KABAR BIREUEN, Juli – Safrina, korban banjir dan tanah longsor di Gampong (Desa) Balee Panah, Kecamatan Juli, Kabupaten Bireuen berharap kepada Pemerintah, mereka tidak direlokasi ke luar desanya.
“Pak Bupati (Bupati Bireuen), kalau bisa kami jangan dipindahkan ke gampong lain. Tolong diusahakan agar kami tetap di Balee Panah. Kalau tidak ada kami, tidak ada lagi warga di sini, karena hanya tersisa beberapa KK lagi,” ujar Safrina kepada Bupati Bireuen di lokasi pengungsian Balee Panah, Kamis (1/1/2026).
Ia berharap, pemerintah segera merealisasikan pembangunan hunian tetap (huntap) bagi yang kehilangan tempat tinggal akibat dibawa banjir bandang pada 26 November 2025.
“Pak Bupati, tolong diusahakan dibangun segera rumah untuk kami. Sebulan lagi sudah bulan puasa (puasa Ramadan), tidak mungkin lagi di tenda, apalagi anak saya masih kecil-kecil dan merawat ibu yang sudah tua,” ungkapnya sedih membayangkan jika harus berada di tenda pengungsian pada bulan puasa dan lebaran Idul Fitri.
Di tenda, lanjut ibu rumah tangga ini, khusus anak-anak dan orang tua, kesehatannya sangat tidak terjamin.
“Jangan biarkan lama di tenda pengungsian, kami sudah sangat sengsara,” ujar Safrina.
Menanggapi permintaan warga Balee Panah itu, Bupati Bireuen, H. Mukhlis, ST mengakui dapat memahaminya.
“Sudah pasti semua masyarakat akan memilih tetap tinggal di habitatnya. Apalagi rata-rata mata pencaharian mereka di tempat asalnya,” kata Bupati Mukhlis.
Menurutnya, kalau nanti direlokasi, dikhawatirkan setelah rumah dibangun tidak akan ditempati. Warga memilih membangun sendiri hunian di lokasi awal.
“Akan kita usahakan lokasi hunian tetap (huntap) dibangun tidak jauh dari kawasan mereka sendiri, tetapi bukan di jalur merah (daerah rawan banjir dan longsor),” sebutnya.

Orang nomor satu di Kabupaten Bireuen ini mengatakan, masyarakat yang kehilangan tempat tinggal akibat banjir dan tanah longsor akan dibangun kembali oleh Pemerintah Pusat.
Pemerintah, terangnya, menyediakan hunian sementara (huntara) sambil menunggu dibangun huntap. Namun, para korban yang rumah hilang sangat berharap langsung dibangun huntap.
“Rata-rata masyarakat menginginkan langsung dibangun huntap,” ungkap Haji Mukhlis.
Pemerintah melalui BNPB, sebut Bupati yang juga Ketua DPD II Partai Golkar Bireuen ini, akan memberikan Dana Tunggu Hunian (DTH) sebesar Rp600 ribu per bulan.
“DTH akan diberikan selama enam bulan mulai Desember 2025. Baik yang tinggal di pengungsian atau huntara maupun di rumah keluarga,” jelasnya.
BACA JUGA: 12.752 Rumah di Bireuen Hilang dan Rusak Akibat Banjir
Pada kesempatan itu, Bupati Bireuen juga menyampaikan akan mencari jalan keluar bagi warga yang berada di Dusun Kubang Hitam, Gampong Balee Panah, setelah jembatan gantung terputus dihantam banjir.
“Saya akan perintahkan Dinas (Dinas PUPR) untuk mencari solusi agar aktifitas perekonomian masyarakat di sana dapat berjalan kembali,” sebutnya.
Bagi masyarakat yang tidak lagi memiliki tanah untuk lokasi dibangun rumah, menurut Bupati Mukhlis, sampai saat ini belum ada petunjuk dari Pemerintah Pusat.
“Kami belum ada petunjuk bagi yang tidak memiliki tanah. Apakah nanti pemerintah juga menyediakan tanah, ini belum ada arahan apa pun. Dan untuk hal ini saya belum bisa memastikan,” pungkasnya.
Sekedar diketahui, Gampong Balee Panah hancur dihantam banjir bandang dan tanah longsor yang terjadi pada akhir November 2025 lalu. Diperkirakan seratusan rumah warga di dekat Daerah Aliran Sungai (DAS) Krueng Peusangan hilang dibawa arus. Bukan saja rumah warga hilang dan rusak disapu banjir, tetapi infrastruktur di desa itu banyak yang rusak. (Rizanur)













