KABAR BIREUEN, Bireuen–Di balik riuhnya dinamika pembangunan dan tajamnya pena kritik, Bupati Bireuen menunjukkan sisi kemanusiaan yang jarang tersorot.
Menanggapi pemberitaan mengenai pernyataan “kurang bersemangat” akibat kritikan media, Bupati justru memberikan sebuah perenungan yang sangat menyentuh hati, sebuah narasi yang mengangkat kembali harkat dan martabat seorang pelayan rakyat.
Bagi Bupati Bireuen H Mukhlis ST, jabatan bukanlah sekadar atribut kekuasaan, melainkan sebuah beban moral yang ia bawa hingga ke dalam sujudnya.
Bupati menegaskan bahwa rasa “lelah” yang sempat ia ungkapkan bukanlah bentuk kemarahan kepada pers, melainkan bentuk introspeksi diri yang teramat dalam sebagai seorang “Ayah” bagi seluruh masyarakat Bireuen.
“Setiap kritikan yang datang, saya terima sebagai bisikan cinta yang jujur. Jika hati ini sempat merasa getir, itu bukan karena saya anti-kritik, tapi karena saya merasa berdosa jika belum mampu membahagiakan seluruh rakyat saya,” ungkapnya, Kamis (19/3/2026).
Dikatakan Bupati Mukhlis, rasa tidak bersemangat itu adalah saat dirinya merenung sendirian di malam hari, bertanya pada hati kecilnya.
“Ya Allah, apalagi yang harus saya perbuat agar Kota Juang ini benar-benar sejahtera?” sebut Bupati dengan penuh ketulusan.
Dia melanjutkan bahwa martabat seorang pemimpin tidak akan jatuh hanya karena ia mengakui kelelahannya. Sebaliknya, martabat sejati ada pada keberanian untuk tetap berdiri tegak demi rakyat meski badai kritikan menerpa.
“Saya memilih untuk merunduk, bukan karena saya lemah, tapi karena saya sedang menjaga agar langkah pembangunan kita tidak terhenti oleh ego. Kritik dari rekan-rekan media adalah cermin bagi saya,” jelasnya.
Dikatakannya, jika cermin itu menunjukkan ada debu di wajahnya, maka dia yang akan membasuh wajah tersebut dengan kesabaran, bukan memecahkan cerminnya.
“Karena bagi saya, kebahagiaan warga Bireuen jauh lebih mulia daripada sekadar harga diri saya sebagai pribadi,” lanjutnya, dengan arif.
Bupati mengajak seluruh elemen masyarakat, termasuk para kuli tinta untuk kembali merajut tali silaturahmi.
Bupati percaya, Bireuen tidak bisa dibangun dengan caci maki, melainkan dengan hati yang saling menguatkan.
“Bireuen adalah rumah kita bersama. Mari kita jaga martabat kota ini dengan saling mengingatkan dalam kasih sayang. Saya adalah pelayan kalian, dan seorang pelayan akan selalu membuka telinganya meski suara yang masuk kadang menyakitkan. Mari kita melangkah lagi, demi Bireuen yang lebih bermartabat di mata dunia,” pungkas Bupati dalam pesan penutupnya yang mengharukan. (Ihkwati)










