KABAR BIREUEN, Kuala – Pemerintah melalui Badan Gizi Nasional (BGN) melontarkan wacana menjadikan kantin sekolah sebagai Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) program Makan Bergizi Gratis (MBG). Wacana tersebut menimbulkan keresahan bagi relawan dapur MBG.
Seperti diungkapkan relawan SPPG Lancok-Lancok, Kecamatan Kuala, Kabupaten Bireuen, Taufik yang didampingi rekannya, Bahagia kepada Kabar Bireuen, Minggu (13/9/2026).
“Bagaimana nasib kami relawan SPPG kalau benar-benar nanti MBG dikelola oleh kantin sekolah,” ungkap Taufik didampingi Bahagia yang tuna wicara.
Relawan SPPG di bawah Yayasan Babul Huda ini mengaku, kehadiran dapur MBG membawa berkah untuk dirinya serta keluarganya.
“Dulu kami kesulitan mencari pekerjaan tetap untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Hadirnya dapur MBG di tempat kami (Lancok-Lancok) membawa berkah untuk saya dan puluhan warga yang lain saat ini. Alhamdulillah untuk kebutuhan keluarga sekarang sudah terpenuhi,” ungkap Taufik.
“Mohon Pak Presiden dan Bapak Kepala BGN untuk mengkaji ulang menjadikan kantin sekolah sebagai fungsi dapur MBG,” sambungnya yang tampak menyimpan keresahannya.

Menurut Taufik, hadirnya dapur MBG tidak hanya membawa manfaat bagi relawan SPPG, tetapi petani sekitar juga ikut merasakan.
Menurut relawan itu, pihak SPPG sangat patuh terhadap aturan atau kebijakan BGN dalam program MBG. “Kami relawan saat bertugas harus mengikuti standar aturan yang ditetapkan, dan tidak dibenarkan melakukan pelanggaran. Waktu bekerja juga harus disiplin, sampai hal kecil sekalipun dijaga,” pungkas Taufik.
Catatan Kabar Bireuen, saat ini di Kabupaten Bireuen telah beroperasi 59 SPPG yang tersebar di 17 kecamatan. Setiap SPPG menampung 40 – 47 relawan (pekerja) untuk program MBG.
Jadi, sangat wajar timbulnya keresahan relawan SPPG jika benar Pemerintah mengalihkan pengelolaan MBG ke kantin sekolah. (Rizanur)











