KABAR BIREUEN, Bireuen – Akibat bencana banjir dan tanah longsor, tambak seluas 4.943,33 hektare di Kabupaten Bireuen mengalami kerusakan. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bireuen kini menggenjot pemulihan sektor perikanan rakyat itu sebagai langkah strategis mengembalikan sumber penghidupan ribuan nelayan dan pembudidaya ikan yang terdampak bencana.
Bupati Bireuen, H. Mukhlis, ST, menyampaikan, sektor perikanan merupakan salah satu tulang punggung ekonomi masyarakat, baik di wilayah pesisir maupun pedalaman. Karena itu, pemulihan sektor tersebut menjadi prioritas setelah masa tanggap darurat bencana berakhir.
“Banjir bandang dan longsor telah merusak tambak, kolam ikan, sarana tangkap, serta fasilitas pendukung perikanan. Pemerintah daerah berkomitmen membantu masyarakat agar aktivitas perikanan bisa kembali berjalan,” kata Mukhlis, Rabu (11/2/2026).
Menurut Mukhlis, banjir bandang dan tanah longsor yang melanda 17 kecamatan di Kabupaten Bireuen beberapa waktu lalu ,menyebabkan kerusakan besar pada berbagai sarana perikanan. Selain menghancurkan tambak dan kolam budidaya, bencana juga merusak perahu nelayan serta fasilitas pendukung lainnya. Banyak nelayan kehilangan sumber penghasilan akibat rusaknya fasilitas produksi dan matinya ikan yang siap panen.
BACA JUGA: Selamatkan Sektor Pangan, Sawah Rusak Sedang dan Ringan di Bireuen Mulai Direhabilitasi Februari Ini
Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Bireuen telah melakukan pendataan kerusakan sarana dan prasarana perikanan sebagai dasar penyaluran bantuan dan perencanaan program pemulihan. Pendataan dilakukan menggunakan instrumen Kajian Kebutuhan Pascabencana (JITUPASNA).
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Bireuen, Ir. Jafar, mengatakan, pihaknya fokus memulihkan fungsi tambak dan kolam budidaya agar masyarakat dapat segera kembali berproduksi.
“Fokus kami saat ini memulihkan fungsi tambak dan kolam budidaya agar masyarakat bisa segera kembali berproduksi. Kami juga berkoordinasi dengan pemerintah provinsi dan pusat untuk dukungan lanjutan,” ujarnya.

Berdasarkan data Dinas Kelautan dan Perikanan Bireuen, total luas tambak terdampak mencapai 4.943,33 hektare yang tersebar di 12 kecamatan. Dari jumlah tersebut, kerusakan kategori rusak berat sekali mencapai 311,99 hektare, rusak berat 695,37 hektare, rusak sedang 1.321,02 hektare, dan rusak ringan 2.611,45 hektare.
Selain itu, bencana juga merusak 19 unit jembatan penghubung area perikanan, saluran sepanjang 170,87 kilometer, satu unit Balai Benih Ikan (BBI), dua unit hatchery skala rumah tangga, jalan produksi sepanjang 8.376 meter, serta tiga unit pembenihan rakyat.
Kerusakan juga dialami sektor nelayan tangkap. Sebanyak 110 unit kapal atau perahu motor dilaporkan hilang dan rusak berat, 113 unit mengalami rusak ringan, serta 415 unit alat tangkap rusak atau hilang.
BACA JUGA: Pemkab Bireuen Bergerak Cepat, Layanan Kesehatan Pascabencana Kembali Normal
Seluruh data kerusakan tersebut telah diusulkan kebutuhannya kepada Menteri Kelautan dan Perikanan melalui pemerintah provinsi. Koordinasi lintas pemerintah terus dilakukan guna mempercepat realisasi bantuan rehabilitasi.
Para nelayan dan pembudidaya ikan menyambut positif langkah yang dilakukan pemerintah daerah. Mereka berharap, bantuan dapat segera terealisasi secara merata agar dampak ekonomi akibat bencana tidak berlangsung lama.
Selain pemulihan infrastruktur, Pemkab Bireuen juga mendorong penguatan kelembagaan kelompok perikanan dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia. Upaya ini dinilai penting agar sektor perikanan tidak hanya pulih, tetapi juga lebih tangguh menghadapi potensi bencana di masa mendatang.
Pemkab Bireuen optimistis, melalui berbagai langkah pemulihan yang dilakukan, sektor perikanan akan kembali bangkit dan berkontribusi terhadap ketahanan pangan serta peningkatan kesejahteraan masyarakat pascabencana. (Red)










