Pasar sayur di Pasar Induk Bireuen tak ditempati

KABAR BIREUEN- Wakil Bupati Bireuen DR H Muzakkar A Gani,SH, M Si melakukan peninjauan langsung ke Pasar Induk Bireuen, Desa Geulanggang Gampong, kecamatan Kota Juang, Kamis (19/7/2018)  yang sudah mulai ditempati para pedagang sejak 10 Juli 2018.

Pasar yang sudah ditempati para pedagang, terdiri dari pedagang ikan, pedanag daging, renpah-rempah, pedagang pisang, kecuali pedagang sayur mayur enggan menempati lantaran pasar sayur disekelilingnya berdinding beton. Sehingga konidisi dalam pasar sayur sangat panas juga lapak pedagang sayur terlalu kecil  hanya 1,5 meter x 1 meter, tidak bisa terlihat para pembeli.

Beberapa pedagang sayur memberikan masukan kepada Wahub Muzakkar meminta dinding beton pasar sayur perlu  ditata kembali, seperti pasar pedagang pesang yang terbuka sehingga para pedagang dan pembeli sayur tidak kepanasan.

Pantauan Kabar Bireuen para pedagang sayur pada umum belum nenempati tuangan pasar sayur masih kosong melompong belum ditempati pedagang. Mereka baru akan menempati los pasar sayur, meminta Pemkab Bireuen perlu merenovasi kembali  diding beton yang sesuai pasar sayur.

Sejak 10 Juli para pedagang  sayur masih membuka lapak dipelataran pasar sayur yang diterpa panas terik. Mereka  lebih baik bertahan dipanas terik, karena barang dagangan sayur mayur dapat dilihat dan dipilih langsung sayur mayur yang dibutuhkan pembeli.

Menurut beberapa pedagang sayur dinding pasar sayur minta dibuka seperti pasara pedagang pisang mendapat perhatian serius Wabup akan dimusyawarahkan dulu demi kebaikan dan kemudahan bagi para pedagang sayur dalam mnejual barang dagangannya.

Dalam kesempatan itu Wabup menyampaikan terima kasih kepada para pedagang yang sudah mematuhi direlokasi ke pasar induk Bireuen, dan bagi pedagang sayur  harap bersabar, dinding dan ukuran lapak pasar sayur akan direnovasi kembali guna memenuhi harapan pedagang sayur.

Selama 10 hari menempati pasar induk Bireuen, diantara pedagang ikan membuka lapak di pinggir jalan tidak menempati pasar ikan, sehingga limbah ikan berserakan di pinggir jalan.

Selain itu membuka lapak barang dagangan renmpah-rempah dengan membentang pladtik  semraut. Padahal Pasar Induk itu dibangun dengan anggaran milyaran rupiah, jangan sampai menjadi padar kumuh.

Untuk menjaga kebersihan pasar induk, disarankan para pedagang, sayur, rempah-rempah, ikan tidak membuah sanpah sayur berserakan di lokasi pasar induk,  dimasukkan kedalam kantong, agar petugas kebersihan akan lebih mudah mengangkut sampah di pasar induk.

Syamsuar, mandor Kebersihan Kota Bireuen kepada Kabar Bireuen mengatakan, guna menjaga kebersihan Pasar Induk, pihak dinas terkait, perlu membentuk ketua lingkungan, parar ikan, pasar daging , pasar sayur, rempah-rempah, pedagang pisang agar daoat mengawasi para pedagang  tidak membuang sampah sembarangan, ujar

“Kita harus mencontoh Kota Madya Surabaya hingga saat ini masih bertahan meraih Adipura sebagai kota terbersih di Indonesia. Satu puntung rokokpun tidak kita temui dijalan, apalahi sampah,  para pedagang sayur, sangat patuh pada aturan, sampah sayuran tidak disebarkan di lokasi pasar, akan tetapi dimasukkan ke dalam kantong,” katanya.

Demikian pula di pasar ikan sangat bersih, kaum wanita yang berbelanja tak perlu silak ija  pinggang (angkat kain) untuk berbelanja di pasar ikan. (H.AR Djuli).