KABAR BIREUEN – Aksi demo menolak Omnibus Law UU Cipta Kerja yang digelar koalisi mahasiswa Bireuen di depan gedung DPRK setempat, Kamis (8/10/2020) siang, hampir saja menimbulkan kericuhan.

Hal tersebut, setelah sebelumnya tidak tercapai kesepakatan antara pendemo dengan sejumlah anggota DPRK Bireuen yang menemui mereka di luar pagar, di ruas Jalan Laksamana Malahayati.

Para mahasiswa meminta, agar anggota dewan Bireuen yang menerima mereka jumlahnya minimal 50 persen plus 1, dari keseluruhan anggota DPRK Bireuen sebanyak 40 orang. Sedangkan yang menemui pendemo saat itu sekitar tujuh orang, termasuk salah satunya Ketua DPRK Bireuen, Rusyidi Mukhtar, S.Sos. Sementara yang lainnya, tidak berada di kantor.

Karena jumlah anggota dewan tidak mencukupi sesuai permintaan, mahasiswa tidak mau menerima mereka untuk menyampaikan sejumlah tuntutan terkait penolakan UU Cipta Kerja tersebut. Negosiasi saat itu gagal. Para anggota dewan pun balik arah dan kembali masuk ke halaman gedung DPRK Bireuen.

Tidak ingin hanya berorasi di luar, kemudian para pendemo merapatkan barisan dan berusaha menerobos pintu gerbang DPRK Bireuen yang dijaga ketat aparat kepolisian dan Satpol PP. Aksi aling dorong pun tak dapat dihindari.

Akibatnya, aparat keamanan yang jumlahnya tidak setara dengan pendemo, terdesak hingga ke pintu gerbang. Bahkan, seorang perwira polisi sempat terjatuh ke dalam parit dan terluka di bagian kepalanya.

Namun, keributan tersebut tidak sampai menimbulkan kericuhan. Aparat keamanan dan pendemo masih bisa menahan diri. Sehingga, situasi dapat dikendalikan dan normal kembali. Apalagi setelah Kapolres Bireuen, AKBP Taufik Hidayat, SH, SIK, M.Si, turun tangan dan berusaha menenangkan para mahasiswa.

Sebelumnya, juga ada kejadian yang hampir juga memicu kericuhan. Masalahnya, saat itu mobil patroli dan pengawalan (patwal) polisi yang datang dari arah selatan, berusaha mererobos kerumunan pendemo. Aksi tersebut hampir saja menyerempet para pendemo.

Agar tidak menimbulkan korban, pendemo ramai-ramai menahan laju mobil tersebut. Spontan saja mereka berteriak keras-keras dan meminta mobil voorijder itu mundur.

Untung saja pengemudi mobil tersebut tidak lagi memaksakan diri melajukan kendaraannya. Dia memilih memundurkan mobil dan menjauh dari kerumunan massa. (Suryadi)