PERINGATAN Hari Ulang Tahun (HUT) ke-27 Kabupaten Bireuen pada 12 Oktober 2026 menjadi momentum untuk melihat kembali perjalanan pembangunan daerah, termasuk di sektor kesehatan. Di antara berbagai fasilitas pelayanan publik yang terus dikembangkan, Badan Layanan Umum Daerah Rumah Sakit Umum Daerah (BLUD RSUD) dr. Fauziah Bireuen menempati posisi penting sebagai salah satu pusat rujukan regional di Aceh.
Pada momentum tersebut, masa kepemimpinan Bupati Bireuen Ir. H. Mukhlis, S.T., bersama Wakil Bupati Ir. H. Razuardi, M.T., telah memasuki usia 1 tahun 7 bulan 24 hari. Artinya, perjalanan pemerintahan pasangan tersebut telah melewati bagian penting dari periode kepemimpinan lima tahun yang menjadi masa jabatan pemerintahan daerah.
Dalam rentang waktu tersebut, pembangunan dan peningkatan kualitas pelayanan kesehatan menjadi salah satu bagian yang terus mendapat perhatian. RSUD dr. Fauziah menjadi salah satu objek penting dalam upaya tersebut, mengingat rumah sakit ini tidak hanya melayani masyarakat Bireuen, tetapi juga menjadi tempat rujukan bagi masyarakat dari Kabupaten Bener Meriah dan Aceh Utara.
RSUD dr. Fauziah merupakan rumah sakit tipe B dengan cakupan layanan yang terus dikembangkan. Rumah sakit ini menyediakan pelayanan dokter spesialis yang relatif lengkap serta sejumlah layanan subspesialistik yang memperkuat kemampuannya sebagai rumah sakit rujukan.
Tujuh divisi subspesialistik telah diselenggarakan, meliputi bedah digestif, bedah vaskuler, bedah onkologi, cardio intervensi, konsultan kardiovaskuler, konsultan cardiointensiv, dan konsultan emergency.
Selain itu, RSUD dr. Fauziah juga memiliki layanan perawatan intensif anak.
Pada sisi layanan unggulan, rumah sakit ini mengembangkan pelayanan spesialistik mata-retina, bedah saraf, ortopedi, catheterization laboratory (cath lab), MRI, CT Scan, endoscopy, serta berbagai layanan penunjang diagnostik lainnya.
Pelayanan dasar dan rujukan juga ditopang oleh keberadaan Unit Gawat Darurat (UGD), pelayanan rawat inap, fasilitas perawatan intensif berupa ICU, ICCU dan NICU, kamar operasi, serta berbagai poliklinik untuk pasien rawat jalan.
Dengan spektrum layanan tersebut, keberadaan RSUD dr. Fauziah bukan sekadar sebagai tempat masyarakat memperoleh pengobatan. Rumah sakit ini telah menjadi bagian penting dari sistem pelayanan kesehatan regional di wilayah tengah dan timur Aceh.
Di tengah kebutuhan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang semakin kompleks, fungsi RSUD dr. Fauziah juga memiliki dimensi sosial yang sangat kuat.
Rumah sakit daerah pada hakikatnya merupakan salah satu jaring pengaman sosial kesehatan. Karena itu, pelayanan tidak hanya diarahkan kepada masyarakat yang mampu membayar secara mandiri, tetapi juga kepada masyarakat yang memperoleh pembiayaan melalui BPJS Kesehatan, Jaminan Kesehatan Aceh (JKA), maupun masyarakat kurang mampu.
Fungsi sosial tersebut menjadikan pengembangan RSUD dr. Fauziah memiliki arti lebih luas daripada sekadar pembangunan fisik dan pengadaan peralatan kesehatan. Setiap peningkatan kapasitas rumah sakit pada akhirnya diharapkan dapat memperluas akses masyarakat terhadap layanan kesehatan yang bermutu.
Rumah sakit ini juga menjadi tempat praktik, magang dan pelatihan bagi mahasiswa kedokteran, keperawatan, kebidanan serta tenaga kesehatan lainnya dari berbagai institusi pendidikan di Aceh.
