KABAR BIREUEN- Rombongan panitia lomba Foto Potret Kemiskinan Bireuen 2018 bersama fotografer menyambangi kediaman Muhammad Rozi (9), Minggu siang (7/10/2018 di Desa Cot Jrat, Kecamatan Kota Juang, Kabupaten Bireuen.
Panitia sengaja datang untuk menyerahkan sembako, untuk Rozi yang menjadi objek foto Aqil Azizi, pemenang kedua lomba foto tersebut Kedatangan panitia
Jalan becek dan berlumpur harus dilalui ke rumah bocah, anak dari Hermawan dan Nurul Hayati.
Ayah dari Rozi menderita lumpuh sewaktu ia masih bayi akibat kcelakaan dan hanya bisa terbaring tak berdaya sudah 9 tahun lamanya.
Saat disambangi panitia dan sejumlah fotografer Bireuen, Hermawan hanya bisa terbaring di bale depan rumahnya.
Untuk membiaya kebutuhan sehari-hari, istrinya bekerja membuat belanga dari tanah liat dirumahnya yang cuma berukuran 4×5 meter berdinding tepas itu.
Keperluan air bersihpun mereka menumpang dari tetangga yang jaraknya sekitar 20 meter dari gubuk mereka.
“Terima kasih sudah datang dan memberikan bantuan sembako. Pada kesempatan ini saya titip pesan melalui kalian supaya pemerintah memperhatikan kondisi kami dan membantu merenovasi atau merehab rumah kami,” harap Hermawan lirih.
Sebelumnya, panitia juga telah mendatangi rumah objek foto lainnya untuk menyerahkan sembako, yaitu ke kediaman Ramdhan (50), warga Juli Meunasah Seutuy, Kecamatan Juli, yang berkerja sebagai penjual kaleng bekas (brok-brok).
Kebetulan, saat panitia datang bersama pemenang lomba foto M Haikal, Ramadhan tak berada di rumah, sembako itupun akhirnya diterima anaknya.
Panitia juga sempat menyambangi rumah Wak Fatimah di Dusun Paloh, Kuta Meuligo, Kecamatan Jeumpa, Bireuen, namun saat itu janda tersebut tak berada di rumahnya karena sedang berjualan.
Rombongan kemudian mendatangi langsung Fatimah di lapak berjualan bunga tusuk di Jalan Pengadilan Bireuen untuk menyerahkan sembako.
Selama ini Wak Fatimah menggantungkan hidup dengan berjualan setiap harinya dengan penghasilan berkisar Rp 50- 100 ribu demi membiayai kebutuhannya bersama tiga anaknya, yang semuanya tak lagi bersekelah.
“Terima kasih atas bantuan kalian, semoga menjadi berkah dan amal bagi adek-adek semuanya,” ucapnya haru.
Sembako juga diserahkan kepada tiga objek foto lainnya, yaitu untuk Nek Rafi’ah (59), warga Dusun Alue Buloh, Desa Alue Iet, Kecamatan Peusangan Siblah Krueng.
Sehari-harinya, dia membersihkan pelepah daun kelapa yang sudah kering dijadikan lidi. Yang kemudian lidi itu dijual kepada pengumpul dengan harga Rp.1.000/ikatnya
Bantuan sembako juga diserahkan kepada Nek Raliah, yang tinggal seorang diri di rumahnya di Desa Pandak, Kecamatan Makmur, Kabupaten Bireuen.
Selanjutnya akan diserahkan kepada Amiruddin (37) di Desa Pulo Iboeh, Kecamatan Peusangan, Kabupaten Bireuen.
Pekerjaan sehari-harinya sebagai pemanjat kelapa, tetapi sudah hampir 2 tahun Amiruddin tidak bekerja sakit pinggang akibat jatuh dari pohon kelapa.
Bendahara Panitia lomba foto, Deni Putra SE, menegaskan kegiatan tersebut murni inisiatif dari Komunitas Kita Peduli Bireuen, yang diprakarsai Muazzinah Yacob dan didukung beberapa wartawan dan media online di Bireuen, salah satunya Kabar Bireuen.
Kegiatan ini bukan kegiatan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bireuen, tapi sumbangan para donatur, seperti Yayasan Purnama Care Foundation, IPEMI Medan, Jus Pinang Muda Aseuli milik Deni Putra, Warkop 88, Afriadi Dunia Barusa, Desi Safnita, Muslina dan sumbangan pribadi dari panitia lomba.
“Semoga kegiatan seperti bisa terus kita laksanakan setiap tahunnya,” harapnya. (Ihkwati)








