KABAR BIREUEN, Jangka — Di tengah akses terputus dan medan yang ekstrem, mantan Bupati Bireuen, Drs H Mustafa A Glanggang, menunjukkan kepeduliannya dengan menempuh jalur sulit demi mengantarkan langsung bantuan kepada korban banjir bandang di kawasan pesisir Kecamatan Jangka, Kabupaten Bireuen, Senin (8/12/2025).
Bahkan, kendaraan pengangkut bantuan harus melintasi jembatan darurat dari batang pohon kelapa agar bisa mencapai lokasi pengungsian.
Mustafa bersama tim relawan berhasil masuk ke Gampong Kuala Ceurape dan Alue Kuta, untuk menyalurkan bantuan bahan makanan pokok hasil donasi para dermawan yang dikumpulkan melalui Posko Relawan Mustafa di Hotel Graha Buana, Bireuen.
“Alhamdulillah, hari ini kami berhasil masuk ke Kuala Ceurape dan Alue Kuta untuk menyerahkan langsung bantuan kepada saudara-saudara kita yang sedang ditimpa musibah,” ujar Mustafa kepada wartawan usai mengantar bantuan tersebut.
Dia menjelaskan, bantuan yang disalurkannya itu meliputi sembako, pakaian layak pakai, roti, biskuit untuk anak-anak, serta pembalut wanita. Bantuan tersebut berasal dari sumbangan rekan-rekannya serta para pengusaha di luar Aceh yang tersentuh oleh kondisi korban banjir di Bireuen.
Perjalanan menuju lokasi pengungsian, menurut Mustafa, bukanlah perkara mudah. Pickup pengangkut bantuan harus melewati jembatan darurat dari batang pohon kelapa di Dusun Pasi, Kuala Ceurape, akibat putusnya akses jalan pascabanjir bandang yang terjadi pada 26 November lalu.

“Medannya sangat sulit, tapi kami bersyukur kendaraan pembawa bantuan bisa melewatinya dengan hati-hati,” ungkapnya.
Meski demikian, Mustafa mengakui, bantuan yang diberikan masih jauh dari mencukupi dibandingkan kebutuhan para korban, khususnya mereka yang masih bertahan di barak pengungsian setelah kehilangan tempat tinggal akibat terjangan banjir bandang.
Ketua Umum PSSB Bireuen itu mengaku, miris mendengar pengakuan para pengungsi yang menyebutkan hingga kini belum ada pejabat yang berkunjung langsung ke lokasi mereka.
“Kami sangat sedih melihat kondisi para korban yang masih mengungsi. Kehidupan mereka benar-benar memprihatinkan karena rumah-rumah hancur. Mereka kini bertahan di barak pengungsian di Balai Dusun Pasi dan di dayah,” jelasnya.
Saat ini, lanjut Mustafa, kebutuhan paling mendesak bagi para pengungsi adalah beras untuk kebutuhan pokok sehari-hari. Makanan mereka sebagian besar dimasak di dapur umum yang didirikan secara swadaya untuk membantu warga terdampak banjir.
“Beras menjadi kebutuhan yang sangat mendesak untuk kelangsungan hidup mereka di pengungsian,” demikian disampaikan Mustafa A Glanggang. (Suryadi)








