KABAR BIREUEN, Bireuen – Pemerintah Kabupaten Bireuen mendorong penguatan sistem penanggulangan bencana berbasis ketangguhan masyarakat melalui refleksi dan pembelajaran dari pelaksanaan Proyek ARISE (Aceh Relief and Integrated Support in Emergencies) yang digelar di Aula Hotel Fajar, Kamis (4/6/2026).
Wakil Bupati (Wabup) Bireuen, Ir. H. Razuardi, MT, saat membuka lokakarya tersebut menegaskan pentingnya sinergi lintas sektor dalam membangun kesiapsiagaan menghadapi bencana di daerah.
“Kami berharap forum partisipatif ini menjadi momentum bagi seluruh pemangku kepentingan, mulai dari tingkat gampong, kecamatan hingga kabupaten, untuk saling berbagi pengalaman dan memperkuat kolaborasi,” ujar Razuardi.
Kegiatan itu diselenggarakan Yayasan Foundasi Hidup (FH) Indonesia bersama YAKKUM Emergency Unit (YEU) sebagai bagian dari refleksi akhir pelaksanaan Proyek ARISE di Kabupaten Bireuen.
Turut hadir unsur Forkopimda, Kepala Bank Aceh Cabang Bireuen, Ketua TP-PKK Kabupaten Bireuen, kepala SKPK terkait, Camat Jeumpa, Peusangan, dan Kuta Blang, serta para keuchik dari gampong dampingan program.

Razuardi menyebutkan, bencana yang terjadi di Bireuen pada akhir 2025 menjadi pelajaran penting bagi semua pihak dalam memperkuat sistem penanganan bencana yang lebih tangguh dan responsif.
Menurutnya, hasil lokakarya ini diharapkan mampu melahirkan rekomendasi prioritas yang praktis dan dapat ditindaklanjuti, baik untuk penguatan kapasitas internal lembaga kemanusiaan maupun sebagai masukan strategis bagi Pemerintah Kabupaten Bireuen.
“Rekomendasi tersebut sangat penting untuk mendukung kesiapsiagaan daerah serta membangun sistem penanggulangan bencana yang berbasis ketangguhan masyarakat,” katanya.
Ia juga menekankan pentingnya menjaga sinergi yang selama ini telah terbangun antara pemerintah daerah, lembaga nirlaba, sektor perbankan, akademisi, media, dan masyarakat selama masa tanggap darurat hingga pemulihan pascabencana.
Sementara itu, Direktur Nasional Yayasan Foundasi Hidup, Effendy Aritonang, mengatakan Proyek ARISE ditujukan untuk membantu masyarakat miskin dan kelompok rentan yang terdampak bencana alam.

Menurut Effendy, program tersebut hadir sebagai respons cepat terhadap bencana banjir hidrometeorologi dan tanah longsor yang melanda Kabupaten Bireuen pada akhir 2025.
“Berkat dukungan berbagai pihak, masyarakat terdampak dapat segera memperoleh bantuan dengan mengoptimalkan potensi lokal,” ujarnya.
Proyek ARISE mulai berjalan sejak 17 Desember 2025 dengan cakupan bantuan Bantuan Non-Tunai Multiguna (BaNTu Guna) di Kecamatan Peusangan dan Jeumpa, serta bantuan sektor Air Minum dan Penyehatan Lingkungan (AMPL) di Kecamatan Kuta Blang.
Program tersebut dijadwalkan berakhir pada 16 Juni 2026. (Hermanto)









