KABAR BIREUEN – Setiap mendekati Hari Raya Idul Fitri, umat Islam yang mampu wajib membayar zakat fitrah (zakat jiwa).

Demikian disampaikan Tgk Idris Meunasah Gadong dalam tausiahnya di hadapan jamaah salat subuh Mesjid Agung Sultan Jeumpa, Minggu (2/5/2021).

Dikatakannya, sesuai namanya fitrah berarti suci. Tujuan mengeluarkan zakat fitrah untuk mensucikan diri, setelah melaksanakan ibadah di bulan Ramadhan.

Pengertian zakat juga sebagai bentuk kepedulian terhadap orang-orang yang kurang mampu merasa berbahagia di hari raya yang dapat dirasakan semuanya termasuk masyarakat miskin yang serba kekurangan.

Zakat dibagi dalam bentuk uang tunai maupun beras yang harus dilaksanakan sebelum batas akhir atau sebelum shalat Idul Fitri.

Menurut Tgk Idris, standar zakat fitrah sebamyak 2,5 kg beras, sesuai harga beras di daerah setempat. Zakat fitrah tak harus beras, tapi disesuaikan dengan makanan pokok masing-masing daerah.

Tgk Idris juga menyampaikan, waktu yang diperbolehkan membayar zakat fitrah dari awal Ramadhan sampai penghabisan Ramadhan, hukumnya boleh. Membayar zakat fitrah waktu terbenam matahari yang penghabisan, hukumnya wajib. Membayar zakat fitrah setelah shalat hari raya sebelum terbenam matahari, hukumnya makruh.

Dia mengutip Sabda Rasulullah SAW, “Barang siapa menunaikan zakat fitrah sesudah shalat hari raya, maka zakat fitrahnya sebagai sedekah. Sedangkan yang membayar zakat fitrah sesudah terbenam matahari pada Hari Raya Idul Fitri (1 Syawal), hukumnya haram, karena terlambat membayarnya”.

“Pada setiap Hari Raya Idul Fitri ummat Islam wajib membayar zakat. Fitrah tersebut untuk dibagikan kepada penerima, yaitu fakir, miskin, amil, muallaf, budak, charim, ibnu sabil dan fisabilillah,” jelas Tgk. Idris. (H. AR Djuli)