Oleh: M. Zubair, S.H.,M.H.
ASN Pemkab Bireuen
SEMUA kita ummat muslim, sudah mengetahui banyak keutamaan dan keistimewaan ibadah puasa pada bulan Ramadhan. Namun yang menjadi pertanyaan sekarang adalah apa saja persiapan yang mesti kita lakukan agar keutamaan puasa bisa kita dapatkan secara sempurna? Apa kita harus latihan puasa dulu sebelum puasa Ramadhan, walaupun ada di antara kita telah terbiasa dengan puasa Senin Kamis.
Bulan suci Ramadhan tahun 1447 H/2026 M ini dimulai pada 19 Februari mendatang, yang berati hanya tinggal beberapa hari lagi. Dengan demikian, bukan persiapan fisik saja yang perlu kita lakukan, namun yang lebih penting adalah persiapan mental dan rohani. Persiapan mental dan rohani inilah yang menjadi tolok ukur keberhasilan bulan Ramadhan kita. Jika kita telah siap mental dan rohani dengan sebenar-benarnya, insya Allah Ramadhan kita akan berhasil dan setelah Ramadhan kita akan menjadi manusia yang lebih baik.
Sebaliknya, kalau persiapannya blank bahkan seenaknya saja maupun asal-asalan, kemungkinan hasilnya pun bisa ditebak akan gagal. Bahkan bukan menjadi lebih baik, tetapi malah bisa menjadi lebih buruk karena merasa sudah terbebas dari bulan Ramadhan. Jika tidak ada persiapan dengan sungguh-sungguh, maka puasa itu terasa berat dan terbeban sehingga melakukannya juga terpaksa.
Persiapan Mental
Manusia itu makhluk yang sempurna, ia diberi akal, pikiran, jiwa hati, nafsu, juga bentuk fisik yang dapat dilihat. Manusia merupakan makhluk yang sempurna dibandingkan makhluk-makhluk lainnya. Sayangnya, nafsu yang dimiliki manusia cenderung mengajaknya ke hal-hal buruk. Jadi setiap kali mau beramal baik, yang muncul adalah bayangan-bayangan yang negatif alias nggak enak atau susah saja.
Misalkan, kita sudah tahu bahwa besok akan memasuki bulan Ramadhan dan harus melaksanakan puasa wajib. Namun puasa belum jalan, adrenalin tubuhnya sudah terpompa untuk membayangkan sesauatu yang nggak enak dari puasa tersebut. Yang muncul adalah bayang-bayang lapar, haus, capek, ngantuk, dan bingung mau cari bukaan apa. Alhasil, belum mulai berpuasa sudah terasa susah.
Hal tersebut sangat sesuai dengan firman Allah SWT dalam Q.S : Yusuf ayat 53, “Dan aku tidak (menyatakan) diriku bebas (dari kesalahan), karena sesunggungnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan, kecuali (nafsu) yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun, Maha Penyanyang”.
Sebaliknya, kalau kita mau melaksanakan sesuatu yang menyenangkan selain nahan lapar dan haus, bayangan yang muncul tidak seburuk itu. Misalkan, kita mau pesiar ke Paris dua minggu lagi, pasti bayangan kesenangan yang terus terasa di hati. Kita pasti membayangkan bagaimana serunya perjalanan dengan pesawat bersama pacar atau keluarga tercinta. Sesampai di Paris bisa foto bareng di Menara Eifel, makan makanan enak, baju baru yang nggak ada duanya. Berbagai bayangan seru lainnya juga bermuculan, walaupun belum menjalaninya sudah sangat semangat..
Dalam menyambut bulan suci Ramadhan ini, juga harus berusaha untuk meninumbuhkan adrenalin yang positif dengan menbayangkan bulan yang penuh berkah tersebut apabila kita pergunakan sebaik-baiknya, maka hasilnya pun akan kita peroleh kenikmatan yang tiada taranya.
Dengan demikian kita harus berpikir umur tidak panjang, bisa jadi bulan Ramadhan ini adalah puasa Ramadhan terakhir bagi kita. Jadi kita wajib berupaya untuk bisa selamat dalam kehidupan panjang yang tidak ada habis-habisnya nanti setelah dunia ini kiamat.
Di sinilah pentingnya pesiapan mental untuk menyambut bulan suci Ramadhan yang telah di ambang pintu. Mari kita berdoa kepada Allah SWT, agar kita selalu diberi petunjuk dan hidayah jalan yang lurus dan benar. Sebagaimana Rasulullah SAW berwasiat kepada Mu’az bin Jabal : Berdoalah, “Ya Allah, bantulah aku untuk mengingat-Mu, bersyukur kepada-MU dan memperoleh (kualitas) ibadah kepada-MU.”
