KABAR BIREUEN – Anggota Komisi VII DPR-RI Fraksi PPP, Drs H. Anwar Idris berharap pengambil alihan pengelolaan tambang minyak dan gas bumi Blok B oleh Pemerintah Aceh harus mampu dimanfaatkan untuk kemakmuran rakyat dan menekan angka kemiskinan di Aceh.

Hal itu disampaikan anggota DPR-RI Fraksi PPP Dapil Aceh-2, Drs H. Anwar Idris dalam rilis yang diterima Kabar Bireuen, Sabtu (20/6/2020).

Dalam hal ini, Anwar Idris sangat mengapresiasi Pemerintah Aceh yang mengambil alih pengelolaan minyak dan gas bumi Blok B di Aceh Utara melalui salah satu BUMD-nya, PT. Pembangunan Aceh (PEMA).

Dikatakannya, pengambil alihan pengelolaan tambang migas Blok B diharapkan mampu berkontribusi mempercepat pembangunan dan mengurangi kemisikinan di Provinsi Aceh.

“Saya sebagai anggota Komisi VII DPR RI yang berasal Aceh yang membidangi Energi dan Sumber Daya Mineral, sejak semula memang selalu menyuarakan agar Pemprov Aceh harus bisa kelola Sumber Daya Alam (SDA) Minyak dan Gas secara mandiri,” sebut Anwar Idris.

Kata politikus senior yang pernah menjadi Wakil Ketua DPRK Bireuen, sebagai wakil rakyat Aceh di Senayan, dirinya terus meyakinkan Pemerintah pusat, bahwa Pemerintah Aceh sudah sangat siap untuk mengelola Blok B Migas Aceh Utara dan maupun di tempat lainnya di perairan dan daratan Aceh.

Kesempatan dan kepercayaan ini, tulis Anwar Idris lagi, tentu harus dimanfaatkan sebaik mungkin untuk kepentingan masyarakat. Sebab itu segala potensi sumber daya minyak dan gas yang ada harus dapat dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kemakmuran masyarakat Aceh.

“Seperti yang kita tahu bahwa sebelumnya, pengelolaan tambang minyak dan gas Blok B dikelola oleh Mobil Oil Indonesia namun setelah kontrak berakhir sejak 3 Oktober 2018 silam, pengelolaannya dikelola oleh PT Pertamina Hulu Energi (PHE) yaitu perusahaan BUMN, hingga akhirnya sekarang dikelola oleh BUMD milik Pemprov Aceh sendiri,” urai mantan anggota DPR Aceh periode 2009-2014.

Kemudian, sebutnya dalam rilis itu, perjuangan Pemprov Aceh selama dua tahun terakhir tidak sia-sia untuk dapat mengelola sendiri tambang tersebut.

“Sebab itu kami apresiasi penuh atas keberhasilan tersebut. Semoga ini dapat memberikan dampak yang lebih baik terhadap pembangunan Aceh kedepan,” sebut politikus yang sudah dua periode duduk di DPR RI.

Terakhir, Anwar Idris menjelaskan, meskipun saat ini tidak lagi menjadi blok terbesar dan hasilnya pun tidak lagi melimpah seperti produksi pertamanya yang mencapai 3.400 MMSCFD (Million Standard Cubic Feet per Day atau Juta Standar Kaki Kubik per Hari).

Namun masih ada lapangan – lapangan atau ladang – ladang minyak lainnya yang masih bisa dikembangkan di samping yang existing sekarang.

“Sehingga nantinya dapat digunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat Aceh,” tutupnya.(Rizanur)

BAGIKAN