
Oleh: Ismatur Rahmi
Ketua HMPH UNIKI
DI TENGAH derasnya perkembangan teknologi dan budaya global, generasi muda menghadapi tantangan besar dalam mempertahankan identitas budaya daerah. Kehadiran media sosial, permainan digital, serta berbagai bentuk hiburan modern memang memberikan banyak manfaat, tetapi di sisi lain perlahan dapat membuat generasi muda semakin jauh dari permainan, tradisi, dan peninggalan budaya yang tumbuh di lingkungan mereka sendiri.
Padahal, peninggalan tradisional bukan sekadar sesuatu yang berasal dari masa lalu. Di dalamnya terdapat nilai sejarah, kebersamaan, kreativitas, pendidikan, serta identitas masyarakat. Karena itu, mengenali dan melestarikannya bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah atau para tokoh adat, tetapi juga menjadi tanggung jawab generasi muda.
Generasi muda memiliki posisi yang sangat strategis dalam menjaga keberlanjutan budaya. Mereka bukan hanya sebagai penerus, tetapi juga sebagai penggerak yang dapat memperkenalkan kembali budaya tradisional dengan cara yang lebih kreatif dan sesuai dengan perkembangan zaman.
Hal tersebut menjadi salah satu alasan Himpunan Mahasiswa Program Hukum (HMPH) Universitas Islam Kebangsaan Indonesia (UNIKI) bersama tim menyelenggarakan Festival Permainan Tradisional di Desa Balee Panah, Kecamatan Juli, Kabupaten Bireuen, beberapa waktu lalu. Kegiatan ini menjadi ruang bagi masyarakat, khususnya anak-anak dan generasi muda, untuk kembali mengenal berbagai permainan tradisional yang mulai jarang dimainkan.
Festival tersebut bukan hanya menghadirkan permainan sebagai bentuk hiburan. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi upaya untuk memperkenalkan kembali nilai-nilai yang terkandung dalam permainan tradisional. Permainan seperti terompah panjang, layang-layang, dan berbagai permainan tradisional lainnya mengajarkan kerja sama, sportivitas, keberanian, kreativitas, serta interaksi sosial.
Sebagai Ketua HMPH sekaligus Ketua Panitia, saya bersama tim melihat bahwa pelestarian budaya tidak harus selalu dilakukan melalui kegiatan yang besar dan formal. Hal sederhana seperti mengajak anak-anak bermain permainan tradisional dapat menjadi langkah awal untuk menumbuhkan rasa memiliki terhadap budaya sendiri.
Keberhasilan Festival Permainan Tradisional di Balee Panah juga menunjukkan bahwa ketika mahasiswa dan generasi muda mau turun langsung ke tengah masyarakat, mereka dapat menjadi jembatan antara tradisi masa lalu dan kehidupan generasi sekarang. Mahasiswa tidak hanya berbicara mengenai perubahan, tetapi juga dapat menghadirkan perubahan melalui kegiatan nyata.
Menurut saya, keberhasilan kegiatan ini tidak semata-mata diukur dari ramainya acara atau antusiasme peserta. Keberhasilan yang lebih penting adalah ketika setelah kegiatan selesai, anak-anak kembali mengenal permainan yang sebelumnya mungkin tidak mereka ketahui. Mereka mendapatkan pengalaman bahwa bermain tidak selalu harus menggunakan gawai dan kebahagiaan juga dapat ditemukan melalui interaksi langsung dengan teman dan lingkungan sekitar.
Di sinilah pentingnya peran generasi muda. Mereka memiliki kemampuan untuk mengemas budaya tradisional menjadi sesuatu yang menarik tanpa menghilangkan nilai aslinya. Permainan tradisional dapat diperkenalkan melalui festival, perlombaan, konten media sosial, dokumentasi, hingga kegiatan edukasi di sekolah dan masyarakat.
Pelestarian budaya juga membutuhkan kolaborasi. Mahasiswa, pemerintah desa, masyarakat, pemuda, sekolah, serta komunitas budaya perlu berjalan bersama. Jika hanya satu pihak yang bergerak, keberlanjutan budaya akan sulit diwujudkan.
Festival Permainan Tradisional di Balee Panah menjadi sebuah contoh kecil bahwa pelestarian budaya dapat dimulai dari lingkungan terdekat. Apa yang dilakukan HMPH UNIKI dan tim mungkin terlihat sederhana, tetapi dari kegiatan sederhana itulah kesadaran budaya dapat tumbuh.
Generasi muda jangan sampai hanya menjadi penonton dari hilangnya budaya sendiri. Kita harus menjadi bagian dari orang-orang yang mengenal, menggunakan, memperkenalkan, dan menjaga warisan tersebut.
Sebab, ketika sebuah generasi tidak lagi mengenal budaya yang diwariskan oleh pendahulunya, maka yang hilang bukan hanya sebuah permainan atau tradisi, tetapi juga sebagian dari identitas dan sejarah masyarakat.
Karena itu, mengenali peninggalan tradisional adalah langkah pertama untuk mencintainya, dan mencintai budaya adalah langkah awal untuk melestarikannya.
Festival di Balee Panah telah menjadi bukti bahwa ketika generasi muda bergerak, tradisi yang hampir terlupakan dapat kembali hadir, dimainkan, dan dikenalkan kepada generasi berikutnya. [*]










