KABAR BIREUEN, Peusangan — Perkembangan kecerdasan buatan (AI), big data, robotika, dan Internet of Things (IoT) menuntut perguruan tinggi mengubah cara mengelola pendidikan. Namun, di tengah derasnya transformasi teknologi, peran manusia dan guru tetap menjadi faktor utama.
Hal itu mengemuka dalam kuliah tamu internasional Program Magister Pascasarjana Universitas Almuslim (Umuslim) bersama INTI International University & College Malaysia yang digelar di Creative Center, Gedung Aula MA Jangka Umuslim, Sabtu (12/9/2026).
Kuliah tamu menghadirkan Dr. Wan Suraya Wan Nik dari INTI International University & College Malaysia sebagai pemateri dengan tema “Building Effective, Efficient, and Ethical Educational Governance Towards The Society 5.0 Era.”
Direktur Pascasarjana Umuslim, Prof. Dr. Halus Satriawan, M.Si., mengatakan kegiatan tersebut merupakan agenda rutin dalam menyambut tahun akademik baru sekaligus bagian dari implementasi kerja sama jangka panjang antara Umuslim dan INTI International University & College Malaysia.
Sekitar 60 persen mahasiswa Pascasarjana dari berbagai program studi mengikuti kegiatan tersebut. Acara turut dihadiri Rektor Umuslim, jajaran pimpinan universitas, direktur, serta ketua program studi di lingkungan Pascasarjana.
Rektor Universitas Almuslim, Dr. Marwan, M.Pd., saat membuka kegiatan mengapresiasi kehadiran Dr. Wan Suraya yang dinilai memberikan wawasan baru bagi mahasiswa dan civitas akademika.
“Manfaatkanlah sebaik mungkin forum ini, karena dari pemaparan materi kita bisa mendapatkan ilmu baru dan menjadi panduan dalam menghadapi era Society 5.0,” ujar Marwan.
Menurutnya, tata kelola pendidikan pada era Society 5.0 tidak cukup hanya mengadopsi teknologi. Perguruan tinggi harus mampu memastikan teknologi digunakan secara efektif, efisien, transparan, akuntabel, adaptif, dan tetap berorientasi pada manusia.
“Teknologi harus digunakan secara efektif untuk memperkuat tata kelola pendidikan, memperluas akses, dan membangun sumber daya manusia berkarakter unggul,” tegasnya.
AI Bukan Pengganti Guru
Dalam pemaparannya, Dr. Wan Suraya menjelaskan Society 5.0 sebagai konsep masyarakat yang berpusat pada manusia dengan memanfaatkan teknologi canggih seperti AI, big data, robotika, dan IoT dalam kehidupan sehari-hari.

Transformasi tersebut, kata dia, menuntut pendidikan tidak lagi sebatas menyampaikan pengetahuan, tetapi juga mengembangkan kemampuan manusia, seperti berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, serta kemampuan menggunakan teknologi secara bertanggung jawab.
Ia menilai tata kelola pendidikan yang sebelumnya cenderung birokratis perlu berubah menjadi tata kelola yang adaptif, berbasis data, kolaboratif, dan beretika.
“Teknologi, khususnya AI dan data, harus digunakan untuk mendukung pengambilan keputusan yang manusiawi,” ujarnya.
Ia mengingatkan sejumlah tantangan yang perlu menjadi perhatian, antara lain bias algoritma, privasi data, keamanan siber, hingga kesenjangan digital.
Menariknya, di tengah perkembangan AI dan otomatisasi, Dr. Wan Suraya menegaskan bahwa peran guru tetap tidak tergantikan. Guru justru dituntut terus meningkatkan kompetensi melalui pelatihan dan pengembangan profesional agar mampu memanfaatkan teknologi secara optimal.
Menurutnya, tata kelola pendidikan menuju Society 5.0 harus bertumpu pada tiga prinsip utama, yakni efektif, efisien, dan etis. Efektif berarti menghasilkan pembelajaran yang bermakna, efisien dalam mengoptimalkan sumber daya dan teknologi, sedangkan etis menjamin keadilan, transparansi, akuntabilitas, serta penghormatan terhadap martabat manusia.
“Teknologi bukan tujuan akhir. Masa depan pendidikan tidak ditentukan oleh seberapa banyak teknologi yang diadopsi, tetapi bagaimana kita mengelola penggunaannya secara bijak, etis, dan manusiawi,” tutupnya.
Rektor Umuslim menambahkan, kerja sama internasional dengan INTI International University & College Malaysia diharapkan tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi berkembang menjadi kolaborasi konkret untuk meningkatkan mutu pendidikan tinggi.
“Kolaborasi lintas disiplin, institusi, dan negara menjadi kunci dalam membangun ekosistem pendidikan yang inovatif dan berkelanjutan,” harap Marwan.
Kegiatan diawali dengan penampilan tari “Peumulia Jame” oleh anak-anak Sanggar Mirah Delima Umuslim. Kuliah tamu juga menjadi bagian dari penyambutan mahasiswa baru Pascasarjana Umuslim sekaligus ruang berbagi pengetahuan dan pengalaman dalam menghadapi tantangan pendidikan di era Society 5.0. (Red)











