KABAR BIREUEN-Bahasa merupakan alat komunikasi yang digunakan oleh seluruh manusia yang hidup di dunia ini. Bahasa tidak hanya berasal dari ucapan namun bahasa juga dihasilkan oleh perbuatan, seperti bahasa tubuh atau Body Language.

Bagi manusia yang tergolong normal bahasa yang di gunakan sebagai alat komunikasi merupakan bahasa yang keluar dari mulut atau ucapan, berbeda halnya dengan mereka yang Tunawicara,bagi yang tunawicara bahasa tubuh atau bahasa isyarat adalah cara yang digunakan untuk berkomunikasi.

Manusia normal berbicara dengan bahasa yang telah ada pada diri mereka yang tertanam sejak kecil setelah ia lahir, bahasa indatu atau bahasa ibu. Tanpa harus diajari bahasa tersebut dengan sendirinya melekat dalam dirinya seiring dengan pertumbuhan dan berjalannya waktu. Di dunia ini terdapat lebih kurang 7000 bahasa diantaranya 742 bahasa di Indonesia dan 13 bahasa di Aceh. Berikut adalah 13 jenis bahasa yang ada di Aceh.

Bahasa Aceh (Sabang, Aceh Besar, Banda Aceh, Pidie, Pidie Jaya, Bireuen, Lhokseumawe, Aceh Utara, Aceh Timur, Aceh Jaya, Aceh Barat, Nagan Raya, Langsa, Aceh Barat Daya, dan sebagian wilayah Aceh Selatan dan Aceh Tamiang); Bahasa Aneuk Jame (Aceh Selatan, sebagian Abdya, sebagian Aceh Barat atau Meureubo), Bahasa Singkil (Kota Subulussalam dan Singkil), Pakpak (Singkil).

Bahasa Gayo (Bener Meriah, Aceh Tengah, Gayo Lues, dan sebagian Aceh Tenggara),  Bahasa Kluet (beberapa bagian di Aceh Selatan),  Bahasa Tamiang (Aceh Tamiang),  Bahasa Alas (Kuta Cane, Aceh Tenggara), Bahasa Devayan (Simeulu), Bahasa Sigulai (Simeulu), Bahasa Lekon (Simeulu, kecamatan Alafan),  Bahasa Haloban (Pulau Banyak, Singkil),  Bahasa Nias (sebagian kecil penduduk kabupaten Singkil dan Pulau Banyak).

Dari keseluruhan bahasa tersebut bahasa Aceh adalah bahasa dengan penutur terbanyak yaitu sekitar 3,5 juta penutur dari lebih kurang 5,19 juta penduduk Aceh.

Dalam penuturan bahasa Aceh ada yang khas dari cara mamulai pembicaraannya yaitu dengan kata “Hai”. Misalnya, Hai, Ho tanak jak? (Hai, mau pergi kemana? ), Hai, sang ka jeuet tawo (Hai, sepertinya sudah boleh pulang), Hai, cok nyan siat! (Hai, ambil itu sebentar!), Hai, pat neuh jino? (Hai, lagi dimana sekarang? ), Hai, ka sép! (Hai, cukup!).

Kata “Hai” tidak bisa diartikan kedalam bahasa lain. Dari satu sisi “Hai” merupakan kata sapaan kepada setiap orang yang bertemu, namun “Hai” juga merupakan kata keterpaksaan dalam menerima tawaran atau pilihan yang kedua, seperti, Hai jeuet nyo? (Boleh yang ini?), jawabnyan, Jeuet (Boleh)

Meunyo nyang nyo? (Kalau yang ini?)    Hai, jeuet cit!, (Hai, Boleh juga!), dengan raut wajah yang sedikit berbeda.

Bukan hanya di awalan kata, bahasa Aceh juga memiliki khas dalam mengakhiri kalimat pembicaraan yaitu “Roh”. “Roh” merupakan sebuah kata yang sangat sering digunakan dalam mengakiri sebuah ucapan pembicaraan atau juga bahkan di tengah kalimat, pada dasarnya “Roh” juga tidak bisa diartikan dalam bahasa lain namun terkadang “Roh” bisa bermakna “Ya” atau berguna sebagai kata penekanan.

Seperti, Jeuet nyang nyan Roh? (Boleh yang ini?), Padum Roh? (Berapa ya?), Soe nan Roh jih? (Siapakah ya namanya?), Pat tinggai roh jih? (Dimanakah dia tinggal?), Pue roh nyan?(Apa itu ya?)

Dalam kesehariannya “hai” dan “roh” juga ada yang digunakan secara bersa-sama dalam satu kalimat, seperti, Hai pakön meunan Roh?,(Kenapa begitu ya?), Hai kiban Roh cara jih? (Hai? – Bagaimana ya caranya?), Hai Soe nan Roh jih? (Siapa ya namanya? ), Hai Pat tinggai roh jih? (Dimanakah ia tinggal?), Hai nyan pue roh?, Hai itu apa roh? (Itu apa ya?)

Beberapa hal tersebut sangat umum kita dapatkan dalam percakapan sehari-hari masyarakat Aceh baik di pedesanaan atau di perkotaan, yang tua maupun yang muda. Namun untuk kata “roh” mayoritas penuturnya berasa dari kabupaten Pidie, Pidie Jaya, Bireuen, Lhokseumawe, Aceh Utara, dan Aceh Timur. Sedangkan untuk daerah lainnya hanya sebagian kecil saja yang menggunakan kata tersebut. (Ziaul Fahmi/Duta Bahasa Favorit Provinsi Aceh tahun 2018)

 

 

BAGIKAN