KABAR BIREUEN, Banda Aceh – Konsolidasi besar Partai Persatuan Pembangunan (PPP) di Aceh memasuki fase krusial. Musyawarah Cabang (Muscab) Dewan Pimpinan Cabang (DPC) se-Aceh yang dimulai dari Bireuen pada 26 April 2026 tak sekadar agenda rutin, melainkan ajang penentuan arah masa depan partai menjelang Pemilu 2029.
Sekretaris Wilayah PPP Aceh, Ilmiza Sa’aduddin Djamal, menegaskan rangkaian Muscab akan menjadi momentum strategis untuk memperkuat soliditas kader hingga ke tingkat akar rumput.
Ia didampingi Wakil Ketua Informasi dan Komunikasi, Asnawi, menyebutkan bahwa Kabupaten Bireuen dipilih sebagai titik awal konsolidasi menyeluruh partai di Aceh.
“Ini bukan sekadar agenda organisasi, tetapi upaya menata ulang kekuatan PPP secara menyeluruh,” ujar Ilmiza, Rabu (22/4/2026).
Tiga Kandidat Warnai Persaingan di Bireuen
Di Bireuen, dinamika Muscab mengerucut pada tiga figur dari latar belakang berbeda. Mereka dinilai merepresentasikan arah yang akan ditempuh PPP ke depan.
Nama Baharuddin Yusuf muncul dari internal partai. Sosok ulama dan pimpinan dayah ini dikenal memiliki basis kuat di kalangan akar rumput.
Sementara itu, Al-Furqan menawarkan kombinasi kapasitas akademik dan garis ideologis partai yang kuat. Ia juga dikenal sebagai putra dari almarhumah Dra Hj Nurbaiti A Gani, tokoh perempuan PPP Aceh.
Dari luar struktur partai, Edi Saputra atau yang akrab disapa Edi Obama menjadi warna tersendiri. Pengusaha sekaligus Ketua PMI Bireuen ini dinilai memiliki daya tarik elektoral dan jaringan luas di masyarakat.
Seorang kader PPP menyebutkan, siapapun yang terpilih nantinya harus mampu membawa energi baru tanpa meninggalkan jati diri partai.
“PPP butuh figur yang bisa mengembalikan kejayaan di DPRK Bireuen,” ujarnya.
Kontestasi ini tidak sekadar soal figur, melainkan pertarungan gagasan—antara penguatan basis tradisional, kesinambungan ideologi, dan ekspansi elektoral.
Banda Aceh: Persaingan Ketat dan Kebangkitan Srikandi

Setelah Bireuen, Muscab akan berlanjut di Banda Aceh pada 27 April 2026. Di ibu kota provinsi, persaingan diprediksi lebih ketat dengan munculnya sejumlah kader senior.
Di antaranya Asnawi Amin sebagai petahana, Saifullah, serta Faisal Ridha.
Menariknya, Muscab kali ini juga diramaikan oleh kehadiran dua tokoh perempuan, yakni Syarifah Munira dan Husniaty Bantasyam.
Kehadiran mereka menjadi simbol menguatnya peran perempuan dalam tubuh PPP, sekaligus menandai arah regenerasi dan inklusivitas partai ke depan.
“Ini pertanda baik. PPP tidak kekurangan kader. Banyak pilihan, banyak energi, satu tujuan,” kata Ilmiza.
Penentuan Arah Politik PPP Aceh
Muscab PPP se-Aceh kali ini dinilai sebagai arena penting dalam menentukan arah perjuangan partai di tingkat daerah. Bukan sekadar memilih ketua, tetapi juga menguji kedewasaan kader dalam menjaga soliditas.
Kader diharapkan menjadikan Muscab sebagai ruang konsolidasi dan rekonsiliasi, bukan ajang polarisasi.
Dengan dinamika yang berkembang di Bireuen dan Banda Aceh, satu hal menjadi jelas: PPP Aceh tengah bergerak mencari format terbaik untuk kembali menjadi kekuatan politik yang diperhitungkan pada Pemilu 2029. (Red)










