Selasa, 10 Maret 2026

Makna Malam dan Siang dalam Perspektif Islam: Antara Tanda Kekuasaan dan Ruang Pengabdian

Oleh: M. Zubair, S.H.,M.H
ASN Pemkab Bireuen

TULISAN ini saya rangkum dari tausyiah Ustad Helmi Yahya ba”da shalat insya 3 maret 2026/M, 13 Ramadhan 1447/H di Mesjid Al-Ikhlas Geulanggang Teungoh, Kecamatan Kota Juang, Kabupaten Bireuen, Provinsi Aceh. Ustad Helmi memulai tausyiah singkatnya yang bisa menjadi pelajaran sangat penting bagi kita terutama yang suka menyia-nyiakan waktu malam. Selaku seorang guru, ustad Helmi mengutip pertanyaan anak-anak, manakah yang Allah lebih awal ciptakan malam atau siang. Dijelaskan, bahwa banyak dalam Surah Al-Qur’an Allah menempatkan kata malam lebih awal dibandingkan kata siang .

Dalam kehidupan manusia, malam dan siang bukan sekadar pergantian waktu yang bersifat astronomis. Keduanya adalah siklus yang sarat makna, mengandung pelajaran, serta menjadi tanda kebesaran Allah SWT. Dalam perspektif Islam, malam dan siang bukan hanya fenomena alam, melainkan ayat-ayat kauniyah—tanda-tanda kekuasaan Allah di alam semesta yang mengajak manusia untuk berpikir, bersyukur, dan menata hidup secara seimbang antara ibadah dan aktivitas duniawi.

Al-Qur’an berulang kali menyebut pergantian malam dan siang sebagai bukti kebesaran Allah. Dalam Surah Al-Furqan ayat 62 disebutkan bahwa Allah menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau bersyukur. Pergantian ini menunjukkan keteraturan kosmos yang tidak mungkin terjadi tanpa kehendak dan pengaturan yang Maha Kuasa.

Siang hadir dengan cahaya yang terang, memberi manusia kesempatan untuk bekerja, berusaha, dan menjalankan aktivitas kehidupan. Sementara malam datang dengan kegelapan yang menenangkan, menjadi waktu istirahat dan perenungan. Keseimbangan ini menunjukkan bahwa Islam memandang kehidupan tidak hanya dalam dimensi kerja dan produktivitas, tetapi juga ketenangan dan spiritualitas.

Dalam Surah An-Naba’ ayat 10–11, Allah menyebut malam sebagai pakaian dan siang sebagai waktu untuk mencari penghidupan. Kata “pakaian” di sini mengandung makna perlindungan dan penutup. Malam menutupi bumi dengan kegelapan yang memberi ketenangan, melindungi tubuh dari kelelahan, dan memberi ruang bagi jiwa untuk kembali kepada fitrahnya.

Malam dalam Islam memiliki kedudukan yang sangat istimewa. Ia bukan sekadar waktu istirahat, melainkan juga waktu terbaik untuk mendekatkan diri kepada Allah. Dalam sepertiga malam terakhir, umat Islam dianjurkan untuk bangun melaksanakan qiyamul lail atau tahajud.

Keheningan malam menghadirkan suasana yang berbeda dibandingkan siang hari. Pada saat manusia lain terlelap, seorang hamba berdiri dalam sunyi, menengadahkan tangan, memohon ampunan dan pertolongan. Dalam hadis riwayat Muslim disebutkan bahwa Allah “turun” ke langit dunia pada sepertiga malam terakhir dan mengabulkan doa hamba-hamba-Nya yang memohon.

Malam juga menjadi saksi turunnya Al-Qur’an. Dalam Surah Al-Qadr ditegaskan bahwa Lailatul Qadr—malam kemuliaan—lebih baik dari seribu bulan. Ini menunjukkan bahwa malam bukanlah simbol kegelapan dalam Islam, melainkan justru waktu turunnya cahaya petunjuk.

Bahkan peristiwa agung Isra’ dan Mi’raj yang dialami Nabi Muhammad saw. terjadi pada malam hari. Perjalanan spiritual yang luar biasa itu menegaskan bahwa malam adalah ruang pertemuan antara hamba dan Tuhannya dalam dimensi yang lebih dalam.

Jika malam adalah waktu kontemplasi dan ibadah yang mendalam, maka siang adalah waktu amal dan perjuangan. Islam tidak memisahkan antara spiritualitas dan produktivitas. Siang hari dipandang sebagai arena untuk membuktikan keimanan melalui kerja nyata.

Dalam Surah Al-Qashash ayat 73 disebutkan bahwa Allah menjadikan siang terang benderang agar manusia dapat mencari karunia-Nya. Ini menegaskan bahwa bekerja, berdagang, bertani, mengajar, dan seluruh aktivitas yang halal adalah bagian dari ibadah jika diniatkan karena Allah.

