KABAR BIREUEN–Ribuan kaum muslimin dan muslimat kota Bireuen dan sekitarnya melaksanakan shalat Idul fitri 1 Syawal 1441 hijriah di Masjid Agung Sultan Jeumpa minggu pagi (24/5/2020).

Dosen IAIN Malikussaleh Lhokseumawe DR Al Husaini, MA bertindak sebagai khatib dan Tgk Muhammad Nazir dari IPQAH Kabupaten Bireuen bertindak sebagai Imam.

Turut hadir dalam pelaksanaan shalat Ied, Plt Bupati Bireuen DR H Muzakkar A Gani,SH, M Si, Sekda Ir Zulkifli, SP, Imum Chiek Masajid Agung Sultan Jeumpa Drs Tgk H Jamaluddin Idris, Kadis Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Bireuen selaku penghubung khatib Masjid Agung Sultan Jeumpa, serta sejumlah pejabat Pemkab Bireuen, unsur TNI, Polri dan kaum muslimin dan muslimat kota Bireuen dan sekitarnya.

Khatib dalam khutbahnya antara lain menyampaikan, 1 Syawal 1441 hijriah merupakan hari kemenangan bagi umat Islam se-dunia setelah sebulan penuh berpuasa melawan perang hawa nafsu.

Dikatakan, Idul Fitri sebagai hari raya bagi ummat Islam sebagai tanda bersyukur atas nikmat Allah yang telah memberikan kesehatan kepada kita telah dapat melaksanakan rangkaian ibadah, puasa, shalat tarawih dan menunaikan zakat fitrah di bulan suci Ramadhan dengan penuh keimanan mengharapkan pahala dari Allah SWT.

“Ibadah adalah segala hal yang dilaksanakan dengan niat karena Allah dan pelaksanaannya sesuai  dengan tuntunan Rasulullah. Ibadah bersumber pada wahyu yang termaktub di dalam Al Quran dan As Sunnah,” sebutnya.

Zakat Fitrah adalah ibadah wajib yang dilaksanakan pada bulan Ramadhan dan fungsi zakat fitrah untuk menyempurnakan ibadah dan membersihkan jiwa bagi orang yang berpuasa.

Takbir merupakan rangkaian ibadah Idul Fitri hukumnya sunnah, baik jika dilaksanakan dan tidak berdosa jika ditinggalkan. 

Sementara Idul Fitri adalah saat bergembira sebagai tanda bersyukur atas nikmat Allah. Idul Fitri berarti kembali makan setelah sebulan penuh di siang hari bulan Ramadhan tidak diperbolehkan makan dan minum serta hal-hal lain yang membatalkan puasa.

“Silaturrahim sangat dianjurkan dalam Islam. Silaturrahim berarti menyambung tali kasih sayag atau mengurai benang kusut. Kasih sayang bisa terputus,  karena marah, permusuhan dan tidak adanya komunikasi,” katanya.

Dengan silaturrahim rezeki lebih lapang dan umur lebih panjang. Sabda Rasulullah SAW, “Siapa yang ingin bertambah rezekinya dan dipanjangkan umurnya hendaklah ia menghubungkan silaturrahim (HR Al Bukhari).

Dalam situasi normal silturrahim dapat dilakukan dengan saling mengunjungi dan saling maaf memaafkan, akan tetapi dalam kondisi di tengah pandemi covid-19 yang harus menempuh jarak jauh  dapat dilakukan melalui sarana komunikasi.

“Orang-orang yang beriman adalah mereka yang pemaaf memaafkan kesalahan orang lain  dan dilarang memendam kemarahan dan dendam kepada orang lain melebihi tiga hari,” ujarnya. (H.AR Djuli)

BAGIKAN