KABAR BIREUEN – Dalam aksi demo susulan terkait UU Cipta Kerja yang digelar ratusan mahasiswa di halaman gedung DPRK Bireuen, Senin (12/10/2020), berhasil disepakati penolakan terhadap Omnibus Law kontroversial tersebut.

Nota kesepahaman bersama itu ditandatangani Yogaswara Riyadi (Korlap Aksi Demo Mahasiswa), Dr. H. Muzakkar A. Gani, SH., M.Si (Bupati Bireuen), Rusyidi Mukhtar, S.Sos (Ketua DPRK Bireuen). Penandatanganan petisi tersebut disaksikan Kapolres Bireuen, AKBP Taufik Hidayat, SH., SIK., M.Si.

Adapun isi empat petisi tersebut: Pertama, menolak pengesahan Omnimbus Law Cipta Kerja. Kedua, mendesak presiden untuk menerbitkan Perpu. Ketiga, mengecam pihak-pihak yang menyetujui Omnimbus Law. Keempat, menolak penyerderhanaan regulasi terkait perizinan AMDAL dan aturan pertambangan yang mengancam kelestarian SDA jangka panjang serta mendesak untuk melaksanakan reformasi agraria sejati.

Selain itu, Yogaswara Riyadi selaku Korlap Aksi Demo Mahasiswa, juga meminta kepada Kapolres Bireuen untuk memproses salah seorang oknum polisi yang diduga bertindak kasar terhadap mahasiswa dalam aksi demo tersebut.

“Kami minta kepada Bapak Kapolres untuk memproses sesuai aturan yang terlaku, atas tindakan salah seorang anggota polisi yang menendang mahasiswa. Bukti rekaman videonya ada sama kami,” pinta Yogaswara.

Menanggapi hal tersebut, Kapolres Bireuen, AKBP Taufik Hidayat, dalam sambutannya berjanji, akan memproses anggotanya yang diduga bertindak di luar prosedur pengamanan.

“Itu biar kami tangani sesuai aturan yang berlaku. Terima kasih kepada adik-adik mahasiswa yang telah menyampaikan aspirasinya. Sekarang sudah dapat kembali ke tempat masing-masing dengan tertib,” harap Taufik Hidayat.

Sementara Bupati Bireuen, Muzakkar A Gani, juga mengucapkan terima kasih kepada mahasiswa atas aksi demo hari ini yang bersamaan dengan HUT ke-21 Kabupaten Bireuen. Aspirasi ini, kata dia, akan disampaikan ke pihak terkait, agar nanti dapat diproses sesuai ketentuan yang berlaku.

“Saya sebagai orang tua di sini, mengucapkan terima kasih kepada anak-anak saya mahasiswa yang telah menyampaikan aspirasi ini dengan cukup tenang, tanpa ditunggangi oleh siapapun. Alhamdulillah, atas kerjasama dengan Bapak Kapolres, Dandim, Danyonif dan pihak lainnya, aksi ini dapat terlaksana dengan baik dan aman,” ujar Muzakkar.

Setelah itu, para mahasiswa pun membubarkan diri dengan tertib sekira pukul 12.30 WIB.

Sebelumnya, memang sempat terjadi keributan antara pendemo dengan aparat keamanan. Hal tersebut terjadi, saat para mahasiswa berusaha menerobos berikade aparat, agar bisa masuk ke halaman kantor DPRK Bireuen. Itu setelah mahasiswa tak sabar lagi menanti anggota dewan yang tidak lekas menemui mereka.

Saat mahasiswa ramai-ramai menyerbu masuk, aparat keamanan berusaha menghalanginya. Keributan pun pecah. Apalagi, ada sejumlah pendemo dari luar pagar, melempar botol air mineral ke dalam barisan aparat keamanan.

Dalam suasana tidak terkendali itulah, diduga terjadi tindakan tidak sepatutnya terhadap mahasiswa. Namun, kejadian tersebut tidak sampai memicu kerusuhan. Sebab, mahasiswa tidak lagi memaksakan diri masuk dan mundur secara teratur.

Unjuk rasa tersebut, sebagai aksi lanjutan terkait penolakan terhadap Omnibus Law Cipta Kerja. Setelah dalam aksi demo sebelumnya di tempat yang sama, Kamis (8/10/2020), tidak tercapai kesepakatan antara pihak mahasiswa dengan DPRK Bireuen. (Suryadi)