KABAR BIREUEN, Aceh Tamiang — Kolaborasi kemanusiaan lintas negara ditunjukkan Tim Relawan Mustafa A Glanggang bersama dermawan asal Brunei Darussalam, Alhaj Awang Idris, dalam menyambut awal tahun 2026 dengan menyalurkan bantuan bagi korban banjir di Aceh Tamiang.
Aksi kemanusiaan tersebut dipusatkan di Desa Rimba Sawang, Kecamatan Tenggulun, Kabupaten Aceh Tamiang, Jumat (2/1/2026).
Mustafa A Glanggang dalam keterangannya kepada Kabar Bireuen, Kamis (8/1/2026), menyampaikan, nbantuan yang disalurkan berupa beras, minyak goreng, obat-obatan, perlengkapan ibadah, makanan ringan untuk anak-anak, serta pakaian dalam wanita. Bantuan tersebut diserahkan langsung oleh Awang Idris bersama Tim Relawan Mustafa A Glanggang kepada warga terdampak.
Awang Idris mengaku, sangat terpukul menyaksikan kondisi pascabanjir di Aceh Tamiang, khususnya di Kota Kuala Simpang yang tampak lumpuh. Ia bahkan menyamakan situasi tersebut dengan daerah konflik yang pernah ia kunjungi.
“Saya pernah ke Gaza. Kondisinya hampir sama seperti di kota ini,” ujar Awang Idris dengan mata berkaca-kaca, sebagaimana disampaikan Mustafa A Glanggang.
Dijelaskannya, pemilihan Desa Rimba Sawang yang berjarak sekitar 25 kilometer dari pusat Kota Kuala Simpang dilakukan sebagai upaya pemerataan bantuan, terutama bagi warga di wilayah pedalaman yang kerap luput dari perhatian.
“Daerah-daerah yang jauh dari pusat pemerintahan biasanya paling rentan terabaikan. Kondisi di Rimba Sawang sangat memprihatinkan dan membutuhkan perhatian serius,” sebut Mustafa.
Menurut Mustafa, dalam kesempatan tersebut Kepala SD Negeri Rimba Sawang, Ani, menceritakan pengalaman pahit saat banjir melanda desanya. Dia menyebutkan, ketinggian air mencapai lima hingga enam meter. Dengan latar belakang sebagai mantan guru olahraga, Ani nekat berenang untuk mengevakuasi anak-anak dan warga lanjut usia ke tempat yang lebih aman.

Aksi heroik Ani sempat menjadi perhatian publik dan viral setelah ditayangkan oleh salah satu stasiun televisi swasta nasional, sebagai sosok perempuan pemberani yang mempertaruhkan keselamatan demi warganya.
Disebutkan Mustafa, dalam perjalanan menuju Desa Rimba Sawang, rombongan relawan menyaksikan sejumlah rumah warga yang hancur diterjang banjir. Air sungai juga masih terlihat meluap hingga ke area perkebunan sawit di sekitar desa, yang sebagian besar dimiliki perusahaan dari luar Aceh Tamiang.
Mustafa A Glanggang, yang juga pernah terlibat langsung dalam penanganan bencana tsunami Aceh 2004 serta menjabat sebagai Bupati Bireuen periode 2002–2007, menilai minimnya bantuan di Rimba Sawang menjadi bukti masih lemahnya jangkauan penanganan bencana ke wilayah terpencil.
“Di sini terlihat jelas kurangnya perhatian, baik dari pemerintah maupun lembaga sosial dan donatur lainnya,” ujarnya.
Awang Idris yang datang bersama Abdul Latif dan Farhan berjanji akan kembali ke Aceh setelah kembali ke Brunei Darussalam. Ia menyatakan komitmennya untuk menggalang bantuan yang lebih besar bagi warga Aceh yang terdampak banjir dan longsor.
“Kami tidak akan berhenti di sini. Insyaallah kami akan kembali membawa lebih banyak bantuan,” ucap Awang Idris, seperti disampaikan Mustafa Glanggang. (Suryadi)









