Kamis, 21 Mei 2026

Pelatihan Ekonomi Hijau, HMI MPO Bireuen Dorong Pemulihan Ekosistem Pascabencana

KABAR BIREUEN, Bireuen— Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) MPO Cabang Bireuen menggelar Pelatihan Ekonomi Hijau dan Pemulihan Ekosistem bertema “Strategi Rehabilitasi Lahan Basah Pascabencana bagi Masyarakat Kabupaten Bireuen” di Aula Lama Setdakab Bireuen, Kamis, 21 Mei 2026.

Kegiatan itu menjadi ruang diskusi antara akademisi, pemerintah daerah, aktivis lingkungan, dan masyarakat untuk membahas dampak kerusakan lingkungan pascabanjir besar yang melanda Kabupaten Bireuen waktu lalu.

Pelatihan tersebut didukung program Indonesia’s FOLU Net Sink 2030 dan Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH) dalam program layanan dana masyarakat periode ke empat.

Sekitar 100 peserta dari unsur mahasiswa, perangkat desa, komunitas lingkungan, dan masyarakat umum hadir dalam kegiatan itu.

Ketua Pelaksana kegiatan, M. Yaziz, mengatakan pelatihan itu lahir dari keresahan terhadap kondisi lingkungan dan ekonomi masyarakat yang terdampak bencana.

“Bencana ini tidak hanya berdampak pada manusia, tetapi juga menyebabkan rusaknya lahan basah, ekosistem, dan menurunnya ekonomi masyarakat,” kata Yaziz.

Menurut dia, pemulihan pascabanjir tidak cukup hanya melalui bantuan darurat, melainkan juga membutuhkan upaya jangka panjang berbasis pemulihan lingkungan dan pemberdayaan masyarakat serta memperhatikan keberlanjutan lingkungan.

Ketua Umum HMI MPO Cabang Bireuen, Fakhrurrazi, menilai kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat sipil penting dilakukan untuk menjaga lingkungan hidup di Kabupaten Bireuen.

“Kita memahami bagaimana kondisi daerah kita saat ini setelah bencana. Karena itu kegiatan ini menjadi bagian dari upaya bersama memulihkan lingkungan dan ekonomi masyarakat,” ujarnya.

Kegiatan dibuka Asisten III Setdakab Bireuen oleh Zamzami, S.Pd., M.M.,  mewakili Pemerintah Kabupaten Bireuen.

Dalam sambutannya, ia mengatakan banjir sebelumnya telah menjadi pelajaran penting tentang rapuhnya kondisi lingkungan di Aceh.

“Kita belajar dari banjir kemarin. Banyak lahan sawah, perkebunan, dan lahan basah rusak dalam waktu singkat. Kerusakan lingkungan ini harus dipulihkan bersama-sama,” katanya.

Ia juga mengapresiasi keterlibatan anak muda dalam menginisiasi kegiatan lingkungan di tengah kondisi masyarakat yang masih berupaya bangkit dari dampak bencana dan tekanan ekonomi.

Foto bersama panitia dengan peserta Pelatihan Ekonomi Hijau dan Pemulihan Ekosistem bertema “Strategi Rehabilitasi Lahan Basah Pascabencana bagi Masyarakat Kabupaten Bireuen” di Aula Lama Setdakab Bireuen, Kamis, (21/5/2026). (Foto: Dok.HMI MPO Bireuen)

Dalam sesi materi, akademisi Dr. Ir. Cut Azizah, ST., MT., menjelaskan konsep ekonomi hijau sebagai aktivitas ekonomi yang tetap menjaga keseimbangan lingkungan dan mengurangi risiko bencana.

Ia menilai Kabupaten Bireuen memiliki potensi besar untuk pengembangan ekonomi hijau berbasis lahan basah.

“Bireuen memiliki potensi pengembangan eco park, ekowisata lahan basah, jasa lingkungan, hingga pertanian ramah lingkungan berbasis agroforestri,” sebutnya.

Cut Azizah juga menyoroti pentingnya menjaga kawasan hulu sungai untuk mengurangi risiko banjir di wilayah hilir. Menurut dia, kerusakan hutan di kawasan hulu menjadi salah satu faktor yang memperparah banjir di Bireuen.

“Longsor terjadi di Aceh Tengah, tetapi dampaknya besar dirasakan di hilir seperti Bireuen. Karena itu hutan di bantaran sungai harus dipertahankan untuk menangkap curah hujan,” katanya.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Aceh Wetland Forum (AWF), Yusmadi Yusuf, menyebut bencana ekologis yang terjadi tidak bisa dilepaskan dari persoalan alih fungsi lahan dan lemahnya pengawasan lingkungan.

“Kami menemukan banyak penebangan liar, alih fungsi lahan, dan izin tambang ilegal yang berdampak fatal terhadap lingkungan,” katanya.

