KABAR BIREUEN– Film Dokumenter Rapai Puloet Geurimpheng Produksi Komunitas Juang Cinema Raih Juara 2 di Ajang Estafet Budaya Aceh 2019, yang diselengarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh pada malam penganugrahan tersebut berlangsung di Gedung Taman Sari dan Budaya Aceh, Banda Aceh, 25 Oktober 2109 Lalu.

Film garapan komunitas Juang Cinema disutradarai Revanda Akbar dan Ria Mulyani sineas muda asal Bireuen tersebut menceritakan kisah bagaimana cara menjaga dan merawat Budaya, kemudian melestarikan kembali Rapai Pulot Geurimpheng yang hampir hilang ditelan oleh perubahan zaman.

Alur yang dikisahkan dalam Film tersebut terkait dengan rangkaian aktivitas Syeh Ayi (pelatih sanggar) yang mendekasikan hidupnya pada kesenian daerah daerah tradisional.

Totalitas hidupnya pada kesenian daerah begitu mendalam. Hampir seluruh hidup dan waktunya dia curahkan untuk melestarikan kesenian daerah yang hampir punah terhimpit oleh perubahan zaman.

Hingga saat ini Syeh Ayi melalui sanggar Jeumpa Puteh dengan tekun dan sabar mewariskan ilmunya pada anak-anak di kabupaten Bireuen. Tak pernah merisaukan langkahnya akan punya arti atau tidak tekadnya akan terus berjuang melestarikan kesenian daerah.

Agsal selaku Manager Program Komunitas Juang Cinema, Minggu (27/10/2019) mengatakan, pihaknya sangat bersyukur atas perolehan juara tersebut.

“Kemarin saya mendapatkan informasi bahwa salah satu film produksi kita mendapatkan juara di Ajang Estafet Budaya Aceh 2019 kategori perlombaan film Dokumenter,” katanya.

Tentunya ini menjadi sebuah prestasi dan juga awal dari motivasi pihaknya untuk terus berbuat melahirkan karya-karya positif sineas muda Aceh, khususnya pemuda Bireuen untuk berani berkarya melalui film baik tentang Kebudayaan, Sosial, Pendidikan, Kearifan lokal dan Lain Sebagainya.

“Karena dengan berkarya melalui film merupakan bagian dari salah satu cara setidaknya kita masih bisa terus ikut terlibat dalam menjaga kelestarian Budaya Aceh supaya tetap utuh dan masih digemari masyarakat,” jelasnya.

Kemudian, Agsal juga menyarankan supaya generasi muda Aceh sekarang sudah semestinya berani untuk melek akan pemanfaatan kemajuan teknologi yang semakin hari semakin tidak terbendung untuk kita hindari.

Sejauh ini Berdasarkan hasil studi Polling Indonesia yang bekerja sama dengan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia ( APJII), pada 2018 jumlah pengguna internet di Indonesia sudah mencapai 171,17 juta jiwa.

Angka ini setara dengan 64,8% dari total penduduk Indonesia 264,16 juta jiwa, dengan rata-rata pengguna adalah generasi Milenial.

Justru kehadiran teknologi yang beragam model saat ini menjadi kesempatan bagi kita anak muda untuk hadir mengisi ruang-ruang dalam melahirkan karya-karya yang berisi nilai-nilai Edukasi, Sosial, Budaya dan Estetika Moral Generasi Penerus Bangsa.

“Pengaruh kemajuan media sosial teknologi bukan hanya dimanfaatkan menjadi ruang narsis bagi generasi muda dalam mencapai popularitas semata, akan tetapi justru bisa dimanfaatkan untuk menghadirkan ruang-ruang yang lebih bersifat positif sehingga berdampak baik bagi setiap pengguna teknologi itu sendiri yang memberi pengaruh baik bagi lingkungan sekitar,” sebutnya.

Ditambahkannya, dampak yang muncul juga akan mengarah kepada hal-hal yang jauh dari pengaruh negatif, meski tak berkemampuan bisa merubah dan menghambat sesuatu yang bisa diakses dengan mudah, cepat, luas dan tersebar dalam ruang yang tak terbatas.

“Setidaknya kita ikut hadir terlibat dengan mengisi ruang-ruang yang berdampak memberi kekuatan pengaruh energi positif yang bermanfaat bagi pembentukan karakter generasi bangsa,” kata Agsal yang juga salah satu Mahasiswa Pascasarjana Universitas Paramadina Ilmu Komunikasi Politik.

Dia menyebutkan, sejauh ini, Komunitas Juang Cinema masih fokus pada program peningkatan edukasi melaui produksi film-film dokumenter pendek yang berisi terkait Isu-isu adat Budaya Kearifan lokal, Pendidikan, dan Sosial dengan slogan Mencari Yang Hilang, Merekam Yang Tersisa Hingga Menemukan Kearifan Semesta.

Sementara itu, Refanda Akbar sutradara film tersebut sangat senang dan bangga atas kemenangan ini.

Semoga Film Dukumenter tersebut, dapat menambah pengetahun, wawasan serta budaya, agar masyarakat terus menjaga dan melestarikan Budaya, salah satunya adalah Rapai Pulot Geurimpheng, yang hampir dilupakan.

“Senang, dan bangga pastinya atas apa yang kami raih, semoga film ini bisa dapat memberi wawasan dan pengetahuan budaya kepada masyarakat bahwa Rapai Pulot Geurimpheng masih ada, dan mari sama sama kita lestarikan budaya kita. Saya juga menyampaikan terima kasih kepada semua kru yang terlibat dalam membantu saat proses penggarapan film tersebut,” ungkapnya. (REL)

BAGIKAN