KABAR BIEUEN–Kisah atau sejarah Qurban berawal dari peristiwa Nabi Ibrahim yang akan me yembelihb putera tercintnya Nabi Ismail.

Kemudian disyiarkan oleh Nabi terakhir Muhammaf SAW yang menganjurkan umat Islam untuk menyembelih qurban di hari Raya Haji (Idul Adha).

Sejarah qurban dimulai dari kisah Nabi Ibrahim As dan Nabi Ismail As.Sesuai  kisahnya, Nabi Ibrahim tidak memiliki anak hingga dimasa tuanya, beliau berdoa kepada Allah. “ Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaklu seorang anak yang termasuk orang-orang yang shaleh (QS. Ash Shafaat (37: 100)

Demikian Tgk Idris (foto) dalam memberikan ceramah subuh dihadapan jamaah subuh Masjid Agung Sultan Jeumpa Senin  subuh (24/6/2019).

Allah memberikan kepada Nabi Ibrahim kabar gembira akan lahir seorang anak yang sabar, yang dilahirkan oleh Siti Hajar.

Menurut para ahli sejarah, Nabi Ismail lahir ketika Nabi Ibrahim berusia 86 tahun. Ismail tumbuh menjadi besar dan belajar Bahasa Arab di kalangan Bani Jurhum. Hingga pada suatu hari, ayahnya, Nabi Ibrahim datang menjumpainya. Allah mengisahkannya di dalam Al-Qur’an:

“Maka tatkala anak itu sampai  umur sanggup berusaha bersamasama Nabi Ibrahim, dan berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” (QS Ash-Shafaat [37] : 102)

Nabi Ibrahim datang menjumpai anaknya untuk menyampaikan perintah Allah agar menyembelihnya.  Setelah menunggu bertahun-tahun, Nabi Ibrahim baru dikaruniai anak di usia tuanya. Lalu beliau diperintahkan Allah untuk meninggalkan anak dan isterinya di suatu tempat asing yang jauh darinya dan tidak berpenghuni.

Meskipun sangat besar kecintaan beliau kepada keluarganya, namun beliau seorang yang teguh dan taat terhadap perintah Allah. Tidak sedikitpun beliau bergeming, bahkan bersegera ketika Allah memerintahkannya.

Nabi Ismail pun menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. (QS Ash-Shafaat [37] : 102)

Nabi Ismail meminta ayahnya untuk mengerjakan apa yang Allah perintahkan. Dan beliu berjanji kepada ayahnya akan menjadi seorang yang sabar dalam menjalani perintah itu. Sungguh mulia sifat Nabi Ismail. Allah memujinya di dalam Al-Qur’an:

“Dan ceritakanlah (Hai Muhammad kepada mereka) kisah Ismail (yang tersebut) di dalam Al Quraan. Sesungguhnya ia adalah seorang yang benar janjinya, dan dia adalah seorang rasul dan nabi.” (QS Maryam [19] : 54)

Allah melanjutkan kisahnya di dalam Al-Qur’an: “Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipisnya, (nyatalah kesabaran keduanya ).” (QS Ash-Shafaat [37] : 103)

Nabi Ibrahim lalu membaringkan anaknya di atas pelipisnya (pada bagian wajahnya) dan bersiap melakukan penyembelihan dan Ismail pun siap mentaati perintah ayahnya.

“Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu  Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan domba yang besar.” (QS Ash-Shafaat [37] : 104:107)

Allah menguji Nabi Ibrahim dengan perintah untuk menyembelih anaknya tercinta, Nabi Ibrahim dan Ismail  pun menunjukkan keteguhan, ketaatan dan kesabaran mereka dalam menjalankan perintah itu.

Lalu Allah menggantikan dengan sembelihan besar, yakni berupa domba jantan dari Surga, yang besar berwarna putih, bermata bagus, bertanduk serta diikat dengan rumput samurah.

Demikianlah sejarah Ibadah qurban dari Nabi Ibrahim dan Ismail yang disampaikan Tgk Idris, hingga saat ini menjadi ibadah sunnah yang utama bagi umat Islam di hari Raya Idul Adha.

Tgk Idris juga mengemukakan, pengertian Qurban yaitu menyembelkih hewan Qurban dilakukan pada hari Raya Idul Adha 10 Zulhijjah sesuai kalender Islam  atas perintah Allah.

Menyembelih Qurban dilakukan setelah selesai melakasakan shalat Idul Adha.  Hukum berqurban sebagai sunnah muakkat atau sunnah yang diutamakan,” sebutnya.

Anjuran berqurban, dalam Hadsit Rasulullah bSAW, “ Barang siapa yang menyembelih qurban setelah shalat Ied maka ibadah qurbannya telah sempurna dan apa yang diperbuatnya  telah sesuai sunnah (HR Bukhari dan Muslim). (H.AR Djuli).

BAGIKAN