PENGANTAR REDAKSI:
Seiring perjalanan waktu, tak terasa masa tugas Teuku Riefky Harsya sebagai anggota DPR-RI asal Aceh telah melewati tahun ketiga, sejak Pemilu Legislatif 2014 yang lalu.
Dalam kurun waktu tersebut, tentu banyak yang telah diperbuat putra pasangan Teuku Syahrul – Pocut Haslinda ini, untuk kepentingan masyarakat Aceh. Berikut ini, Teuku Riefky Harsya menuturkan sejumlah capaian kinerjanya yang cemerlang selama tiga tahun mengemban amanah rakyat.
Memikul amanah yang begitu besar sebagai wakil rakyat Aceh di Jakarta dari Dapil Aceh-1 yang meliputi 15 kabupaten/kota, 176 kecamatan dan 3.626 gampong, tentu tidaklah mudah. Namun, atas doa dan dukungan yang ikhlas dari publik Aceh telah memantapkan diri kami untuk menjalankan amanah besar tersebut, dengan Nawaitu Lillahi Taala untuk berpartisipasi aktif dalam mengisi perdamaian dan pembangunan di Aceh.
Tiga tahun pertama (2014-2017), Bapak SBY (Susilo Bambang Yudhoyono) sebagai Ketua Umum Partai Demokrat (PD), memberikan penugasan kepada saya untuk menempati posisi Ketua Komisi X DPR RI yang membidangi Pendidikan, Kebudayaan, Pemuda, Olahraga, Pariwisata, Ekonomi Kreatif, dan Perpustakaan.
Selain mengurus bidang tersebut secara nasional, tentu posisi strategis ini tidak kami sia-siakan untuk membantu Aceh. Beberapa upaya meneruskan aspirasi masyarakat Aceh yang berhasil diperjuangkan melalui program Kementerian dan Lembaga RI 2015 – 2017 (di luar kuota reguler yang diusulkan oleh Dinas Provinsi/ Kabupaten/ Kota), yaitu antara lain: ‘Program Indonesia Pintar’ sejumlah 167.686 beasiswa untuk siswa SD, SMP, SMA, SMK Negeri dan Swasta di bawah Kemendikbud RI yang tersebar hampir di setiap desa. ‘Bidikmisi’ dan ‘Unggulan’ sejumlah 555 mahasiswa bagi Mahasiswa berprestasi dan tidak mampu.
Sarana dan Prasarana sekolah sejumlah 1.404 program di 765 sekolah (SD, SMP, SMA dan SMK), berupa unit sekolah baru, revitalisasi, ruang kelas baru, rehab ruang belajar, perpustakaan dan ruang penunjang sekolah lainnya.
Alat pertanian sejumlah 118 unit (Rice Transplatter, Traktor Roda Dua & Empat, dan Pompa Air). Bantuan PAUD sejumlah 855 program yang berupa alat permainan edukatif, rehab gedung PAUD, program kecakapan keluarga dan program kecakapan wirausaha.
Lapangan olahraga desa di 32 desa. Wirausaha muda pemula sejumlah 45 kelompok usaha. Mobil perpustakaan & bioskop keliling sejumlah 4 unit. Makanan sehat untuk bayi, ibu hamil, ibu menyusui, lansia dan anak sekolah sejumlah 32 Ton.
Menandatangani surat rekomendasi kepada Pemerintah RI yang dengan tegas membela kehormatan dan kebanggaan rakyat Aceh dalam bidang sejarah, yaitu; Mendesak agar Laksamana Keumalahayati ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional. Mendesak dievaluasinya proyek IPAL (Instalasi Pembuangan Air Limbah) yang dibangun di atas situs sejarah dan makam para Raja Aceh di Gampong Jawa di Banda Aceh.
Mendorong kegiatan pengembangan destinasi dan industri pariwisata Aceh, diantaranya; Sail Sabang 2017 (Diikuti beberapa Yacht dari berbagai negara). Tari saman masal 2017 (10.001 penari) di Gayo Lues. Pesona Aceh di Jogja 2017 dan di Bali 2018 Talkshow ‘Tun Sri Lanang’ di Jakarta 2017. Aceh Karnaval Hijriyah di Banda Aceh 2015. Selanjutnya, pada akhir tahun 2017, kami telah diberi penugasan saya di Komisi I DPR-RI yang membidangi Pertahanan, TNI, Komunikasi dan Informasi.
Pada sisa 2 tahun masa jabatan sebagai Wakil Rakyat Aceh di Pusat, kami akan terus berupaya maksimal untuk dapat membantu masyarakat Aceh dalam berbagai hal yang berorientasi dalam kegiatan terkait perdamaian & pembangunan di Aceh.
Hal ini tentu sejalan dengan apa yang telah dicanangkan Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (2004-2014) yang telah berhasil meletakkan kebijakan nasional yang berdampak pada perdamaian dan pembangunan di Aceh, diantaranya: MOU Helsinki, UU-PA, BRR (pasca tsunami), Dana Otsus, Undang-Undang Desa dan lain sebagainya.
Terima kasih kami atas doa para ulama, kerjasama yang baik dengan Kementerian/Lembaga RI, Pemerintah Daerah, para keuchik dan guru serta tentunya masyarakat luas, sehingga selama 3 tahun ini, kami dapat merealisasikan sebagian yang menjadi aspirasi masyarakat Aceh.
Tentunya, sebagai manusia biasa yang tak luput dari keterbatasan, kami juga memohon maaf atas segala kekurangan dan bila masih adanya harapan yang belum terealisasi. Semoga Allah SWT selalu memberikan kekuatan dan perlindungan kepada kita semua, utamanya dalam membawa Aceh ke arah yang lebih baik lagi di masa akan datang. [*]










