KABAR BIREUEN-Bencana banjir dan angin kencang yang melanda sebagian daerah Propinsi Aceh dalam kurun satu pekan terakhir di pertengahan Mei 2020 telah menyebabkan terjadinya kerugian material.

Propinsi Aceh harus waspada dengan meningkatnya ancaman bencana alam seperti banjir dan tanah longor terutama akibat perubahan iklim karena kenaikan suhu udara yang memicu cuaca ekstrim.

Dalam satu studi yang dilakukan Program Shared Resources Join Sollution yang belum lama dirilis, telah dibuat skeario dampak perubahan iklim di Aceh akibat meningkatnya suhu udara global antara 2 sampai 4 derajat Celcius antara tahun 2030 – 2070.

“Perubahan iklim saat ini sudah terjadi. Cuaca ekstrim seperti curah hujan tinggi akan memperburuk dampak dari kerusakan hutan yang sekarang terjadi dimana-mana akibat ilegal logging dan perambahan kawasan hutan ,” kata Suhaimi Hamid, Ketua Forum DAS Krueng Peusangan di Bireuen, Rabu (20/5/2020).

Dalam kondisi perubahan iklim diprediksi Sumatera bagian Utara (termasuk Aceh), akan terjadi peningkatan curah hujan sebesar 24 persen selama kuartal basah dalam setahun. Curah hujan yang tinggi akan meningkatkan debit air di sungai, membanjiri daerah daratan dan pesisir.

“Untuk itu kita perlu meningkatkan perlindungan terhadap daerah-daerah sepanjang aliran sungai dan juga kawasan hutan, sehingga erosi dan longsor bisa dikurangi,” kata Suhaimi.

Akibat meningkatnya suhu global, Aceh juga akan mengalami ancaman naiknya permukaan air laut yang bisa mengancam daerah-daerah pesisir terutama di bagian timur Aceh. Masyarakat harus dipersiapkan sedini mungkin.

Menurut studi yang dilaksanakan bersama konsorsium program SRJS tersebut, kenaikan permukaan air laut dapat menimbulkan konsekuensi yang parah bagi keamanan pangan (lokal) dan proteksi daerah pesisir, akuakultur (budidaya perairan) dan hutan bakau adalah yang paling terkena dampaknya.

Pemukiman manusia di daerah pesisir, dan pertanian dataran rendah, akan mengalami dampak kenaikan permukaan air laut.

“Untuk itu daerah pesisir harus mempertahankan keberadaan hutan bakaunya seperti Aceh Timur, Langsa dan Aceh Tamiang agar dampak perubahan iklim ini bisa dimitigasi,”  sebutnya.

Suhaimi mengingatkan semua pihak untuk tidak memperburuk kondisi dengan membiarkan pengrusakan hutan. Karena saat ini keberadaan hutan akan menjadi benteng untuk menghadapkan dampak perubahan iklim yang sedang terjadi.

Aceh telah kehilangan tutupan hutan rata-rata sekitar 15 ribu hektar per tahun. Jika ini dibiarkan berlanjut, maka Aceh akan menjadi kawasan yang sangat rentan bencana di masa depan.(Ihkwati)

BAGIKAN