, kebutuhan huntara di Balee Panah sangat mendesak karena dampak bencana telah menghilangkan puluhan rumah warga.

“Sebanyak 58 unit rumah di Balee Panah sudah hilang. Lokasinya telah berubah menjadi aliran sungai baru. Akibatnya, sekarang banyak warga tidak lagi memiliki tanah sebagai tempat dibangun hunian tetap nanti, ” ujarnya sambil menunjuk bekas rumahnya yang kini berada di tengah sungai.

Zubir menunjuk bekas rumahnya yang kini berada di tengah sungai. (Foto: Suryadi/Kabar Bireuen)

Hal senada disampaikan Hendra. Disebutkannya, kondisi pengungsi saat ini sudah sangat memprihatinkan karena lebih dari satu bulan harus bertahan di tenda darurat dengan fasilitas yang terbatas.

“Kami sudah lama tinggal di tenda pengungsian. Fasilitasnya tidak memadai, termasuk MCK yang belum sepenuhnya selesai dibangun. Ini tentu sangat menyulitkan, apalagi bagi keluarga yang memiliki anak dan lansia,” kata Hendra.

BACA JUGA:  Korban Banjir di Balee Panah Berharap Tidak Direlokasi ke Luar Gampong

Disebutkannya, sebagian warga terpaksa menumpang sementara di rumah kerabat yang masih memiliki tempat tinggal. Namun, kondisi tersebut tidak mungkin berlangsung dalam waktu lama.

“Menumpang di tempat keluarga, tidak mungkin terus-menerus. Karena itu kami sangat membutuhkan huntara sebagai solusi sementara. Apalagi sebentar lagi memasuki bulan puasa, kami sangat berharap bisa tinggal di tempat yang lebih layak dan nyaman,” ujarnya.

Dia juga berharap agar huntara nantinya dibangun di wilayah Gampong Balee Panah, bukan direlokasi ke tempat lain yang jauh dari lingkungan asal mereka. Kedekatan dengan lokasi lama dinilai penting untuk menjaga aktivitas sosial dan ekonomi warga.

Kondisi permukiman penduduk Balee Panah yang telah berubah menjadi sungai. (Foto: Suryadi/Kabar Bireuen)

Menurut Hendra, permintaan pembangunan huntara, bukan berarti tidak perlu lagi huntap. Keduanya sama-sama dibutuhkan, sesuai dengan tahapan penanganan pascabencana.

“Huntara untuk kebutuhan mendesak sekarang, sedangkan huntap untuk jangka panjang. Sebab, hunian tetap itu butuh proses dan waktu,” katanya.

BACA JUGA:  Meski Tanpa Usulan Pemkab Bireuen, HRD Siap Perjuangkan Huntara untuk Korban Bencana

Sebelumnya, Bupati Bireuen, H. Mukhlis, menyampaikan, korban banjir dan longsor di Kabupaten Bireuen menolak pembangunan huntara dan lebih memilih pembangunan hunian tetap oleh pemerintah pusat. Pernyataan itu disampaikannya dalam konferensi pers di Meuligoe Bireuen, Rabu (31/12/2025).

Bupati Bireuen, H. Mukhlis, ST, menyampaikan keterangannya pada acara Ngopi Pagi Sinergi dan Kolaborasi Pemkab Bireuen bersama Pers Pasca Bencana Banjir dan Tanah Longsor, di Meuligoe Bireuen, Rabu (31/12/2025). (Foto: Suryadi/Kabar Bireuen)

Menurut Bupati Mukhlis, kesimpulan tersebut diperoleh setelah dirinya bersama Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen TNI Suharyanto, turun langsung ke lokasi terdampak bencana dan berdialog dengan masyarakat.

“Masyarakat menyampaikan langsung kepada Kepala BNPB bahwa mereka tidak membutuhkan huntara. Mereka lebih memilih hunian tetap atau pembangunan rumah langsung,” kata Mukhlis.

BACA JUGA:  Tindaklanjuti Permintaan HRD, Kementerian PU Siap Bangun Huntara di Langkahan

Dia juga beralasan, pembangunan huntara akan membuat pemerintah harus mengeluarkan anggaran dua kali karena sifatnya sementara. Berbeda dengan huntap yang langsung menjadi tempat tinggal permanen bagi korban.

