Sabtu, 18 April 2026

Meraih Keberkahan pada Sepuluh Hari Terakhir Ramadhan

Oleh: M. Zubair, S.H.,M.H.
Penulis Opini pada beberapa media Cetak dan Online serta Instruktur Pembuatan Produk Hukum yang Dilaksanakan Berbagai Organisasi

TULISAN ini saya rangkum dari isi tausyiah beberapa penceramah ba’da insya yang dilaksanakan selama bulan suci Ramadhan ini di Mesjid Al-Ikhlas Geulanggang Teungoh, Kecamatan Kota Juang, Bireuen. Tausyiah singkat sebelum pelaksanaan shalat tarawih itu yang disampaikan penceramah-penceramah berkualitas dan ilmiah sangat bermanfaat karena menjadi i’tibar bagi kita semua dalam memanfaatkan bulan suci Ramadhan yang penuh berkah ini.

Bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh rahmat, ampunan, dan pembebasan dari api neraka. Sejak awal Ramadhan hingga akhir, umat Islam berlomba-lomba meningkatkan ibadah demi meraih ridha Allah SWT. Namun di antara seluruh rangkaian hari dalam bulan suci ini, sepuluh hari terakhir Ramadhan memiliki kedudukan yang sangat istimewa. Pada masa inilah umat Islam dianjurkan untuk lebih bersungguh-sungguh dalam beribadah karena terdapat malam yang lebih baik dari seribu bulan, yaitu Lailatul Qadar.

Sepuluh hari terakhir Ramadhan merupakan momentum spiritual yang sangat berharga. Banyak ulama menyebutkan bahwa fase ini adalah puncak dari perjalanan ibadah selama satu bulan penuh. Jika pada sepuluh hari pertama Allah melimpahkan rahmat-Nya dan pada sepuluh hari kedua Allah membuka pintu ampunan, maka pada sepuluh hari terakhir Allah menjanjikan pembebasan dari api neraka bagi hamba-hamba-Nya yang bersungguh-sungguh dalam ibadah.

Dalam berbagai riwayat hadits disebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW memberikan perhatian yang sangat besar pada sepuluh hari terakhir Ramadhan. Aisyah RA meriwayatkan bahwa ketika memasuki sepuluh malam terakhir, Rasulullah SAW mengencangkan ikat pinggangnya, menghidupkan malam dengan ibadah, dan membangunkan keluarganya untuk beribadah. Hadits ini menunjukkan bahwa Rasulullah SAW memberikan teladan agar umat Islam memanfaatkan waktu tersebut dengan meningkatkan kualitas ibadah.

Mengencangkan ikat pinggang yang dimaksud oleh para ulama diartikan sebagai simbol kesungguhan dalam beribadah. Rasulullah SAW mengurangi aktivitas duniawi dan lebih memfokuskan diri pada ibadah seperti shalat malam, membaca Al-Qur’an, berdzikir, berdoa, dan melakukan i’tikaf di masjid. Hal ini menjadi teladan bagi umat Islam agar menjadikan sepuluh hari terakhir Ramadhan sebagai waktu untuk memperbaiki hubungan dengan Allah SWT.

Salah satu keistimewaan terbesar pada sepuluh hari terakhir Ramadhan adalah adanya Lailatul Qadar. Malam ini disebutkan dalam Al-Qur’an sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan. Dalam Surah Al-Qadr dijelaskan bahwa pada malam tersebut para malaikat turun ke bumi dengan membawa berbagai ketentuan Allah hingga terbit fajar. Keutamaan malam ini sangat luar biasa karena ibadah yang dilakukan pada malam Lailatul Qadar nilainya lebih baik dibandingkan ibadah selama seribu bulan atau sekitar delapan puluh tiga tahun.

Para ulama menjelaskan bahwa Lailatul Qadar tidak ditentukan secara pasti waktunya, namun diperkirakan terjadi pada malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir Ramadhan, seperti malam ke-21, 23, 25, 27, atau 29. Hikmah dari tidak ditetapkannya waktu secara pasti adalah agar umat Islam terus beribadah secara konsisten pada setiap malam di sepuluh hari terakhir, bukan hanya pada satu malam saja.

Untuk meraih keberkahan Lailatul Qadar, umat Islam dianjurkan memperbanyak berbagai bentuk ibadah. Shalat malam atau qiyamul lail menjadi salah satu ibadah yang sangat dianjurkan. Dalam hadits disebutkan bahwa siapa saja yang menghidupkan malam Lailatul Qadar dengan iman dan penuh harap kepada Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni. Oleh karena itu, umat Islam berusaha memanfaatkan malam-malam tersebut dengan melaksanakan shalat tahajud, witir, serta berbagai amalan sunnah lainnya.