Persiapan Rohani
Selain persiapan mental, yang begitu penting untuk menyambut datangnya bulan Ramadhan, adalah persiapan rohani juga tidak boleh terlewatkan. Apabila rohani kita kokoh dan kuat maka akan sangat mudah kita menjalani semua aktivitas Ramadhan. Kekuatan rohani didukung dengan doa, sebagaimana doa seorang muslim merupakan kekuatan. Nabi Muhammad SAW bersabda, “Doa itu senjata atau tameng orang mukmin”.
Doa adalah otak orang beribadah, jadi orang yang nggak pernah berdoa berati tidak memiliki otak. Selian itu, orang yang tidak mau berdoa juga disebut orang kehilangan akal atau sombong. Padahal doa itu dilakukan untuk kepentingan dirinya sendiri, dan doa itu bertujuan untuk memantapkan hatinya.
Dalam Q.S : Al-Baqarah ayat 186 Allah SWT berfirman, “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-KU dan beriman kepada-Ku, agar memperoleh kebenaran”.
Dari ayat tersebut sudah jelas bahwa doa akan dikabulkan apababila seseorang memenuhi perintah Allah dan beriman kepada-Nya. Artinya, apabila perbuatan kita masih “tidak jelas” benar atau ngak, ketaatan dan keimanan kita kepada Allah juga masih samar-samar. Dengan demikian sepertinya berlebihan kalau kita berharap doa kita berkenan dikabulkan cepat-cepat, meskipun Allah SWT tidak pernah pilih kasih dan maha adil.
Dalam sebuah hadis dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah SAW betrsabda, “Sesungguhnya Allah itu thayyib (terlepas dari noda dan kekurangan), tidak menerima sesuatu kecuali yang tayyib dan sesungguhnya Allah memerinthakan kepada orang mukmin (sebagaimana Allah perinthakan kepada utusan-Nya (rasul), maka Allah berfirman, “Hai Rasul-Rasul, Makanlah dari makanan yang baik, dan kerjakanlah amal shaleh.” (Q.S : Al-Mukminun , 51).
Selanjutnya Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, Makanlah dari apa-apa yang baik yang telah kami rezekikan kepada kamu”. (Q.S : AL-Baqarah, 172).
Oleh sebab itu, persiapan rohani yang mantap dalam menyambut bulan suci Ramadhan harus benar-benar dijaga karena rohani merujuk pada kehidupan batiniah dan spiritual yang membutuhkan nutrisi berupa kebenaran dengan menjalankan semua perintah-Nya dan kedekatan dengan sang pencipta melalui doa-doa yang baik.
Berdoa memang bisa disembarang waktu, namun ada waktu yang lebih utama untuk berdoa yaitu pada sepertiga malam terakhir yaitu setelah kita melaksanakan shalat tahajud. Allah berfirman dalam Q.S : Al-Isra’ ayat 79, “Dan pada sebagian malam, lakukan sholat tahajud (sebagai suatu ibadah) tambahan bagimu. Mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji.”
Rasulullah lSAW juga bersabda, “Perintah Allah turun ke langit dunia di waktu tinggal sepertiga yang akhir dari waktu malam. Lalu berseru, adakah orang-orang-orang yang memohon (berdoa) pasti akan kukabulkan, adakah orang yang mengharapkan atau memohon ampunan, pasti akan Kuampuni baginya sampai waktu subuh.”
Dalam hadis qudtsi juga dijelaskan, “Aku malu-kata Allah, kalau hamba-Ku menengadahkan tangannya di malam hari untuk berdoa kepada-Ku, tetapi berakhir dengan tangan kosong.” Di sini jelas bahwa waktu sepertiga malam terakhir adalah waktu yang sangat berharga. Dan waktu tersebut pula menjadi alternatif untuk berdoa secara khusyuk kepada Allah SWT agar rohani kita kuat dalam beribadah pada bulan suci Ramadhan ini.
Begitulah pokok-pokok persiapan yang perlu kita lakukan untuk menyambut Ramadhan yang tinggal menghitug jam. Ramadhan harus kita persiapkan sebaik mungkin agar berkahnya dapat kita gapai dengan sempurna. Jangan sampai sudah capek-capek bangun sahur, nahan lapar, haus, letih , ternyata nggak dapat apa-apa selain kelalahan dan kelaparan.
Bagaimanapun juga, puasa Ramadhan harus diawali dan dijalanin dengan niat yang baik, dan untuk diingat bahwa Islam itu adalah agama yang mengajarkan keseimbangan. Keseimbangan antara habluminallah dan habluminannash.
Semoga kita sudah mempersiapkan diri dengan baik dalam menyambut bulan suci Ramadhan ini, sehingga setelah Ramadhan kita menjadi manusia yang bertaqwa, sebagaimana penegasan dalam QS surat Al-Baqarah ayat 183. Arti ayat tersebut adalah “”Wahai orang-orang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa”. [*]










