KABAR BIREUEN, Banda Aceh — Bagaimana jika cerita dalam buku dilanjutkan dengan aksi nyata menjaga bumi? Inilah yang dilakukan Komunitas Read Aloud Anak Banda Aceh bersama Sobotik (Sofa Botol Plastik) melalui gerakan From Books to Action: Read, Clean Up & Care For Our Planet di Taman Ratu Safiatuddin, Banda Aceh, Minggu (20/9/2026).
Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 09.00 WIB hingga selesai tersebut, mengajak anak usia 3–8 tahun bersama orang tua untuk membaca, bermain, membersihkan lingkungan, sekaligus berkreasi menggunakan barang bekas.
Konsep ini menjadi cara komunitas memperkenalkan budaya membaca sejak dini sekaligus menanamkan kepedulian terhadap lingkungan melalui pengalaman langsung.
Tiga kegiatan utama menjadi rangkaian acara. Anak-anak terlebih dahulu mengikuti sesi Membaca Nyaring (Read Aloud) bersama Bunda Nourica, pegiat literasi Read Aloud Anak Banda Aceh.
Setelah itu, mereka diajak keluar dari halaman buku menuju aksi nyata melalui clean up bersama Founder Sobotik, Ayah Zal. Anak-anak memungut sampah dan belajar mengenali bahwa menjaga kebersihan lingkungan dapat dimulai dari tindakan sederhana.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan games kreasi dari sampah, yang melibatkan anak dan orang tua untuk mengubah barang bekas menjadi karya kreatif.
Ketua Pelaksana kegiatan, Mira Apriyanti, mengatakan antusiasme anak-anak menjadi bagian paling berkesan dari kegiatan tersebut.
“Anak-anak tidak hanya mendengarkan cerita dengan semangat, tetapi juga aktif saat clean up dan membuat kreasi dari sampah. Ini membuktikan bahwa anak-anak bisa belajar mencintai buku dan bumi sekaligus dengan cara yang menyenangkan,” ujar Mira.
Menurut Mira, kegiatan tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan satu hari. Dia ingin pengalaman yang diperoleh anak-anak dapat berlanjut menjadi kebiasaan di rumah.
“Semoga menjadi pemantik kebiasaan baik di rumah—anak gemar membaca, orang tua terlibat, dan keluarga semakin peduli lingkungan,” katanya.
Dia juga membawa semangat Little Stories, Big Memories, bahwa pengalaman sederhana yang dialami anak hari ini dapat menjadi kenangan sekaligus nilai yang mereka bawa hingga dewasa.
Founder Sobotik, Ayah Zal, mengatakan, kolaborasi dengan komunitas literasi memberikan pengalaman berbeda bagi anak-anak. Mereka tidak hanya diajak mengetahui pentingnya menjaga lingkungan, tetapi juga melihat secara langsung bahwa barang yang dianggap sebagai sampah masih dapat dimanfaatkan.
“Kami di Sobotik percaya perubahan besar dimulai dari aksi kecil. Hari ini anak-anak belajar bahwa botol plastik yang mereka pungut bisa punya kehidupan kedua,” ujar Ayah Zal.
Dia mengajak anak-anak melihat sampah dari sudut pandang berbeda.
“Jangan lihat sampah sebagai akhir, tetapi sebagai awal kreasi,” katanya.
Menurutnya, kebiasaan peduli lingkungan juga perlu dibangun sejak usia dini agar anak terbiasa menjaga kebersihan di lingkungan sekitar.
Sementara itu, Bunda Nourica mengatakan, sesi membaca nyaring tidak hanya bertujuan mengenalkan buku kepada anak. Lebih jauh, aktivitas tersebut menjadi ruang untuk membangun koneksi dan menumbuhkan imajinasi anak mengenai lingkungan yang sehat.
“Membaca nyaring itu bukan sekadar membacakan buku, tetapi membangun koneksi. Hari ini koneksinya terasa kuat sekali. Mata mereka berbinar, mereka bertanya, dan mereka berimajinasi tentang bumi yang bersih,” tutur Bunda Nourica.
Dia mengajak para orang tua menjadikan membaca nyaring sebagai rutinitas sederhana di rumah.
“Luangkan 15 menit sehari untuk membacakan buku. Dari situlah kepedulian itu tumbuh,” katanya.
Kolaborasi Read Aloud Anak Banda Aceh dan Sobotik juga menjadi bagian dari kampanye gaya hidup berkelanjutan melalui ruang publik yang ramah anak.
Pemilihan Taman Ratu Safiatuddin diharapkan dapat menguatkan kembali fungsi taman sebagai ruang belajar dan bermain yang edukatif. (Rel)













