KABAR BIREUEN – Badan Baitul Mal Kabupaten (BMK) Bireuen telah menyalurkan sekitar 85 persen dana zakat dan infak Tahap I Tahun 2020 kepada para penerima yang berhak yang tersebar di seluruh wilayah Kabupaten Bireuen.

Jumlah tersebut dari keseluruhan Rp3.997.977.000 dana zakat dan infak yang terdiri dari Rp2.267.630.000 dan infak Rp1.730.147.000. Sebagian besar penyaluran zakat dan infak dilakukan dengan sistem transfer bank (nontunai) ke rekening penerima.

Ketua BMK Bireuen Tgk Muhammad Hafiq, S,Sy, Selasa 28 Juli 2020 mengatakan dana zakat Rp2.267.630.000 disalurkan kepada 215 orang fakir uzur Rp322.500.000, penyaluran hak miskin melalui UPZ kecamatan untuk 214 orang Rp214 juta. Kepada 1.065 orang miskin Rp1.065.000.000.

Lalu Hak miskin tunanetra 76 orang Rp53.200.000, hak muallaf kepada 89 orang Rp88.200.000. Kepada 600 santri Rp600 juta. Berikutnya bantuan musibah kebakaran Rp290 juta dan pengeluaran lainnya sesuai aturan.

Tgk Muhammad Hafiq didampingi Kordinator Bidang Sosialisasi dan Pembinaan Murdeli SH menjelaskan yang belum disalurkan yaitu beasiswa kepada 1.202 orang siswa miskin jenjang SD, SMP, MI, MTs dan MA Rp601 juta.

“Untuk santri sedikit terhambat sebab belum seluruh dayah mengirimkan data santri penerima ke BMK Bireuen, tetapi yang sudah menyerahkan data segera ditransfer ke rekening santri,” katanya.

Muhammad Hafiq mengatakan dana zakat dan infak yang disalurkan termasuk sisa dana infak tahun 2019 yang belum seluruhnya tersalurkan. Sementara dana zakat seluruhnya disalurkan.

Muhammad Hafiq menyampaikan terima kasih kepada Muzakki (wajib zakat) dan Munfiq (pemberi infak) yang telah menyalurkan melalui Baitul Mal Bireuen untuk disalurkan kepada yang berhak menerima sesuai aturan Syariat Islam.

“Kami berharap kepada pimpinan BUMN dan instansi vertikal serta pengusaha di Kabupaten Bireuen untuk dapat menyalurkan zakat dan infak melalui Baitul Mal Bireuen sebagai lembaga resmi amil zakat,” katanya.

Kepala Sekretariat BMK Bireuen Hamdani S.Ag mengatakan penyaluran zakat dan infak kali ini hampir seluruhnya dilakukan secara nontunai. “Hanya fakir uzur dan orang yang sakit yang diantar langsung ke rumahnya,” tukas Hamdani. (Ihkwati)

BAGIKAN