Selain shalat malam, membaca Al-Qur’an juga menjadi amalan utama pada sepuluh hari terakhir Ramadhan. Ramadhan sendiri dikenal sebagai bulan diturunkannya Al-Qur’an, sehingga memperbanyak tilawah merupakan salah satu cara untuk mendekatkan diri kepada Allah. Banyak umat Islam yang berusaha mengkhatamkan Al-Qur’an pada fase akhir Ramadhan sebagai bentuk kecintaan terhadap kitab suci.

Amalan lain yang sangat dianjurkan adalah memperbanyak doa dan istighfar. Rasulullah SAW bahkan mengajarkan doa khusus kepada Aisyah RA untuk dibaca ketika bertemu dengan Lailatul Qadar, yaitu doa memohon ampunan kepada Allah. Doa tersebut menunjukkan bahwa inti dari ibadah pada sepuluh hari terakhir adalah memohon ampunan dan rahmat dari Allah SWT.

Selain ibadah yang bersifat individual, sepuluh hari terakhir Ramadhan juga menjadi momentum untuk memperkuat kepedulian sosial. Umat Islam dianjurkan memperbanyak sedekah dan membantu sesama, terutama mereka yang membutuhkan. Rasulullah SAW dikenal sebagai sosok yang sangat dermawan, dan kedermawanannya semakin meningkat pada bulan Ramadhan. Hal ini menjadi inspirasi bagi umat Islam untuk menebarkan kebaikan kepada orang lain.

Salah satu tradisi yang sangat dianjurkan pada sepuluh hari terakhir Ramadhan adalah i’tikaf di masjid. I’tikaf berarti berdiam diri di masjid dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah. Rasulullah SAW selalu melaksanakan i’tikaf pada sepuluh hari terakhir Ramadhan hingga akhir hayatnya. Melalui i’tikaf, seorang muslim dapat lebih fokus dalam beribadah, menjauh dari kesibukan dunia, dan merenungkan perjalanan hidupnya.

Di tengah kehidupan modern yang penuh dengan kesibukan dan distraksi teknologi, sepuluh hari terakhir Ramadhan menjadi kesempatan untuk melakukan refleksi diri. Banyak orang yang selama sebelas bulan sibuk dengan urusan dunia, sehingga kurang memperhatikan aspek spiritual dalam kehidupannya. Ramadhan, khususnya sepuluh hari terakhir, menjadi waktu yang tepat untuk memperbaiki diri dan memperkuat hubungan dengan Allah SWT.

Momentum ini juga dapat dimanfaatkan untuk melakukan muhasabah atau introspeksi diri. Setiap manusia tentu memiliki berbagai kekurangan dan kesalahan dalam menjalani kehidupan. Dengan memanfaatkan sepuluh hari terakhir Ramadhan untuk memperbanyak taubat dan doa, seorang muslim berharap dapat memulai kehidupan yang lebih baik setelah Ramadhan berakhir.

Selain itu, sepuluh hari terakhir Ramadhan juga menjadi waktu untuk memperkuat hubungan dengan keluarga. Rasulullah SAW membangunkan keluarganya untuk beribadah pada malam-malam terakhir Ramadhan. Hal ini menunjukkan pentingnya membangun budaya ibadah dalam keluarga. Orang tua dapat mengajak anak-anaknya untuk ikut shalat malam, membaca Al-Qur’an, dan berdoa bersama agar nilai-nilai spiritual tertanam sejak dini.

Di berbagai daerah, sepuluh hari terakhir Ramadhan juga diwarnai dengan berbagai kegiatan keagamaan di masjid dan mushalla. Kegiatan seperti tadarus Al-Qur’an, ceramah agama, qiyamul lail, dan pembagian sedekah menjadi bagian dari upaya memakmurkan rumah ibadah. Aktivitas tersebut tidak hanya meningkatkan kualitas ibadah, tetapi juga mempererat hubungan sosial di tengah masyarakat.

Namun demikian, ada tantangan tersendiri dalam memanfaatkan sepuluh hari terakhir Ramadhan. Tidak sedikit orang yang justru disibukkan dengan persiapan menyambut hari raya, seperti berbelanja pakaian baru, menyiapkan makanan, atau membersihkan rumah. Meskipun hal tersebut tidak sepenuhnya salah, namun jika terlalu berlebihan dapat mengalihkan perhatian dari tujuan utama Ramadhan, yaitu meningkatkan ketakwaan kepada Allah.

Oleh karena itu, diperlukan keseimbangan antara urusan duniawi dan ibadah. Persiapan menyambut Idul Fitri sebaiknya tidak mengurangi semangat dalam beribadah pada sepuluh hari terakhir Ramadhan. Justru sebaliknya, momen tersebut harus dimanfaatkan sebaik mungkin untuk meraih pahala dan keberkahan yang berlipat ganda.