“Pembangunan rumah untuk korban banjir sudah kita usulkan jumlahnya ribuan. Jika ada warga yang tidak lagi memiliki tempat tinggal, mereka bisa menumpang sementara di rumah keluarga. Dana tunggu hunian (DTH) ditanggung pemerintah sebesar Rp600 ribu per KK per bulan,” demikian disampaikan Mukhlis. (Suryadi)

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

BACA JUGA

KABAR TERBARU

MIN 12 Bireuen Peringati Isra Mikraj, Momentum Penguatan Iman dan Akhlak

0
KABAR BIREUEN, Kota Juang — Ratusan siswa Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 12 Bireuen antusias mengikuti peringatan Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW 1447 Hijriah/2026 Masehi...

Tempuh Akses Sulit, Relawan Mapala ALASKA Umuslim Dampingi Pendidikan Anak Korban Bencana di Pengungsian

0
KABAR BIREUEN, Peusangan — Di tengah keterbatasan akses dan rusaknya infrastruktur pascabencana banjir dan tanah longsor, relawan Unit Kegiatan Mahasiswa Pecinta Alam dan Lingkungan...

Panen Melimpah Pascabencana, Durian Bener Meriah Banjiri Bireuen

0
KABAR BIREUEN, Bireuen — Pascabencana banjir dan tanah longsor, sekarang di Kabupaten Bener Meriah sedang musim panen durian. Panen durian yang melimpah di wilayah...

Pulihkan Kehidupan dan Pendidikan Korban Banjir, Muhammadiyah Luncurkan 48 Hunian Darurat serta Sekolah Darurat...

0
KABAR BIREUEN, Peusangan — Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) memperkuat respons kemanusiaan pascabanjir di Kabupaten Bireuen dengan meluncurkan pembangunan 48 unit hunian darurat (hundar)...

PC APRI Aceh Selatan dan Aceh Barat Daya Dikukuhkan, Ketua PW: APRI Harus Bermanfaat...

0
KABAR BIREUEN, Banda Aceh - Pengurus Wilayah Asosiasi Penghulu Republik Indonesia (PW APRI) Provinsi Aceh kembali melaksanakan agenda pengukuhan Pengurus Cabang (PC) APRI di...

KABAR POPULER

Panen Melimpah Pascabencana, Durian Bener Meriah Banjiri Bireuen

0
KABAR BIREUEN, Bireuen — Pascabencana banjir dan tanah longsor, sekarang di Kabupaten Bener Meriah sedang musim panen durian. Panen durian yang melimpah di wilayah...

Pulihkan Kehidupan dan Pendidikan Korban Banjir, Muhammadiyah Luncurkan 48 Hunian Darurat serta Sekolah Darurat...

0
KABAR BIREUEN, Peusangan — Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) memperkuat respons kemanusiaan pascabanjir di Kabupaten Bireuen dengan meluncurkan pembangunan 48 unit hunian darurat (hundar)...

PMI Bireuen Salurkan Bantuan Perlengkapan Sekolah untuk SDN 11 Kuta Blang

0
KABAR BIREUEN, Kuta Blang - Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Bireuen salurkan bantuan perlengkapan sekolah untuk SDN 11 Kuta Blang, Kabupaten Bireuen, Kamis (15/1/2026). Bantuan...

Camat Peusangan: Korban Banjir di Pante Lhong Tidak Butuh Huntara

0
KABAR BIREUEN, Peusangan - Warga korban banjir dan tanah longsor di Gampong (Desa) Pante Lhong, Kecamatan Peusangan, Kabupaten Bireuen, tidak membutuhkan hunian sementara (huntara). Hal...

Peringati Isra Miraj di Tengah Bencana, Pemkab Bireuen Ajak Warga Perkuat Shalat dan Ketakwaan

0
KABAR BIREUEN, Kota Juang — Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bireuen memperingati Isra Miraj Nabi Muhammad SAW 1447 Hijriah/2026 Masehi di tengah suasana keprihatinan akibat bencana...