Shalat-shalat wajib yang dilakukan pada siang hari, dzuhur dan ashar menjadi penyeimbang agar manusia tidak larut dalam kesibukan dunia. Di tengah aktivitas, seorang Muslim berhenti sejenak, mengingat kembali tujuan hidupnya, dan menyadari bahwa semua usaha adalah bagian dari pengabdian kepada Allah.

Dengan demikian, siang mengajarkan nilai tanggung jawab, disiplin, dan kesungguhan. Ia menjadi simbol perjuangan dan pengorbanan, sekaligus kesempatan untuk menebar manfaat bagi sesama.

Keseimbangan sebagai Prinsip Hidup

Islam adalah agama yang menekankan keseimbangan (wasathiyah). Pergantian malam dan siang mengajarkan bahwa kehidupan harus berjalan seimbang antara ruh dan jasad, antara ibadah dan kerja, antara diam dan bergerak.

Terlalu larut dalam dunia tanpa ruang spiritual akan membuat jiwa kering. Sebaliknya, mengabaikan tanggung jawab dunia dengan alasan ibadah juga tidak sejalan dengan ajaran Islam. Rasulullah saw. adalah teladan dalam menjaga keseimbangan ini. Beliau bangun malam untuk beribadah, tetapi juga aktif memimpin masyarakat pada siang hari.

Siklus malam dan siang juga mengingatkan manusia tentang keterbatasan waktu. Setiap malam yang datang menutup lembaran hari sebelumnya, dan setiap siang membuka kesempatan baru. Dalam perspektif ini, malam dan siang menjadi pengingat bahwa hidup terus berjalan menuju akhirat.

Secara simbolik, malam sering dikaitkan dengan ujian, kesedihan, dan ketidakpastian. Sementara siang diasosiasikan dengan harapan, kejelasan, dan kebangkitan. Namun Islam mengajarkan bahwa dalam kegelapan malam pun terdapat rahmat, dan dalam terang siang pun ada ujian.

Kesulitan hidup ibarat malam yang gelap, tetapi ia tidak abadi. Akan selalu datang “siang” berupa pertolongan dan kemudahan. Dalam Surah Al-Insyirah disebutkan bahwa bersama kesulitan ada kemudahan. Pergantian malam dan siang menjadi metafora bahwa keadaan manusia selalu berubah, dan harapan tidak pernah padam.

Dalam konteks ini, seorang Muslim diajak untuk bersabar di “malam” ujian dan bersyukur di “siang” kelapangan. Keduanya adalah bagian dari perjalanan iman.

Selain itu, pergantian malam dan siang juga memiliki dimensi sosial. Pada malam hari, keluarga berkumpul, berbagi cerita, dan mempererat hubungan. Siang hari, masyarakat berinteraksi dalam aktivitas ekonomi dan sosial. Keduanya membentuk ritme kehidupan sosial yang harmonis.

Islam mengatur adab-adab yang berbeda antara malam dan siang. Misalnya, anjuran untuk menenangkan anak-anak ketika malam tiba, atau larangan melakukan aktivitas yang mengganggu ketenangan orang lain pada waktu istirahat. Ini menunjukkan bahwa malam dihormati sebagai waktu privasi dan ketenangan.

Sementara siang menjadi waktu keterbukaan dan interaksi publik. Di sinilah nilai kejujuran, amanah, dan kerja sama diuji.

Kesadaran akan Waktu

Dalam Surah Al-‘Ashr, Allah bersumpah demi waktu. Ini menunjukkan betapa berharganya setiap detik dalam kehidupan manusia. Malam dan siang adalah unit-unit waktu yang terus bergulir tanpa henti. Setiap pergantian adalah pengingat bahwa umur manusia terus berkurang.

Seorang ulama pernah mengatakan bahwa waktu adalah pedang; jika tidak digunakan dengan baik, ia akan “memotong” manusia dalam kerugian. Maka malam dan siang hendaknya diisi dengan amal saleh, ilmu, dan kebaikan.

Kesadaran ini penting di era modern, ketika banyak orang terjebak dalam rutinitas tanpa refleksi. Malam yang seharusnya menjadi waktu istirahat dan ibadah justru dihabiskan dalam kesia-siaan. Siang yang seharusnya produktif kadang terbuang tanpa makna. Islam mengajarkan manajemen waktu yang terintegrasi dengan nilai spiritual.

Malam dan siang dalam perspektif Islam bukan sekadar pergantian terang dan gelap. Ia adalah tanda kekuasaan Allah, ruang ibadah dan ikhtiar, simbol ujian dan harapan, serta pengingat akan keterbatasan hidup.

Malam mengajarkan ketenangan, introspeksi, dan kedekatan dengan Allah. Siang mengajarkan kerja, tanggung jawab, dan pengabdian kepada sesama. Keduanya saling melengkapi, membentuk harmoni kehidupan yang utuh.

