KABAR BIREUEN, Bireuen — Sebanyak 110 siswa Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 3 Bireuen tampil memukau dalam tari kolosal bertajuk “Meugurangsang” pada pembukaan Ajang Kompetisi Seni dan Olahraga Madrasah (AKSIOMA) se-Kabupaten Bireuen Tahun 2026.
Tari kolosal persembahan Sanggar Jeumpa Mirah MAN 3 Bireuen tersebut sukses menyemarakkan prosesi pembukaan AKSIOMA yang diselenggarakan Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Bireuen di Lapangan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Cot Gapu, Kecamatan Kota Juang, Bireuen, Sabtu (19/9/2026).
Penampilan 110 penari itu tidak sekadar menyuguhkan gerakan tari yang kompak dan dinamis. “Meugurangsang” juga membawa pesan tentang semangat perjuangan rakyat Aceh dalam mempertahankan tanah kelahiran dari ancaman penjajahan.
BACA JUGA: Buka Aksioma 2026, Bupati Bireuen Sampaikan Pesan kepada Peserta agar Tetap Rendah Hati Saat Menang
Dengan balutan gerakan yang gagah, penuh energi, serta sarat nilai budaya dan Islami, para penari berhasil menarik perhatian ribuan peserta dan tamu undangan yang hadir dalam acara tersebut.
Tari kolosal ini merupakan persembahan Sanggar Jeumpa Mirah MAN 3 Bireuen di bawah binaan Nur Azizah, S.Ag., yang juga menjabat sebagai Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala MAN 3 Bireuen. Koreografi digarap Nadia Ulfa, S.Pd., sedangkan penataan musik dipercayakan kepada Asna Musik Studio.
Koreografer Nadia Ulfa menjelaskan, “Meugurangsang” menggambarkan kobaran semangat pasukan Aceh yang bangkit mempertahankan tanah rencong dari ancaman penjajahan.

“Di bawah kepemimpinan Cut Nyak Dhien, para pejuang bersatu dengan keberanian dan tekad yang membara,” ujar Nadia kepada Kabar Bireuen.
Menurutnya, gerakan tari yang gagah, dinamis, dan penuh kekuatan menjadi simbol perjuangan rakyat Aceh yang pantang menyerah demi mempertahankan kehormatan dan tanah air.
Nuansa perjuangan semakin terasa melalui dentuman musik perang dan rangkaian gerakan yang menggambarkan kegigihan para pejuang. Sosok Cut Nyak Dhien ditampilkan sebagai pemimpin perempuan yang tegas dan berani, yang mengobarkan semangat pasukannya untuk menghadapi musuh.
Nadia mengatakan, “Meugurangsang” sekaligus menjadi simbol semangat perjuangan yang terus menyala meski berbagai rintangan menghadang dan pengorbanan tidak terelakkan.
“Jiwa perjuangan tetap hidup dalam setiap langkah para pejuang Aceh, hingga keberanian mereka menjadi warisan bagi generasi penerus,” jelasnya.
Penampilan kolosal tersebut pun menjadi salah satu daya tarik dalam pembukaan AKSIOMA se-Kabupaten Bireuen Tahun 2026. Perpaduan antara kekuatan gerak, musik, serta pesan sejarah dan budaya Aceh menjadikan “Meugurangsang” bukan hanya sebuah pertunjukan seni, tetapi juga sarana bagi generasi muda madrasah untuk mengenal dan menghidupkan kembali nilai-nilai perjuangan daerahnya. (Hermanto)