Menurut Yusmadi, persoalan lingkungan bukan hanya soal menanam pohon, tetapi juga menyangkut penegakan hukum dan pengawasan tata ruang.

Dalam sesi diskusi, peserta juga menyoroti persoalan revisi RTRW, alih fungsi lahan sawah, hingga ancaman terhadap kawasan rawa dan hutan di Aceh.

Sejumlah peserta meminta pemerintah lebih terbuka dalam penyusunan kebijakan tata ruang yang berdampak terhadap lingkungan hidup masyarakat.

Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutana (DLHK) Bireuen, Safrizal, mengatakan pemerintah daerah membutuhkan kolaborasi masyarakat dalam pengelolaan lingkungan hidup, termasuk pengurangan sampah dan penguatan program lingkungan di tingkat desa.

“Kita harus menjaga lingkungan hidup dimulai dari diri sendiri, termasuk meminimalisir sampah dan memperkuat kerja sama antara masyarakat dan pemerintah,” kata Safrizal.

Selain sesi materi dan diskusi panel, kegiatan itu juga diharapkan melahirkan rekomendasi bersama terkait rehabilitasi lahan basah dan strategi pemulihan ekonomi masyarakat berbasis lingkungan di Kabupaten Bireuen. (Ihkwati)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

BACA JUGA

KABAR TERBARU

Pemkab Bireuen Salurkan Bantuan Masa Panik untuk Korban Terbakar Rumah dan Angin Kencang

0
KABAR BIREUEN, Bireuen - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bireuen melalui Dinas Sosial setempat bergerak cepat menyalurkan bantuan masa panik kepada warga terdampak musibah korban rumah...

Buka FLS3N SMP, Kadisdikbud Bireuen: Jadikan Ajang Ini Panggung yang Sportif

0
KABAR BIREUEN, Bireuen- Guna membentuk dan memperkuat karakter peserta didik melalui pengembangan potensi, bakat, serta kreativitas siswa di bidang seni dan sastra, Dinas Pendidikan dan...

Pemerintah Aceh Perkuat Layanan Dasar Pascabencana, Daerah Diminta Benahi Data SPM

0
KABAR BIREUEN, Lhokseumawe - Pemerintah Aceh memperkuat upaya pemenuhan layanan dasar bagi masyarakat terdampak bencana hidrometeorologi dengan menggelar Lokakarya dan Bimbingan Teknis Pendataan dan...

Bank Aceh Syariah Gandeng PosSaku : Kolaborasi Digital yang Siap Naikkan Level UMKM Aceh

0
KABAR BIREUEN, Banda Aceh - Transformasi digital UMKM di Aceh kembali mendapat dorongan baru. PT Bank Aceh Syariah(BAS)  resmi menjalin kerja sama strategis dengan...

Sekda Aceh Apresiasi Universitas Almuslim, Tegaskan Mahasiswa Berorganisasi Tetap Bisa Berprestasi

0
KABAR BIREUEN, Peusangan — Sekretaris Daerah (Sekda) Aceh, M. Nasir Syamaun, S.IP, MPA, menghadiri sekaligus memberikan apresiasi tinggi kepada Universitas Almuslim atas konsistensinya dalam...

KABAR POPULER

FLS3N SD Tingkat Kabupaten Bireuen Berakhir, Ini Juaranya

0
KABAR BIREUEN, Bireuen- Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) Jenjang Sekolah Dasar (SD) Tingkat Kabupaten Bireuen Tahun 2026, berakhir sukses FLS3N yang digelar...

Ilham Sakubat Tolak Berdamai dengan Anderson, Proses Hukum Tetap Berlanjut

0
KABAR BIREUEN, Bireuen - Kasus dugaan penghinaan dan pencemaran nama baik melalui media sosial (medsos) yang menjerat Zarkasyi alias Anderson terus bergulir di Polres...

Lima Jabatan Tinggi Pratama dan 15 Administrator di Pemkab Bireuen Kosong, Ini Penyebabnya

0
KABAR BIREUEN, Bireuen - Lima jabatan tinggi pratama (eselon II) dan 15 jabatan administrator (eselon III) di lingkungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bireuen saat ini...

Wakil Bupati Bireuen Buka Forum Konsultasi Publik Penyelenggaraan Perizinan dan Non Perizinan

0
KABAR BIREUEN, Bireuen-Pemerintah Kabupaten Bireuen melalui Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Bireuen, menggelar Forum Konsultasi Publik (FKP). Kegiatan dalam rangka penyelenggaraan...

Sekda Aceh Apresiasi Universitas Almuslim, Tegaskan Mahasiswa Berorganisasi Tetap Bisa Berprestasi

0
KABAR BIREUEN, Peusangan — Sekretaris Daerah (Sekda) Aceh, M. Nasir Syamaun, S.IP, MPA, menghadiri sekaligus memberikan apresiasi tinggi kepada Universitas Almuslim atas konsistensinya dalam...