Dengan demikian, RSUD dr. Fauziah tidak hanya berfungsi sebagai tempat pelayanan pasien, tetapi juga sebagai bagian dari ekosistem pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia bidang kesehatan.
Di tengah masyarakat, rumah sakit juga berperan dalam promosi kesehatan, pencegahan penyakit dan pelaksanaan berbagai program screening kesehatan.
Sejumlah Pengembangan di Era Mukhlis-Razuardi
Dalam konteks kepemimpinan Bupati Bireuen H. Mukhlis dan Wakil Bupati H. Razuardi, pengembangan RSUD dr. Fauziah diarahkan untuk memperkuat infrastruktur, memperluas layanan spesialistik dan subspesialistik, sekaligus meningkatkan kapasitas rumah sakit sebagai pusat rujukan.

Salah satu langkah strategis adalah pembebasan lahan baru untuk RSUD dr. Fauziah seluas sekitar 19.000 meter persegi melalui mekanisme ruislag atau tukar guling dengan TNI.
Langkah ini memiliki nilai strategis karena lahan tersebut merupakan bekas asrama TNI AD yang berada di belakang RSUD dr. Fauziah. Proses ruislag tersebut sebelumnya telah berjalan sangat panjang dan disebut sempat mandek selama 24 tahun.
Pada masa pemerintahan Mukhlis-Razuardi, proses tersebut kembali bergerak hingga akhirnya dapat diwujudkan. Kelancaran proses itu juga mendapat dukungan dari jajaran TNI, termasuk Dandim 0111/Bireuen dan Danrem Lilawangsa.
Lahan baru tersebut membuka peluang bagi pengembangan RSUD dr. Fauziah pada masa mendatang. Saat ini, pembangunan pagar dan penimbunan lahan hasil ruislag sedang dilaksanakan.
Jika pengembangan kawasan ini dapat terus dilanjutkan, tambahan lahan tersebut akan menjadi aset penting dalam memperkuat kapasitas rumah sakit dan menjawab kebutuhan pengembangan fasilitas pelayanan kesehatan di masa depan.
Pengembangan rumah sakit juga dilakukan melalui peningkatan kualitas sarana yang telah tersedia.
Pada 2025, rehabilitasi ruang rawat inap RSUD dr. Fauziah dilaksanakan dan telah selesai. Ruang yang telah direhabilitasi tersebut kini sudah digunakan untuk melayani pasien.
Peningkatan kualitas ruang rawat inap menjadi bagian penting dalam memberikan kenyamanan kepada pasien dan keluarga selama menjalani perawatan.
Sebab, kualitas pelayanan rumah sakit tidak hanya ditentukan oleh kemampuan tenaga medis dan kecanggihan alat kesehatan, tetapi juga oleh lingkungan serta fasilitas yang menunjang proses penyembuhan pasien.
Layanan Jantung dan Pembuluh Darah Semakin Diperkuat
Salah satu pengembangan yang cukup signifikan adalah layanan Intensive Cardiovascular Care Unit (ICVCU).
Pengembangan layanan tersebut dilakukan melalui pengadaan alat kesehatan dengan anggaran sekitar Rp1,87 miliar yang bersumber dari Dana Otonomi Khusus (Otsus) tahun 2025. Saat ini layanan ICVCU tersebut telah aktif melayani pasien.
Keberadaan layanan tersebut memperkuat kemampuan RSUD dr. Fauziah dalam menangani pasien dengan kondisi kardiovaskular yang membutuhkan pengawasan dan perawatan intensif.
Pengembangan layanan jantung juga diperkuat melalui layanan catheterization atau cath lab. Layanan katerisasi jantung tersebut dikembangkan melalui hibah Kementerian Kesehatan dalam Proyek SIHREN 2026. Saat ini layanan tersebut juga telah melayani pasien.
Pengembangan layanan jantung menjadi bagian penting dalam memperkuat posisi RSUD dr. Fauziah sebagai rumah sakit rujukan regional, sehingga masyarakat tidak selalu harus dirujuk ke rumah sakit di luar daerah untuk mendapatkan pelayanan tertentu.
