KABAR BIREUEN – Tidak seperti biasanya, puluhan anak–anak berkumpul pinggir lapangan sepak bola di Gampong (Desa) Lueng Daneun, Kecamatan Peusangan Siblah Krueng, Kabupaten Bireuen, Selasa (14/9/2021) siang.

Mereka datang ke sana bukan untuk bermain atau menonton pertandingan sepak bola. Namun, sejumlah bocah berusia berkisar 5 hingga 14 tahun itu, sedang belajar layaknya di sekolah.

Anak-anak pedalaman Kabupaten Bireuen ini, mendatangi Pustaka Gampong Meubaca milik pemerintah desa setempat yang letaknya berbatasan langsung dengan lapangan bola tersebut.

Hanya beralaskan tikar plastik yang digelar di bawah rindangnya pepohonan di belakang gedung perpustakaan tersebut, sejumlah anak-anak seusia TK yang berbusana muslim dan muslimah, terlihat tekun belajar menghitung. Mereka dipandu seorang perempuan muda. Secara bergiliran, anak-anak menuju papan tulis untuk menjumlahkan angka-angka yang diajarkan sang guru tadi.

Sementara sejumlah anak usia jenjang SD dan SLTP, mereka belajar dalam ruangan perpustakaan. Sebagian lainnya memanfaatkan lokasi parkir gedung perpustakaan. Tanpa meja dan kursi layaknya sebuah ruang belajar di sekolah.

Menurut Keuchik (Kepala Desa) Lueng Daneun, Taufiqurrahman, kalau yang belajar di luar ruangan ini adalah kelompok anak usia TK. Mereka ini belajar mewarnai, berhitung dan juga belajar membaca, serta mengikuti pendidikan agama.

Dia menjelaskan, perpustakaan dan proses belajar mengajar terhadap anak anak ini diinisiasi oleh pemuda-pemudi Gampong Lueng Daneun. Sebab, selama masa pandemi Covid-19, mereka melihat anak-anak sering belajar sendiri di rumah.

“Pemuda di sini berpikir, bagaimana caranya agar anak-anak harus tetap mendapat pengajaran yang memadai di masa pandemi ini,” terang Taufiqurrahman, saat meninjau proses belajar mengajar di perpustakaan tersebut.

Kegiatan yang telah berlangsung selama setahun lebih ini, ternyata telah memberikan dampak yang baik terhadap kecerdasan anak-anak di sana. Bukan hanya belajar tentang pengetahuan umum, namun mereka juga belajar ilmu agama.

“Alhamdulillah, kami juga mengajari anak-anak menghafal Al-Qur’an dan pelajaran agama lainnya,” sebut Taufiqurrahman.

Kendati peralatan untuk menunjang proses belajar mengajar di sana masih serba kekurangan, namun kegiatan mencerdaskan anak bangsa ini tetap berlangsung dua hari dalam sepekan, mulai pukul 14.00 hingga 17.00 WIB.

Menurut keuchik bertubuh gempal tersebut, proses belajar mengajar di perpustkaan Desa Lueng Daneun, dilaksanakan pada setiap hari Senin dan Selasa. Sedangkan 5 hari lainnya, anak anak juga mengikuti pengajian di masjid setempat.

“Bahkan, para guru juga tidak diberikan imbalan. Mereka bekerja secara sukarela. Para guru tamatan FKIP, bahkan ada juga yang kuliahnya jurusan Pendidikan Bahasa Inggris,” ungkap Taufiqurrahman.

Warga di sana, katanya, berharap dengan adanya Perpustakaan Gampong Meubaca ini, akan melahirkan generasi-generasi yang cerdas. Tidak hanya pintar ilmu pengetahuan umum, tapi mereka juga memahami ilmu agama dengan baik dan benar.

“Karenanya, untuk menunjang proses belajar mengajar di perpustkaan ini, sangat dibutuhkan dukungan dari instansi terkait, sehingga anak-anak dapat mengikuti pembelajaran dengan baik,” harap Keuchik Taufiqurrahman.

Pada kesempatan yang sama, Tenaga Ahli Program Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa (P3MD) Kabupaten Bireuen, Mukhlis Aminullah, antara lain mengatakan, untuk melengkapi kebutuhan buku di Pustaka Gampong Meubaca Desa Lueng Daneun tersebut, diharapkan adanya bantuan dari berbagai pihak.

“Beberapa waktu lalu kami menerima bantuan buku antara lain dari Prof. Nazaruddin Syamsuddin, dengan pemanfaatan dana desa, dan juga Peneribit Almahira Jakarta,” ujar Mukhlis Aminullah.

Tentu saja, niat baik dan upaya warga Lueng Daneun ini untuk mencerdaskan anak bangsa melalui Pustaka Gampong Meubaca, patut diapresiasi serta didukung semua pihak. (Suryadi)