KABAR BIREUEN-  Kegiatan Bireuen Lawyers Club (BLC) perdana yang digelar Sekolah Pemimpin Muda Aceh (SPMA), Sabtu malam (14/9/2019) di Aula lama Setdakab Bireuen berlangsung sukses.

Acara yang baru pertama digelar tersebut kali ini mengangkat tema “Bireuen dari Masa ke Masa” menghadirkan tokoh pendiri Bireuen H Sofian Ali, Bupati Bireuen periode 2007-2012, Drs  Nurdin Abdul Rahman, tokoh nasional, anggota DPD RI Fachrul Razi MIP, Tokoh Bireuen di Sumatera Utara, Mahyani Muhammad, Tgk Saifuddin, tokoh agama dan parktisi hukum  Dr.T. Rasyidin SH MH.

Selain itu , dalam acara yang dimoderatori Rahmat Asri Sufa, juga ada aktivis anti korupsi, Murni M Nasir, tokoh muda Bireuen lainnya, Suhaimi Hamid, Yufaidir, serta Agusni SP, M.Si.

Ada juga praktisi hukum, Muhammad Ari Syahputra SH, aktivis lingkungan hidup, Muhammad Nasir atau Nasir Buloh dan dari ormas keagamaan, Syech Khalil.

Ketua SPMA Bireuen, Yusri, S.Sos menyebutkan, kegiatan itu digelar demi kemajuan Kabupaten Bireuen di masa mendatang.

“Bireuen Lawyers Club  Insya Allah akan dilaksanakan satu bulan sekali, dengan tema yang berbeda-beda,” katanya.

Menurut Yusri, BLC ini berpotensi besar menjadi ruang diskusi untuk masyarakat Bireuen, tanpa harus membedakan latar belakang dan profesi.

Sementara itu, Ketua Panitia, Akhyar Rizki menyampaikan, kegiatan yang digagas para pemuda ini merupakan bentuk dari tanggung jawab pemuda untuk bersama membangun Bireuen menjadi lebih baik.

Dia mengutip pernyataan Ir Soekarno yang mengatakan beri aku 10 pemuda maka akan kuguncang dunia.

Pada kesempatan itu, Fachrul Razi juga memberikan sambutannya, yang mendukung penuh dan mengapresiasi kegaitan BLC yang digelar anak-anak muda yang tergabung dalam SPMA.

“Kita apresiasi kegiatan ini, membuka ruang diskusi untuk mencari solusi dan permasalahan yang ada di Bireuen. Kita harapkan kegiatan ini terus berlanjut dan memberikan kontribusi untuk kemajuan Bireuen,” harapnya.

Pelaksanaan BLC perdana tersebut secara umum memang berlangsung sukses, apa yang dilakukan pemuda Bireuen sudah bagus dan tujuannya bagus.

Pun begitu banyak tanggapan baik yang mendukung serta mengkritisi gelaran BLC tersebut.

Ada yang menilai tema yang diangkat pada BLC perdana ini, “Bireuen dari masa ke masa” terlalu luas, sehingga tak fokus pada satu masalah saja.

“Semua yang hadir sebagai pembicara memberikan saran serta masukan dan pandangannnya menurut masing-masing bidang yang dikuasai, sehingga tak fokus akibatnya tak ada solusi yang ditawarkan. Diskusinya juga kurang menggigit atau “kurang panas,” sebut salah seorang anggota OKP.

Kritikan lainnya juga disampaikan salah seorang undangan dari ormas yang menyebutkan, kalau diskusinya tak fokus, maka solusinya juga tak ada untuk memecahkan persoalan-persoalan tersebut.

Apalagi sepertinya tak hadir perwakilan pemerintah untuk mendengarkan saran dan masukan dari pembicara.

“Memang lain kali harus hadir perwakilan pemerintah, biar mereka mendengar masalah dan  ada solusi yang ditawarkan untuk mengatasi masalah tersebut,” katanya. (Ihkwati)

 

 

 

BAGIKAN