KABAR BIREUEN, Juli – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bireuen resmi menutup rangkaian Safari Ramadhan 1447 H yang telah berlangsung di 17 kecamatan sejak 23 Februari 2026.
Penutupannya yang dilaksanakan di Masjid Al-Hidayah, Desa Blang Ketumba, Kecamatan Juli, Kamis (5/3/2026) malam, menjadi momentum memperkuat persatuan dan solidaritas masyarakat setelah musibah banjir bandang dan tanah longsor yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Bireuen.
Sambutan Pemerintah Kabupaten Bireuen pada penutupan Safari Ramadhan Tim II tersebut disampaikan Asisten Pemerintahan dan Keistimewaan Aceh Setdakab Bireuen, Mulyadi, SH, MM, mewakili Wakil Bupati Bireuen, Ir. H. Razuardi, MT, yang berhalangan hadir.
Dalam sambutannya, Mulyadi menegaskan, Safari Ramadhan bukan sekadar agenda rutin pemerintah daerah, tetapi juga sarana mempererat silaturahmi antara pemerintah dan masyarakat, sekaligus memperkuat nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan sosial.
Menurutnya, pelaksanaan Safari Ramadhan tahun ini memiliki makna yang lebih mendalam karena berlangsung dalam suasana duka, setelah bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Bireuen beberapa waktu lalu.
“Kita semua merasakan bagaimana musibah banjir bandang dan tanah longsor yang terjadi beberapa waktu lalu, telah membawa ujian yang tidak ringan bagi masyarakat Bireuen. Banyak saudara-saudara kita yang terdampak, kehilangan harta benda, bahkan harus mengungsi untuk sementara waktu,” ujar Mulyadi.
Dia mengingatkan, dalam situasi seperti ini semangat kebersamaan, persatuan, dan kepedulian sosial, harus terus diperkuat. Pemerintah daerah mengajak seluruh elemen masyarakat untuk saling membantu dan menunjukkan empati terhadap warga yang sedang mengalami kesulitan.

“Musibah ini hendaknya menjadi pengingat bagi kita semua untuk terus memperkuat persatuan dan kepedulian sesama. Dengan kebersamaan dan rasa solidaritas yang tinggi, kita yakin berbagai kesulitan dapat kita lalui bersama,” katanya.
Mulyadi juga menambahkan, Safari Ramadhan menjadi wadah bagi pemerintah daerah untuk menyampaikan pesan-pesan pembangunan, sekaligus menyerap aspirasi masyarakat secara langsung di desa dan kecamatan.
Menurutnya, melalui kegiatan tersebut pemerintah dapat berinteraksi langsung dengan masyarakat, mendengarkan berbagai masukan, serta melihat kondisi sosial yang berkembang di lapangan.
“Safari Ramadhan ini menjadi momentum penting bagi pemerintah daerah untuk hadir lebih dekat dengan masyarakat. Selain memperkuat silaturahmi, kegiatan ini juga menjadi sarana untuk mendengar aspirasi masyarakat serta melihat langsung kondisi sosial yang dihadapi masyarakat,” jelasnya.
Dalam kesempatan itu, ia juga menegaskan, di tengah berbagai ujian yang dihadapi masyarakat, syiar Islam harus tetap ditegakkan dan menjadi landasan dalam kehidupan masyarakat Aceh, khususnya di Kabupaten Bireuen.
“Kita berharap semangat Ramadhan ini tidak hanya dirasakan selama bulan suci saja, tetapi juga terus terpelihara dalam kehidupan sehari-hari. Syiar Islam harus tetap kita tegakkan sebagai bagian dari identitas dan jati diri masyarakat Aceh,” ungkap Mulyadi.
Dia juga mengajak masyarakat menjadikan berbagai musibah tersebut sebagai bahan introspeksi diri serta momentum untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT, sehingga setiap ujian dapat dihadapi dengan kesabaran dan kebersamaan. (Red)












