KABAR BIREUEN – Bupati Bireuen, H. Saifannur, S.Sos menyatakan, kearifan lokal dapat meningkatkan rasa tanggung jawab kita bersama dalam menjaga generasi dari bahaya narkoba.

“Diperlukan langkah-langkah pencegahan, baik melalui penegakan hukum maupun gerakan bersama masyarakat, melalui pendekatan kearifan lokal atau adat istiadat setempat,” kata Saifannur dalam kapasitasnya selaku Koordinator Forum Komunikasi Pemerintahan Kabupaten/Kota se-Aceh (FKKA) pada lokakarya Anti Narkoba di Kantor Walikota Banda Aceh, Selasa (17/9/2019).

Dikatakan Saifannur, dari tahun ke tahun grafik peredaran narkoba semakin meningkat, apalagi di beberapa kabupaten/kota di pantai timur Aceh, yang secara geografis berbatasan langsung dengan Selat Malaka yang merupakan jalur internasional di batas Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Indonesia.

Menurut Koordinator FKKA itu, peningkatan transaksi penyelundupan narkotika jenis sabu-sabu, baik yang berlangsung di laut lepas atau di pelabuhan-pelabuhan tikus di wilayah beberapa kabupaten/kota, membawa dampak yang sangat buruk. Bisa merusak moral, mental dan jiwa bagi penggunanya, terutama generasi muda kita (Aceh).

Lokakarya Anti Narkoba itu dihadiri Bupati/Wakil Bupati, Wali Kota/Wakil Wali Kota, serta Pimpinan DPRK se-Aceh dan dibuka Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Aceh, Ir Nova Iriansyah, MT.

Kabag Humas dan Protokoler Setdakab Bireuen, Farid Mau­lana mengatakan, narasumber lokakarya yaitu Kepala BNNP Aceh Brigjend. Pol Faisal Abdul Naser, MH dan Ahli Hukum Adat Serta Kearifan Lokal dari Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala (Unsyiah), Dr Muhammad Adli Abdullah SH, MCL.

“Lokakarya memba­has isu-isu penting tentang upaya pencegahan penyalahgunaan narkoba serta mendengarkan masukan dari bu­pati/walikota se-Aceh terkait dengan program alternative development,” ujar Farid. (Ihkwati)

BAGIKAN