KABAR BIREUEN, Lhokseumawe – Sejarah baru tercipta di dunia akademik Aceh. Ulama intelektual dan pembina Universitas Islam Al-Aziziyah Indonesia (UNISAI), Prof. Dr. Tgk. H. Muntasir A. Kadir, S.Ag., M.A., resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar dalam bidang Ilmu Politik Islam pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Malikussaleh (Unimal), dalam prosesi yang berlangsung di Gedung ACC Unimal, Lhokseumawe, Jumat (12/7/2025).
Pengukuhan ini menandai momen bersejarah karena Prof. Muntasir menjadi Guru Besar Politik Islam pertama, tidak hanya di Unimal, tetapi juga di seluruh Aceh. Lebih dari sekadar pencapaian pribadi, peristiwa ini menjadi simbol bersatunya dua tradisi besar, pesantren dan perguruan tinggi, dalam membangun peradaban keilmuan berbasis nilai-nilai Islam.
Selain Prof. Muntasir, Unimal juga mengukuhkan Prof. Dr. Ir. Wesli, M.T. sebagai Guru Besar dalam bidang Perencanaan Wilayah. Prosesi pengukuhan ditandai dengan penyematan lencana Guru Besar oleh Rektor Unimal, Prof. Dr. Herman Fithra, Asean.Eng., berdasarkan SK Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi RI Nomor: 01941/E4/DT.04.01/JAD/2024.
Dalam orasi ilmiahnya yang berjudul “Kontekstualisasi Gagasan dan Pemikiran Ulama Dayah dalam Pembangunan Politik di Aceh”, Prof. Muntasir menekankan pentingnya menghidupkan kembali nilai-nilai politik Islam dalam sistem demokrasi modern. Menurutnya, politik Islam bukan semata soal kekuasaan, tetapi soal amanah, keadilan, dan keberpihakan kepada rakyat.

“Saat pemikiran ulama hanya tertinggal di lembaran kitab kuning tanpa aktualisasi, maka politik kehilangan arah moralnya. Aceh membutuhkan bangunan politik yang tidak hanya demokratis, tetapi juga bernurani. Dan itu bisa digali dari warisan pemikiran ulama dayah,” tegas Prof. Muntasir dalam orasinya.
Rektor Unimal, Prof. Dr. Herman Fithra, Asean.Eng., menyebut pengukuhan ini sebagai bukti bahwa pesantren tidak hanya menjadi sumber moralitas, tetapi juga lumbung intelektual yang mampu bersaing dalam dunia ilmiah nasional.
“Prof. Muntasir adalah figur akademisi yang melampaui sekat-sekat institusional. Ia adalah jembatan hidup antara ilmu syar’i dan ilmu sosial-politik kontemporer,” ujarnya.
Acara pengukuhan tersebut turut dihadiri sejumlah tokoh nasional dan daerah, ulama, akademisi, dan pejabat publik. Di antara yang hadir adalah Pimpinan Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga Tgk. H. Hasanoel Bashry (Abu MUDI), Rektor UNISAI Dr. Tgk. Muhammad Abrar Azizi, M.Sos, Wakil Bupati Bireuen Ir. H. Razuardi, M.T., anggota DPRA Tgk. H. Muhammad Yunus atau Waled Landeng, serta pimpinan dayah dan dosen dari UNISAI dan Unimal.

Momen haru terlihat saat Abu MUDI menyampaikan rasa syukurnya. Abu MUDI adalah guru rohani sekaligus mertua Prof. Muntasir, dan menyambut pengukuhan ini sebagai berkah dan amanah.
“Hari ini, saya saksikan langsung bagaimana perjuangan ilmu dibalas Allah dengan kemuliaan. Prof. Muntasir bukan hanya menantu saya, tetapi anak rohani saya yang membawa ruh perjuangan dayah ke ruang akademik. Gelar ini adalah amanah untuk terus membimbing umat dan ini cita-cita saya agar alumni dayah bisa hadir dalam semua dimensi kehidupan masyarakat,” ungkap Abu MUDI penuh haru.
Sementara itu, Rektor UNISAI, Dr. Tgk. Muhammad Abrar Azizi, menilai pengukuhan ini sebagai titik balik bagi peran kalangan dayah dalam ruang akademik nasional.
Menurutnya, sebagai institusi yang dilahirkan dari denyut nadi pesantren, UNISAI bangga memiliki pembina sekaliber Prof. Muntasir. Ia tidak hanya mengembangkan struktur kampus, tetapi juga membangun jiwanya.
“Pengukuhan ini bukan akhir, tetapi awal peran besar untuk membentuk generasi Islam berwawasan kebangsaan. Bagi kami di UNISAI, Prof. Muntasir adalah kompas moral, intelektual, dan keilmuan. Ini adalah pencapaian monumental yang patut disyukuri,” pungkas Tgk Abrar Azizi. (Red)









