KABAR BIREUEN– Bupati Bireuen, Dr H Muzakkar A Gani SH MSi membuka Festival Budee Trieng, Kamis (11/11/2021) di Lapangan Paya Kareueng, Kecamatan Peusangan, Kabupaten Bireuen.

Bupati Muzakkar dalam sambutanya menyebutkan, Pemerintah Kabupaten Bireuen menyambut baik atas terselenggaranya Festival Budee Trieng yang diselenggarakan pada hari ini.

Salah satunya yaitu Penyelenggaraan Festival Seni Budaya Teut Budee Trieng ini yang merupakan salah satu wujud nyata dari kepedulian masyarakat dan pemerintah untuk melestarikan dan mengembangkan nilai-nilai budaya dalam rangka memperkuat budaya nasional.

“Mainan ini terinspirasi dari senjata yang dahulu dipakai oleh bangsa Portugis ketika menjajah nusantara pada abad ke-16,” ungkapnya.

Saat itu, pasukan tentara dari Portugis memiliki alat perang berupa meriam yang mampu menembakkan peluru hingga jarak yang cukup jauh.

Dilaksanakannya festival ini, sebut Bupati, dalam rangka mengingatkan kita pada saat pejuang Aceh/rakyat Aceh melawan para penjajah pada saat itu.

Sebagaimana kita ketahui bahwa setiap tanggal 10 November selalu diperingati sebagai Hari Pahlawan.

“Saya berharap mudah-mudahan dengan pelaksanaan festival  ini akan dapat menjadi wadah yang mampu melestarikan dan memajukan nilai-nilai kesenian Aceh,” harapnya.

Sementara itu, Ketua Panitia, H Mukhlis A.Md SH, yang juga Ketua Dewan Kesenian Aceh (DKA) Kabupaten Bireuen  melaporkan, dalam rangka memperingati Hari Pahlawan tahun 2021, Dewan Kesenian Aceh (DKA) Bireuen bekerjasama dengan Dinas pendidikan dan Kebudayaan Bireuen menggelar Festival Budee Trieng Tahun 2021.

Fèstival Budee Trieng diikuti peserta dari Perwakilan 17 Kecamatan di Kabupaten Bireuen.

Ini dibuktikan dengan Surat Perintah Tugas (SPT) dari masing-masing kecamatan.

Dikatakannya, Festival Budee Trieng dilaksanakan dalam menggali semangat kepahlawanan di tengah Pandemi.

“Sebagai satu warisan budaya yang terdapat di beberapa daerah di Aceh, Teut Budee Trieng atau dalam bahasa Indonesia disebut menyalakan meriam bambu,” sebutnya.

Meskipun beberapa tradisi lain mulai hilang digerus masa dan oleh generasi sekarang menganggapnya aneh, namun untuk tradisi yang satu ini masih begitu populer dan dipertahankan oleh masyarakat Aceh.

Konon, latar belakang tradisi ini disebutkan terinspirasi dari masuknya portugis ke Aceh.

Hal ini, katanya, dibuktikan dengan fakta dimana tiap wilayah manapun yang dijajah Portugis, masyarakatnya memiliki tradisi menyalakan meriam bambu.

Tradisi teut budee trieng ini mulai ada pada era kesultanan Iskandar Muda, yang sengaja dipolakan sebagai sebuah cara atau aktivitas mengenang perang Badar yang terjadi pada hari ke 2 di bulan Ramadhan.

Sebuah perang terbesar saat Rasulullah masih hidup.

Tradisi ini menyimpulkan semangat perjuangan di masa-masa penjajahan dan mengembalikan ruh perjuangan.

Dalam kegiatan kali ini, panitia pelaksana juga menyiapkan hadiah untuk para juara Festival Budee Trieng yakni, juara 1 dengan hadiah Rp10.000.000, juara 2 dengan hadiah Rp3.500.000 dan Juara 3 dengan hadiah Rp2.000.000. Sehingga total hadiah yakni Rp15.500.000.

“Dan kami juga menggelar Gebyar Vaksin yang memberi kesempatan kepada penerima vaksin untuk memperoleh 2 tiket umroh gratis dan 1 sepeda motor,” ungkapnya.

Nantinya, kata Mukhlis, akan diundi bersama oleh Polres Bireuen pada 13 November 2021 di Pendopo.

“Kami berharap perlombaan ini menjadi media kebersamaan setelah tahun lalu sepi dari kegiatan akibat pandemi Covid-19,” ujarnya.

Acara dimeriahkan dengan pertunjukan seni dan tarian yang dipersembahakan oleh tim DKA Bireuen.

Setelah itu dilanjutkan dengan lomba Teut Budee Treing.

Hadir pada festival tersebut Forkopimda Bireuen, Anggota DPRA, dr Purnama Setia Budi,  Kepala SKPK, para camat dan masyarakat. (Ihkwati).