KABAR BIREUEN – Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Kabupaten Bireuen Athaillah M. Saleh, MA mengatakan, ada kekuatan politik besar yang sengaja ingin menghancurkan partai yang berazaskan Islam dan berlambang Ka’bah, agar tidak dapat menjadi kontestan Pemilu 2019.
“Kami tidak akan pernah menyerah dari kondisi apapun, meskipun beberapa waktu PPP menjadi bulan-bulanan kekuatan besar, yang kita tidak tahu siapa mereka. Akan tetapi Allah membuktikan yang benar tetap benar, salah tetap salah. Alhamdulillah PPP masih selamat dan bisa menjadi peserta Pemilu 2019,” ujar Athaillah M. Saleh dalam pidatonya pada acara Pelantikan Pengurus Harian DPC PPP Kabupaten Bireuen di AAC Ampon Chiek Peusangan Universitas Almuslim, Minggu (6/5/2018).
Menurutnya, ada target politik dari pihak-pihak yang tidak senang terhadap partai berazas Islam dan berlambang Ka’bah. Hasil muzakarah para alim ulama, PPP harus bangkit dan berkembang di bumi persada.
“Demikian juga dengan konflik internal di PPP, bukan ide dari Pengurus PPP, namun sengaja dikembangkan dan dipolitisir oleh orang-orang yang ingin menghancurkan dan melenyapkan PPP di negara ini, karena banyak ulama terkemuka di negeri ini masih bersama partai ini,” tambah politisi yang menjabat Wakil Ketua DPRK Bireuen ini.
Di hadapan sekitar seribuan kader PPP, Athaillah mengisahkan bagaimana kejayaan partai berlambang Ka’bah tersebut tahun 1999. Saat itu pada awal berdirinya Kabupaten Bireuen, PPP sempat menguasai lembaga legislatif dan eksekutif.
“Tahun 1999 PPP pernah berjaya di Kabupaten Bireuen. Pimpinan DPRK Bireuen pertama dari PPP dan Bupati Bireuen pertama juga dari PPP. Saya merasa tertantang untuk mengembalikan kejayaan itu. Apakah saudara-saudara siap…?” tanya Athaillah kepada kader PPP yang memenuhi ruangan AAC Ampon Chiek Peusangan, dan disambut jawaban, “siappp”.
Selanjutnya, target untuk Pemilu Legislatif 2019, Ketua DPC PPP Kabupaten Bireuen ini menyebutkan 6 kursi untuk DPRK, yaitu 1 kursi setiap daerah pemilihan (dapil). Namun langsung diprotes oleh seorang kader partai yang hadir.
“Dapil 2 (Kecamatan Peusangan, Jangka, Peusangan Selatan dan Peusangan Siblah Krueng) harus dapat 2 kursi,” sebut H. M. Nur Ismail, mantan Anggota DPRK Bireuen dari PPP yang disambut aplaus kader partai.
Pada kesempatan sama, Pengurus DPP PPP, sebagai Koordinator Wilayah Aceh dan Sumatera Utara, Drs. H. Anwar Idris juga berharap kepada pemegang tongkat estafet pimpinan PPP Kabupaten Bireuen, agar dapat mengembalikan kejayaan PPP.
“Kalau tadi saudara Athaillah menargetkan 6 kursi untuk DPRK, namun saya minta ditambah 3 lagi, agar menjadi 9 kursi. Karena PPP di Bireuen pernah meraih 9 kursi di DPRK dan ketua dewannya saat itu almarhum H. Asyek H. Yusuf dari PPP,” sebutnya.
Meunurut politisi senior yang sekarang menjadi anggota Komisi X DPR-RI ini, setelah reformasi PPP pernah berjaya, baik di pusat maupun di daerah.
“Wakil Presiden pernah dijabat oleh kader PPP. Ketua DPR Aceh pernah dijabat oleh kader PPP. Di Bireuen Ketua DPRK dan Bupati juga pernah dijabat oleh kader PPP,” imbuhnya.
Pada Pemilu 2009, PPP pernah mengalami masa surut. Hanya memperoleh dua kursi untuk DPRK Bireuen, karena pada masa itu didominasi oleh Partai Aceh (partai lokal).
Pengurus Harian DPC PPP Kabupaten Bireuen tersebut dilantik oleh Ketua DPW PPP Aceh, Tgk. H. Amri M. Ali, dihadiri anggota DPR-RI Fraksi PPP Drs. H. Anwar Idris, Fakhrurrazi T. Cut, anggota DPR Aceh Fraksi PPP, Dr. Zainuddin Iba (PPP Aceh Utara), Rektor Umuslim, Dr. H. Amiruddin Idris, SE., M.Si.
Selain itu, Ketua DPRK Bireuen, Ridwan Muhammad, SE., M.Si, Ketua DPD PAN Kabupaten Bireuen, Drs. H. Ridwan Khalid, Camat Peusangan, Kapolsek Peusangan dan para Anggota DPRK Bireuen dari PPP.
Sedangkan unsur Pemerintah Kabupaten Bireuen, baik Bupati maupun yang mewakilinya, tidak hadir. Hal ini sempat dipertanyakan Anwar Idris dalam sambutannya.
“Seharusnya, bupati hadir jika diundang ke acara partai, karena aturan Undang-undang, bupati adalah pembina partai di daerah,” protes Anwar Idris di penghujung sambutannya. (Rizanur)










