KABAR BIREUEN, Bireuen – Belasan wartawan media cetak, elektronik, dan online di Kabupaten Bireuen memboikot konferensi pers terkait kasus tertembaknya seorang anggota TNI Subdenpom IM/1-1 Bireuen, Pratu Galuh Nugraha, saat pengejaran terduga pengedar narkotika oleh Polda Aceh.
Meski ada beberapa wartawan yang tetap mengikuti konferensi pers tersebut.
Aksi boikot dilakukan sebelum konferensi pers yang dijadwalkan berlangsung pada Minggu (26/7/2026) pukul 13.00 WIB di Aula Mapolres Bireuen mengalami keterlambatan lebih dari dua jam tanpa adanya penjelasan resmi kepada para jurnalis yang telah hadir memenuhi undangan.
Sebelumnya, para wartawan menerima undangan resmi dari Sie Humas Polres Bireuen untuk menghadiri konferensi pers tersebut pada pukul 12.00 WIB di Aula Makodim Bireuen.
Namun, kemudian beredar informasi konferensi pers dipindah ke Mapokres Bireuen.
Mengetahui info tersebut, wartawan kemudian meluncur ke Mapolres Bireuen.
Saat sedang menunggu, melalui tim Humas Polres Bireuen di Grup What App Mitra Kerja Humas Res BRN meralat undang konferensi pers pukul 13.00 WIB.

Namun sampai pukul 14.55 WIB, kegiatan tak kunjung dimulai dan tidak ada seorang pun panitia maupun pejabat yang menemui wartawan untuk memberikan informasi terkait penyebab keterlambatan.
Merasa tidak dihargai dan kecewa dengan minimnya komunikasi dari penyelenggara, belasan wartawan akhirnya memilih meninggalkan Aula Mapolres Bireuen sebelum konferensi pers dimulai.
Konferensi pers itu sendiri rencananya dipimpin oleh Kabid Humas Polda Aceh dengan agenda penyampaian perkembangan penanganan kasus tertembaknya anggota POM TNI dari Kodim 0111/Bireuen saat operasi pengejaran terhadap pelaku yang diduga terlibat dalam peredaran narkotika di Kabupaten Bireuen.
Sejumlah wartawan menilai keterlambatan yang berlangsung lebih dari dua jam tanpa pemberitahuan menunjukkan kurangnya penghargaan terhadap waktu dan profesionalisme insan pers yang telah memenuhi undangan resmi.
“Kami hadir sesuai undangan dan tepat waktu. Namun sampai lebih dua jam tidak ada kejelasan maupun permintaan maaf dari penyelenggara. Bahkan ada sebagian dari kami yang belum makan siang. Karena itu kami memutuskan meninggalkan lokasi,” ujar seorang wartawan senior Bireuen kecewa.
Hal yang sama diungkapkan wartawan lainnya, yang menyebutkan, seharusnya pihak Kepolisian bisa menghargai waktu kita wartawan.
“Undangan awal pukul 12.00 WIB di Makodim, kemudian dialihkan ke Mapolres pukul 13.00 WIB, tapi sampai pukul 15.00 WIB, tidak ada pemberitahuan apapun. Berarti wartawan gak dihargai,” ungkapnya.
Para wartawan berharap ke depan setiap kegiatan yang melibatkan media dapat dikelola dengan lebih profesional, termasuk memberikan informasi apabila terjadi perubahan jadwal, sehingga hubungan kemitraan antara aparat penegak hukum dan insan pers tetap terjaga dengan baik. (Ihkwati)









