KABAR BIREUEN – Bukannya hidup rukun dan damai, ternyata pengungsi Rohingya yang ditampung di Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Bireuen, kerap cek-cok. Bahkan, tak jarang mereka juga saling berantam.

Seperti yang terjadi pada Kamis (21/6/2018) siang, usai makan siang bersama dengan anggota dan pengurus Forum Silaturahmi Asokaya. Tiba-tiba suasana menjadi gaduh, lantaran beberapa pengungsi perempuan berkelahi.

Melihat mereka adu fisik dan saling jambak rambut, relawan dan Satpol PP yang bertugas di lokasi, segera meleraikannya. Kemudian, kelima wanita yang terlibat perkelahian tersebut dibawa ke lapangan guna dimintai keterangan.

Andre, relawan dari Forum Silaturahmi Asokaya yang turut melerai perkelahian tersebut, menjelaskan, persoalan tadi cuma gara-gara sandal tertukar. Masalah itu sudah didamaikan, dengan cara saling salam-salaman di hadapan relawan dan Satpol PP.

“Mereka berkelahi, hanya gara-gara sandal yang tertukar,” sebut Andre.

Sementara menurut koordinator Tagana, Zulfikar GA yang saban hari bersama pengungsi, mengungungkapkan, selama ini para pengungsi memang sangat sering adu mulut. Bahkan, sampai berkelahi hanya karena hal sepele. Ironisnya, sesama pengungsi hanya menonton rekan mereka berkelahi. Tidak ada yang meleraikannya.

“Sekecil apapun masalah, pasti mereka berantam. Anehnya, di antara mereka sendiri tidak mau peduli. Cuma melihat saja kawan mereka berkelahi,” kata lelaki yang lebih dikenal dengan sebutan Adun Tagana ini.

Menurut dia, pernah juga petugas dan relawan merazia barak laki-laki dan perempuan, karena pisau di dapur umum hilang. Ini untuk menghindari terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan. Dalam razia tersebut, petugas menemukan pisau disembunyikan di barak laki-laki.

“Mereka susah diatur, tidak penurut. Sesekali mereka juga menyembunyikan piring dan gelas. Saat kami tanya, apa ada yang lihat piring dan gelas, mereka jawab ‘no, no, no’,” ungkapnya. (Najib Zakaria)

BAGIKAN