Pada akhirnya, sepuluh hari terakhir Ramadhan merupakan kesempatan emas yang belum tentu dapat ditemui kembali pada tahun berikutnya. Setiap muslim seharusnya menyadari bahwa usia manusia terbatas dan tidak ada jaminan akan bertemu dengan Ramadhan berikutnya. Kesadaran ini seharusnya mendorong kita untuk memanfaatkan setiap detik dari sepuluh hari terakhir Ramadhan dengan ibadah dan amal kebaikan.

Jika sepuluh hari terakhir Ramadhan dapat dimanfaatkan dengan baik, maka seorang muslim akan merasakan perubahan spiritual yang mendalam. Hatinya menjadi lebih tenang, pikirannya lebih jernih, dan hubungannya dengan Allah semakin kuat. Inilah tujuan utama dari ibadah Ramadhan, yaitu membentuk pribadi yang lebih bertakwa.

Dengan demikian, sepuluh hari terakhir Ramadhan bukan sekadar penutup dari rangkaian ibadah puasa, tetapi merupakan puncak dari perjalanan spiritual seorang muslim. Di dalamnya terdapat berbagai kesempatan untuk meraih ampunan, keberkahan, dan rahmat dari Allah SWT. Oleh karena itu, marilah kita memanfaatkan sepuluh hari terakhir Ramadhan ini dengan sebaik-baiknya agar menjadi hamba yang lebih baik dan lebih dekat dengan Allah SWT. [*]

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

BACA JUGA

KABAR TERBARU

Sekjen PWI Pusat Zulmansyah Sekedang Meninggal

0
KABAR BIREUEN, Jakarta - Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Telah berpulang ke rahmatullah, Sekretaris Jenderal (Sekjen) Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat, Zulmansyah Sekedang. Kabar duka...

Seru dan Edukatif, Siswa Sukma Bangsa Bireuen Jelajah Museum Rumah Aceh Pijay 

0
KABAR BIREUEN, Pidie Jaya - Sebanyak 51 siswa kelas V-Komet dan V-Matahari SD Sukma Bangsa Bireuen mengikuti kegiatan school visit ke Museum Rumah Aceh...

Fenomena ‘Flexing’ di Media Sosial: Pintu Masuk Ditjen Pajak Memantau Profil Wajib Pajak

0
Oleh: Sarah Rifqi Mauliza Mahasiswi Fakultas Hukum UNIKI FENOMENA 'flexing' atau pamer kekayaan di media sosial kini tak lagi sekadar soal gaya hidup atau pencitraan. Di...

Selamat Ulang Tahun ke-9 Kabar Bireuen

0
Oleh: Anwar, S.Ag, M.A.P Kepala Dinas Pendidikan Dayah Kabupaten Bireuen SEMBILAN tahun bukanlah waktu yang singkat bagi sebuah media lokal untuk bertahan di tengah hantaman gelombang...

677 Hektare Sawah Rusak Sedang di Bireuen Mulai Direhabilitasi Pascabanjir

0
KABAR BIREUEN, Bireuen - Pemerintah Kabupaten (Prmkab) Bireuen melalui Dinas Pertanian dan Perkebunan mulai melakukan pembersihan dan pembenahan lahan persawahan yang rusak sedang seluas...

KABAR POPULER

Petisi Belum Diteken, Koalisi Gerakan Sipil Bireuen Tagih Komitmen Bupati Mukhlis

0
KABAR BIREUEN, Bireuen–Koalisi Gerakan Sipil Kabupaten Bireuen menyatakan kekecewaan mendalam terhadap sikap Bupati Bireuen yang dinilai belum menepati komitmennya untuk menandatangani petisi tuntutan pemenuhan...

677 Hektare Sawah Rusak Sedang di Bireuen Mulai Direhabilitasi Pascabanjir

0
KABAR BIREUEN, Bireuen - Pemerintah Kabupaten (Prmkab) Bireuen melalui Dinas Pertanian dan Perkebunan mulai melakukan pembersihan dan pembenahan lahan persawahan yang rusak sedang seluas...

Selamat Ulang Tahun ke-9 Kabar Bireuen

0
Oleh: Anwar, S.Ag, M.A.P Kepala Dinas Pendidikan Dayah Kabupaten Bireuen SEMBILAN tahun bukanlah waktu yang singkat bagi sebuah media lokal untuk bertahan di tengah hantaman gelombang...

Temui Menteri ATR/BPN, Bupati Mukhlis Tuntaskan Kebuntuan RTRW Bireuen

0
KABAR BIREUEN, Jakarta — Setelah bertahun-tahun terhambat, Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Bireuen akhirnya mencapai titik terang. Bupati Bireuen, H. Mukhlis, ST, memastikan...

Refleksi Sembilan Tahun Kabar Bireuen: Tetap Konsisten Jaga Independensi dan Integritas

0
MEDIA pers bukan sekadar tempat menayangkan informasi. Ia adalah alat kontrol sosial. Media hadir untuk mengawasi kekuasaan, menyuarakan kepentingan publik, dan menjaga akal sehat...