Dengan memahami makna malam dan siang secara spiritual, seorang Muslim tidak lagi melihat waktu sebagai rutinitas biasa. Setiap malam menjadi kesempatan untuk memperbaiki diri, dan setiap siang menjadi peluang untuk menebar kebaikan. Dalam siklus itulah iman dipelihara, harapan diteguhkan, dan tujuan hidup diarahkan menuju ridha Allah SWT.

Akhirnya, ketika malam dan siang terus berganti, yang terpenting bukanlah seberapa banyak waktu yang telah berlalu, tetapi seberapa bermakna kita mengisinya. Karena pada akhirnya, seluruh siklus itu akan bermuara pada satu titik: pertanggungjawaban di hadapan Allah atas bagaimana kita memanfaatkan setiap malam dan setiap siang yang dianugerahkan kepada kita.

Semoga tulisan ini dapat menjadi I’tibar bagi kita semua dalam mempergunakan waktu. Jangan malam yang merupakan waktu istirahat dan ibadah kita gunakan untuk terus berkerja dan mengabiskan waktu bergadang di warung kopi. Siang dipergunakan untuk berkerja secara halal dan mengharap ridha Allah yang hasilnya juga digunakan untuk beramal. Hal ini karena tujuan hidup manusia adalah untuk kembali kepada Allah dan perlu dipersiapkan bekal yang sempurna agar mendapatkan tempat yang layak di hari akhir nanti. [*]

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

BACA JUGA

KABAR TERBARU

Pj Sekda Bireuen Terkait Bantuan Presiden Rp4 Miliar: Belum Digunakan, Masih Tersimpan di Rekening...

0
KABAR BIREUEN, Bireuen - Penjabat (Pj) Sekda Bireuen, Hanafiah S.P., CGCAE, menyebutkan, bantuan Presiden Prabowo Subianto sebesar Rp4 miliar masih disimpan di rekening daerah...

Mendikdasmen Resmikan Proyek Revitalisasi SLB Vokasional Muhammadiyah Bireuen

0
KABAR BIREUEN, Bireuen - Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Prof Dr. Abdul Mu'ti, MEd meresmikan gedung baru SLB Vokasional Muhammadiyah Bireuen, Selasa (10/3/2026). Gedung...

Meraih Keberkahan pada Sepuluh Hari Terakhir Ramadhan

0
Oleh: M. Zubair, S.H.,M.H. Penulis Opini pada beberapa media Cetak dan Online serta Instruktur Pembuatan Produk Hukum yang Dilaksanakan Berbagai Organisasi TULISAN ini saya rangkum dari...

Inovasi Mahasiswa Umuslim, Kembangkan Aplikasi Pendataan Tanggap Darurat Bencana

0
KABAR BIREUEN, Peusangan – Mahasiswa dan dosen Universitas Almuslim (Umuslim) berhasil mengembangkan aplikasi pendataan tanggap darurat bencana berbasis digital yang mampu mempercepat pengumpulan dan...

BSI Berbagi, 5.000 Anak Yatim Terima Santunan Serentak di Seluruh Indonesia

0
KABAR BIREUEN, Banda Aceh - Aroma bubur kanji rumbi mengepul dari dapur besar di halaman Masjid Darussalam, Aceh Tamiang, pada Sabtu (07/03/2026). Ratusan anak...

KABAR POPULER

Pj Sekda Bireuen Terkait Bantuan Presiden Rp4 Miliar: Belum Digunakan, Masih Tersimpan di Rekening...

0
KABAR BIREUEN, Bireuen - Penjabat (Pj) Sekda Bireuen, Hanafiah S.P., CGCAE, menyebutkan, bantuan Presiden Prabowo Subianto sebesar Rp4 miliar masih disimpan di rekening daerah...

Mendikdasmen Resmikan Proyek Revitalisasi SLB Vokasional Muhammadiyah Bireuen

0
KABAR BIREUEN, Bireuen - Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Prof Dr. Abdul Mu'ti, MEd meresmikan gedung baru SLB Vokasional Muhammadiyah Bireuen, Selasa (10/3/2026). Gedung...

Meraih Keberkahan pada Sepuluh Hari Terakhir Ramadhan

0
Oleh: M. Zubair, S.H.,M.H. Penulis Opini pada beberapa media Cetak dan Online serta Instruktur Pembuatan Produk Hukum yang Dilaksanakan Berbagai Organisasi TULISAN ini saya rangkum dari...

Lewat Skema IJD, HRD Terima Usulan Perbaikan Jalan Peunaron Baru–Sri Mulya dari Dewan Aceh...

0
KABAR BIREUEN, Aceh Timur – Anggota Komisi V DPR RI dari Fraksi PKB, H. Ruslan M. Daud (HRD) menerima langsung usulan percepatan perbaikan ruas...

Hunian Tetap Bagi Korban Bencana Alam di Bireuen Segera Terwujud

0
Oleh: M. Zubair, S.H.M.H ASN Pemkab Bireuen BENCANA banjir bandang dan tanah longsor yang melanda semua kecamatan dalam Kabupaten Bireuen beberapa waktu lalu tidak hanya meninggalkan...