KABAR BIREUEN – Harga kacang kedelai saat ini melonjak. Kenaikan harga tersebut dimulai sejak masa Covid-19 hingga puncaknya Desember 2020 lalu.

Dampaknya, sejumlah perajin tempe di Banda Aceh kelabakan. Namun, mereka tetap berproduksi karena permintaan tempe masih stabil.

Seorang perajin tempe, Junaidi, mengemukakan, harga kedelai mengalami peningkatan sejak Desember 2020 lalu. Kalau sebelumnya seharga Rp6.000 – Rp7.000 per kilogram, sekarang naik menjadi Rp9.600 per kilogram.

“Kenaikan kedelai luar biasa. Barangnya pun susah didapat. Namun, kami tetap berproduksi. Sebab, permintaan tempe stabil bahkan naik, karena ada perajin tempe yang mengurangi produksinya,” ungkap Junaidi yang ditemui di tempat usahanya di Garot, Kecamatan Darul Imarah, Aceh Besar, Senin (4/1/2021).

Supaya tetap mendapatkan keuntungan tanpa harus menaikkan harga, dia berusaha menyiasatinya. Caranya, mengurangi berat tempe dalam kemasan. Jika sebelumnya per kemasan beratnya 400 gram, kini dikurangi menjadi 350 gram. Pemasarannya di seputar wilayah Banda Aceh.

“Kalau dinaikkan harga, kita khawatirkan tidak laku. Rata-rata produksi tempe per hari membutuhkan 450 kilogram kedelai. Untuk pasokan kedelai dari Medan dengan harga saat ini, sudah menyentuh Rp9.900 per kilogram,” ujar perajin tempe dengan brand a-zaki ini.

Menurut Junaidi, dia ingin menggunakan kedelai lokal, sehingga bisa berdampak ekonomi pada petani kedelai lokal. Dengan begitu, tidak bergantung terus pada kedelai impor.

Hal yang sama juga dikeluhkan perajin tempe lain yang masih berada di wilayah Garot, Isoh. Dia juga mengaku pusing dengan melonjaknya harga kedelai, karena bingung dalam menentukan harga jual.

“Iya, bingung sekarang. Kalau kita naikkan harga, takutnya tidak laku. Kami tetap berproduksi dengan untung semakin tipis, asal bisa bertahan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” ungkap Isoh yang didampingi putrinya, Gingin.

Menurut perajin tempe yang memakai merek Gurih ini, kedelai dibelinya di Pasar Lambaro sebanyak tiga goni atau seberat 900 kilogram per hari. Pemasarannya juga di seputar wilayah Banda Aceh.

Baik Junaidi maupun Isoh dan juga perajin tempe yang lain, berharap, harga kedelai bisa kembali turun dan stabil. Sehingga, produksi tempe bisa kembali meningkat seperti semula. Begitu juga pekerja yang dirumahkan, bisa kembali bekerja.

 

Wira