KABAR BIREUEN – Kami Peduli Bireuen (KPB) menfasilitasi dan membawa seorang bocah diduga menderita gizi buruk asal Kecamatan Jangka, Kabupaten Bireuen, Reza Hakiki ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Fauziah Bireuen, Kamis siang (22/8/2019).

Beberapa lama setelah tiba di rumah sakit tersebut, Reza kemudian ditangani salah seorang dokter dan menjalani pemeriksaan serta perawatan.

KPB juga menyerahkan bantuan biaya pendampingan kepada keluarga Reza Hakiki selama menjalani perawatan di rumah sakit.

Sebelumnya, Koordinator KPB, Bripka Deni Putra SE, MM bersama donatur KPB, Direktur AW Advertaising, Azwir dan seorang relawan KPB lainnya berkunjung ke kediaman orang tua Reza Hakiki (6) di Desa Bada Timu, Kecamatan Jangka, Kabupaten Bireuen.

“Kami berusaha membantu semampu kami, karena yang penting, anak itu harus menandapatkan penanganan segera dan menjalani perawatan. Karena itulah, setelah melihat kondisinya, setelah berkoordinasi dengan keluarga, kami berinisiatif membawa Reza ke rumah sakit serta menyerahkan biaya pendampingan kepada keluarganya selama dia dirawat,” sebut Deni.

Buah hati pasangan Hamli (28) dan Juniati (27) itu sebelumnya mengalami lumpuh layu saat berusia sembilan bulan, seiring berjalannya waktu, Reza juga diduga menderita  gizi buruk.

Karena itulah, dia hanya bisa terbaring lemah disehelai tikar pandan dan sesekali ia tidur diayunandengan kondisi tubuhnya kurus kering serta berat badannya terbalut tulang.

Sang ibu, Juniati mengisahkan, anaknya Reza Riski awalnya sangat normal bahkan sudah mulai bercanda saat dipapah dan digendongnya.

“Namun, memasuki umur sembilan bulan lebih, Reza mulai mengalami perubahn ditubuhnya, kendati setiap saat Juniati ikut membawa anaknya ke Posyandu di desanya. Setelah semakin bertambah usianya, Reza juga diduga mengalami gizi buruk,” ungkap Juniati terisak.

Dikatakannya, dulu saat berusia sembilan bulan, anak pertama dari dua bersaudara itu kondisi badannya sangat sehat, gemuk dan suka bercanda. Tapi seiring waktu kondisi badannya berubah, badannya mulai kurus.

“Dulu pernah datang bidan desa, saat kondisi Reza Hakiki masih normal dan kala itu Reza belum bisa berbicara dengan normal, tetapi suka tertawa riang,” katanya.

Pada 2018, sebut Juniati, anaknya itu mulai terlihat ada gejala perubahan dari tubuhnya. Namun Ia pasrah, apalagi Juniati tak memiliki biaya lebih, meskipun dia tahu biaya pengobatan di rumah sakit itu gratis.

Kala itu, Bidan dari Puskesmas Jangka juga sempat meminta agar anaknya dibawa ke rumah sakit, namun untuk berobat ke rumah sakit orang tua Reza Hakiki mengeluh, alasan tak memiliki biaya lebih, sementara Hamli, ayah Reza Hakiki merupakan seorang tukang bangunan di desanya.

“Terakhir saya nekat membawa Reza ke rumah sakit dengan menyewa becak, sementara bidan desa tersebut hanya menunggu di rumah sakit, bukan mendampingi Reza Hakiki kala itu,” katanya.

Selama ini, jelas Juniati lagi, Bidan Desa seolah tidak mengetahui kondisi riil yang dialami Reza Hakiki. Bahkan baru tiga hari belakangan ini, Bidan Desa melalui Pukesmas Jangka mengantar susu dan kacang hijau untuk asupan gizi bagi Reza.

“Baru tiga hari ini Bidan Desa menyerahkan susu kotak, itupun setelah seorang warga  memposting foto Reza Hakiki melalui media sosial di Facebook,” ujar Juniati. (Ihkwati)

 

BAGIKAN