KABAR BIREUEN, Bireuen – Upaya pencegahan stunting harus dimulai jauh sebelum seorang anak dilahirkan, yakni sejak masa pranikah. Pesan ini menjadi fokus utama yang disampaikan Dekan Fakultas Kesehatan (FKes) Universitas Almuslim (Umuslim), Siti Rahmah S.ST., M.Kes., saat menjadi pemateri utama dalam Bimbingan Perkawinan (Bimwin) daring yang diselenggarakan Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Bireuen melalui aplikasi Zoom, Rabu (29/7/2026).
Kegiatan yang digelar Seksi Bimbingan Masyarakat (Bimas) Islam Kemenag Bireuen tersebut diikuti para calon pengantin (catin), Kepala Kantor Urusan Agama (KUA), serta penyuluh agama Islam dari 17 kecamatan di Kabupaten Bireuen.
Dalam pemaparannya, Siti Rahmah menekankan pentingnya kesiapan fisik serta pemahaman kesehatan reproduksi bagi calon pasangan sebelum memasuki jenjang pernikahan. Menurutnya, langkah tersebut merupakan fondasi utama dalam melahirkan keluarga sehat sekaligus menekan angka stunting.
“Memutus mata rantai stunting tidak bisa dilakukan secara mendadak saat anak lahir. Fondasinya dimulai sejak pranikah melalui pemeriksaan kesehatan, pemenuhan gizi, dan pemahaman kesehatan reproduksi,” ujarnya.
Ia menjelaskan, kesiapan calon ayah dan ibu dalam mengawal 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), mulai dari masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun, sangat menentukan lahirnya generasi Bireuen yang sehat, cerdas, dan berkualitas.
Sementara itu, Kepala Kemenag Bireuen, Dr. H. Zulkifli, S.Ag., M.Pd., mengingatkan bahwa pernikahan bukan sekadar menyatukan dua insan, tetapi juga merupakan ibadah panjang yang membutuhkan kesiapan lahir dan batin.

“Pernikahan bukan sekadar menyatukan dua insan, melainkan komitmen bersama mewujudkan keluarga sakinah, mawaddah, wa rahmah. Setiap calon pengantin harus memahami peran dan tanggung jawabnya,” tegas Zulkifli.
Kepala Seksi Bimas Islam Kemenag Bireuen, H. Rifal Fauzal, S.H., mengatakan, pelaksanaan Bimwin secara daring merupakan langkah adaptif Kemenag untuk memperkuat pembinaan calon pengantin melalui jaringan KUA di seluruh kecamatan.
Ia berharap materi yang disampaikan akademisi dan para narasumber mampu membekali calon pengantin agar lebih siap membangun rumah tangga yang tangguh.
BACA JUGA: 76 Catin di Bireuen Ikuti Bimbingan Perkawinan Secara Daring
“Harapan kami, bekal yang diberikan para akademisi dan ulama menjadikan calon pengantin di Bireuen lebih siap membangun keluarga yang kuat serta melahirkan generasi yang sehat dan berakhlak mulia,” katanya.
Keterlibatan akademisi Umuslim dalam kegiatan tersebut menjadi bagian dari komitmen kampus untuk berkontribusi langsung dalam menyelesaikan persoalan masyarakat, khususnya di bidang kesehatan keluarga.
Melalui sinergi antara perguruan tinggi dan Kementerian Agama, program Bimbingan Perkawinan diharapkan mampu meningkatkan kesiapan calon pengantin, baik dari sisi spiritual, psikologis, maupun kesehatan, sehingga tercipta keluarga yang sejahtera dan generasi Bireuen yang lebih sehat, cerdas, serta berkarakter. (Red)









