KABAR BIREUEN, Bireuen – Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) tingkat kecamatan se-Kabupaten Bireuen mengikuti lomba suson ranup Bungong Jeumpa (seni merangkai sirih khas Aceh) Tahun 2026.
Kegiatan seni tradisi merangkai sirih ini diselenggarakan dalam rangkaian kegiatan peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-27 Kabupaten Bireuen Tahun 2026.
Lomba merangkai sirih dengan tema “Pesona Bungong Jeumpa Dalam Budaya Ranup Tanah Juang” berlangsung di Halaman Pendopo Bireuen, Sabtu (3/10/2026).
Di sela-sela kegiatan, Penanggung jawab kegiatan, Irmawati.S.M.Ling dalam keterangannya kepada Kabar Bireuen menjelaskan, seni suson sirih (ranup) merupakan salah satu warisan budaya takbenda masyarakat Aceh yang bernilai filosofis tinggi.
“Sirih melambangkan kemuliaan, penghormatan, dan jalinan silaturahmi yang erat dalam setiap prosesi adat,” sebutnya.
Dikatakannya, dalam rangka menjaga kelestarian tradisi sekaligus menyemarakkan kreativitas masyarakat, TP-PKK Kabupaten Bireuen menyelenggarakan lomba suson sirih Tingkat Kabupaten Bireuen Tahun 2026 dalam rangka memperingati HUT ke-27 Kabupaten Bireuen.
“Lomba ini diharapkan mampu menyelaraskan keindahan estetika bunga khas Aceh sebagai lambang ciri khas Bireuen (Bungong Jeumpa),” jelasnya.
Motif Bungong Jeumpa merupakan salah satu simbol identitas dari masyarakat Bireuen dan sebagai bunga kebanggaan dengan keharuman yang kuat.
Kelopak putih gading melambangkan kejujuran dan keikhlasan dengan hubungan antar sesame manusia, dengan karakter ketangguhan, nilai sejarah, serta heroisme Kabupaten Bireuen yang dikenal luas sebagai Kota Juang.

Disebutkan, lomba yang diikuti 17 TP PKK kecamatan dalam Kabupaten Bireuen ini, dengan ketentuan antara lain, peserta merupakan perwakilan kader aktif TP-PKK dari masing-masing kecamatan di wilayah Kabupaten Bireuen yang namanya tercantum dalam SK, dan tidak diperkenankan melibatkan kader TP PKK gampong).
Setiap kecamatan wajib mengirimkan satu tim yang terdiri dari dua orang peserta, serta didampingi oleh Ketua TP PKK Kecamatan.
Kegiatan ini bertujuan untuk melestarikan adat istiadat dan seni budaya tradisi leluhur masyarakat Aceh, khususnya seni suson ranup.
“Menggali potensi, kreativitas, dan inovasi para kader PKK dalam mengembangkan seni suson tanpa menghilangkan nilai dasarnya,” katanya.
Lalu untuk mempererat tali silaturahmi dan ruang berbagi pengalaman antar kader PKK kecamatan se-Kabupaten Bireuen, menanamkan rasa bangga terhadap identitas daerah melalui visualisasi tema tersebut.
Durasi pengerjaan rangkaian sirih adalah 150 menit (2,5 jam). Tidak ada penambahan waktu bagi peserta yang terlambat.
Adapun kriteria penilaian yakni kesesuaian tema, visualisasi paduan kelopak bungong Jeumpa dan karakter historis Tanah Juang.
Kreativitas dan Inovas, keunikan teknik lipatan, variasi anyaman/rajutan, keserasian kombinasi warna dan keaslian ide bentuk.
“Kerapian, kebersihan dan kestabilan, kekokohan struktur rangkaian ranup, kebersihan daun sirih, serta kekuatan dan jalinan tancapan serta presisi bentuk,” sebut Irmawati.
Ketepatan waktu, disiplin memulai pengerjaan dan merampungkan karya sesuai batas waktu durasi.
“Presentasi filosofi karya (kemampuan menjelaskan makna, filosofi, dan simbol rangkaian, maksimal 3 menit),” ujarnya.
Panitia akan menetapkan pemenang berdasarkan nilai akumulasi tertinggi dari para dewan juri.
Juara I, II, dan III mendapatkan hadiah berupa piagam penghargaan, dan uang pembinaan. (Ihkwati)