Pengembangan lainnya dilakukan pada layanan bedah digestif melalui pengadaan peralatan kedokteran endoscopy.
Pengadaan alat tersebut menggunakan anggaran sekitar Rp4,4 miliar yang bersumber dari Dana Otsus 2025.
Layanan endoscopy tersebut kini telah digunakan untuk melayani masyarakat.

Data pelayanan menunjukkan bahwa sepanjang Januari hingga Agustus 2026, sedikitnya 106 pasien telah mendapatkan layanan endoscopy di RSUD dr. Fauziah.
Angka tersebut menunjukkan bahwa peralatan yang dihadirkan bukan sekadar menjadi tambahan fasilitas rumah sakit, tetapi telah dimanfaatkan secara langsung untuk kebutuhan pelayanan pasien.
Perkembangan RSUD dr. Fauziah juga menyentuh aspek pendidikan kedokteran.
Rumah sakit ini tengah menjalani proses peningkatan status dari rumah sakit pendidikan satelit menjadi rumah sakit pendidikan utama Fakultas Kedokteran Universitas Almuslim.
Proses tersebut saat ini sedang dalam tahap penilaian oleh Kementerian Kesehatan.
Di situlah sesungguhnya makna sebuah rumah sakit pemerintah. Ia bukan hanya bangunan dengan fasilitas medis, tetapi tempat masyarakat melabuhkan asa ketika kesehatan menjadi persoalan paling penting dalam kehidupan.
Karena itu, kebahagiaan terbesar pemerintah daerah bukan semata-mata melihat bertambahnya gedung atau peralatan rumah sakit. Lebih dari itu, kebahagiaan tersebut terletak ketika RSUD dr. Fauziah mampu memberikan pelayanan terbaik, membantu menyelamatkan pasien dan menjadi rumah sakit yang dibanggakan masyarakat Bireuen.
Menatap Perjalanan Berikutnya
Pada HUT ke-27 Kabupaten Bireuen, perjalanan pembangunan RSUD dr. Fauziah menjadi salah satu bagian yang patut dicermati.
BACA JUGA: Tuntas Setelah 24 Tahun, Pemkab Bireuen Resmi Terima Hibah Lahan TNI untuk Perluasan RSUD dr Fauziah
Masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Lahan baru masih membutuhkan pengembangan. Infrastruktur harus terus diperkuat. Sumber daya manusia perlu ditingkatkan. Layanan baru harus dijaga keberlanjutannya. Dan yang tidak kalah penting, mutu pelayanan harus senantiasa menjadi perhatian.
Masa kepemimpinan Mukhlis-Razuardi masih menyisakan perjalanan yang panjang. Apa yang telah dikerjakan selama 1 tahun 7 bulan 24 hari dapat menjadi bagian dari fondasi bagi pengembangan RSUD dr. Fauziah pada tahun-tahun berikutnya.
Semoga seluruh ikhtiar tersebut terus mendapatkan kemudahan dan keberkahan.
Semoga Bupati Bireuen H. Mukhlis dan Wakil Bupati H. Razuardi senantiasa berada dalam lindungan Allah SWT dalam menjalankan amanah pemerintahan.
Dan semoga setiap ikhtiar untuk membangun dan meningkatkan pelayanan kesehatan menjadi amal kebaikan bagi para pemimpin daerah, manajemen rumah sakit, dokter, perawat, bidan, tenaga kesehatan, tenaga keteknisan medis serta seluruh tenaga terampil yang mengabdikan diri di RSUD dr. Fauziah.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan sebuah pelayanan kesehatan bukan hanya seberapa lengkap fasilitas yang dimiliki, tetapi seberapa banyak harapan yang berhasil dijaga.
Semoga RSUD dr. Fauziah terus tumbuh menjadi rumah sakit yang memberikan pelayanan prima, menjadi rujukan yang semakin kuat bagi masyarakat Bireuen dan wilayah sekitarnya, serta menjadi tempat masyarakat melabuhkan asa untuk kembali sehat. (Suryadi)











