KABAR BIREUEN– Dua waduk di Kecamatan Peudada, Kabupaten Bireuen yaitu Waduk Paya Laoet dan Paya Sikameh mengalami kekeringan dan itu sudah terjadi setiap musimnya.
Padahal, ada ratusan hektar sawah di sejumlah desa yang mencakup Pulo Ara, Alue Sijeuk, Paya Rangkuluh serta Tanjong selamat yang membutuhkan air untuk kebutuhan sawahnya.
Akibatnya, petani di kawasan tersebut, bertani dengan mengandalkan air hujan atau sistem sawah tadah hujan.
Ironisnya, justru saat musim hujan, air dari kedua waduk malah meluap membanjiri permukiman warga, ini dikarenakan waduk tersebut makin dangkal.
Hal itu diungkapkan warga Gampong Alue Sijeuk, Tarmizi kepada wartawan, Sabtu (16/2/2019) sore, yang mempertanyakan kondisi tersebut sudah terjadi selama bertahun-tahun.
“Apakah ini terjadi akibat tidak adanya manajemen pembangunan yang baik dari pemerintah di bidang pengàiran, atau memang ada indikasi-indikasi lain. Karena sampai sekarang petani selalu mengandalkan sawah tadah hujan,” ungkapnya.
Dikatakan Tarmizi, sawah tadah hujan yang mencakup 26 gampong di kecamatan Peudada tersebut diperkirakan mencapai 1.200 hektar lebih. Karena itu, dia sangat berharap perhatian pemerintah dengan mencarikan solusi mengatasi hal tersebut.
“Pemerintah Aceh harus mencari solusi dan membantu petani tadah hujan di Kecamatan Peudada agar tak gagal panen terus menerus,” harapnya. (Ihkwati)











