KABAR BIREUEN, Bireuen–Iswahyudi, Wakil Presiden Persiraja Banda Aceh ditetapkan sebagai Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Amanat Nasional (PAN) Kabupaten Bireuen periode 2026–2030.
Penetapan itu dilakukan dalam Musyawarah daerah (Musda) secara serentak yang digelar Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Amanat Nasional (PAN) Aceh Kantor DPW PAN Aceh, Banda Aceh, Minggu (15/2/2026).
Musda serentak bagi Dewan Pimpinan Daerah (DPD) PAN kabupaten/kota se-Aceh ini dibuka Ketua Harian DPW PAN Aceh, Razami Dek Cut.
Dewan Pimpinan Wilayah PAN Aceh juga menyerahkan Surat Keputusan (SK) kepengurusan kepada 19 Ketua Dewan Pimpinan Daerah tingkat kabupaten/kota.
Dalam struktur PAN Bireuen, Ketua, Iswahyudi, Edi Supriadi dipercaya sebagai Sekretaris, Bendahara Suriya Yunus, yang juga anggota DPRK Bireuen.
Penunjukan pria yang akrab disapa Bos Yudi ini bukan sekadar rotasi kepengurusan, melainkan sinyal kuat PAN Aceh tengah menyiapkan langkah konsolidasi serius menjelang kontestasi politik 2029.
Iswahyudi, yang dikenal luas di kalangan pecinta sepak bola Aceh, menegaskan, kepemimpinannya tidak akan berhenti pada seremoni pelantikan.
“Saya menargetkan konsolidasi total di 17 kecamatan hingga ke tingkat ranting, level yang selama ini kerap menjadi titik lemah partai-partai dalam menjaga militansi kader,” tegas Bos Yudi kepada wartawan Minggu, (15/02/2026).
Ditambahkan Putra Kuta Blang itu, dia tidak ingin PAN hanya hidup saat pemilu. Mesin partai harus menyala setiap hari, sampai ke akar rumput. Konsolidasi hingga ranting adalah harga mati.
Hal ini sebagai upaya membangun ulang infrastruktur politik PAN di Bireuen yang dalam beberapa tahun terakhir dinilai kurang agresif.
Munzir Mustafa, fungsionaris senior PAN, menyebut regenerasi ini sebagai momentum penting.
Menurutnya, partai berlambang matahari itu membutuhkan figur muda yang mampu menjembatani pemilih tradisional dengan generasi baru.
“Regenerasi ini bukan sekadar pergantian nama. Ini tentang arah baru. Di bawah kepemimpinan yang energik, PAN Bireuen punya peluang besar kembali bersinar,” ujarnya.
Namun tantangan yang dihadapi tidak ringan. PAN Bireuen harus bersaing dengan partai-partai lokal Aceh yang memiliki akar ideologis kuat serta jaringan kultural yang mengakar.
Tanpa konsolidasi yang nyata dan kerja politik yang terukur, ambisi kebangkitan bisa terhenti di tingkat wacana.
“Langkah ini sebagai strategi penyegaran kepemimpinan partai di tingkat kabupaten, sekaligus memperkuat posisi PAN di Aceh menjelang momentum politik mendatang,” sebutnya.
Dukungan dari berbagai elemen kader disebut menjadi modal awal untuk membangun mesin partai yang lebih solid dan terorganisir.
“Meski begitu, penunjukan Iswahyudi sekaligus memperlihatkan Dek Gam tengah memperkuat basis kekuasaan internal PAN Aceh dengan figur-figur loyal dan memiliki daya tarik publik,” katanya.
Dengan latar belakang manajerial di dunia olahraga, Iswahyudi diharapkan mampu membawa pendekatan profesional dan disiplin organisasi ke dalam tubuh partai.
Jika strategi ini berhasil, Bireuen bisa menjadi salah satu lumbung suara penting bagi PAN di Aceh pada pemilu mendatang. (Ihkwati)










