Antusias masyarakat menyambut Hari Raya Idul Fitri di Tarim, Hadhramaut Yaman

KABAR BIREUEN-Alhamdulillah. Setelah sebulan penuh menjalankan ibadah puasa Ramadan, umat muslimin menyambut kedatangan hari kemenangannya, Hari Raya Idul Fitri, tepatnya pada 1 Syawal lalu.

Umat Islam di seantero dunia pun merayakan Lebaran tersebut dengan aneka agenda. Mulai dari salat Idul Fitri, salam-salaman dan berjabat tangan, Open House, bersilaturrahmi ke rumah sanak saudara, karabat, tetangga dan berbagai agenda kehari-rayaan lainnya. Hal tersebut pun dilakukan masyarakat Hadhramaut, provinsi terbesar di Republik Yaman.

Namun, ada yang unik di negeri ‘Seribu Wali’ ini, agenda tersebut mulai diadakan pada hari kedelapan Syawal. Setelah merayakan pesta hari pertama Lebaran dengan salat Ied di masjid-masjid, keesokan harinya, suasana di Hadhramaut pun berubah bagaikan Ramadan.

Pasalnya, masyarakat negeri yang dijuluk negeri ‘Kebudayaan Islam’ ini masih sibuk dan larut dalam ibadah puasa. Mereka masih melaksanakan ibadah puasa Syawal tak ubahnya sebagaimana yang mereka lakukan saat Ramadan.

Selama enam hari tersebut, suasana terlihat sepi dari hiruk pikuk lebaran. Layaknya Ramadan, warga pun sangat jarang yang berlalu lalang dan berkeliaran di jalan. Mereka belum mulai Open House dan silaturahmi ke rumah sanak saudara. Selain memang mengikuti anjuran puasa sunah di awal-awal bulan Syawal, hal tersebut pun sudah menjadi tradisi turun temurun dari zaman nenek moyang.

Setelah menyelesaikan puasa sunah Syawal, tepatnya pada hari ke delepan Syawal, mereka memulai Open Hause untuk sanak saudara, family, karabat, tetangga dan sebagainya.

Open Hause, di Hadhramaut lebih akrab disebut Awad-Awadan, adalah acara silaturahmi ke tetangga dan rumah para Ulama dan para Habaib setempat.

Layaknya acara silaturrahmi di Indonesia, acara tersebut juga digelar dalam rangka merayakan hari raya Idul Fitri dengan salam-salaman atau berjabat tangan seta berkumpul bersama dalam rangka merayakan hari kemenangan.

Namun, ada sisi perbedaan Open House di negeri Hadhramaut dengan tempat-tempat lainnya. Jika di kebanyakan tempat, Open House-nya sesak dengan hidangan kue Lebaran dan beraneka makanan lainnya, acara Awad-Awadan di negeri religius ini dihiasi dengan zikir, salawatan, doa serta syi’ir-syi’ir nan berbau lebaran lainnya.

Dikala itu, terlihatlah suasana Lebaran yang sebenarnya. Rumah-rumah kediaman  para Habaib dan tokoh masyarakat digelar Open Hause secara berjadwal dan bergilir. Jadwalnya pun sudah ditetapkan secara permanen untuk setiap tahunnya.

Seperti Open House yang biasa dilaksanakan di kota Tarim, antara lain keluarga Bin Hafidh di rumah Al ‘Alamah Al Habib Umar bin Hafidh, Open House keluarga Ba ‘Alawi di rumah munsibnya Ba ‘Alawi. Kemudian, Open House keluarga Balfaqih di rumah Munshib Balfaqih, Open House Al Hamid di rumah Munshib Al Hamid, dan Open House keluarga bin Syihab di rumah kediaman Habib Adullah bin Syihab dan beberapa tempat lainnya.

Acara Open House tersebut bersifat umum, yakni siapa pun kaum Adam boleh hadir. Oleh karena itu, masyarakat  membeludak meramaikan acara tersebut, baik masyarakat setempat maupun pendatang dari luar. Suasana terlihat ramai. Seakan-akan, saat inilah mulainya hari Lebaran. (Yunalis Abdul Gani B.Sc, mahasiswa pascasarjana Universitas Al Ahgaff, Tarim, Yaman, asal Cot Trieng, Simpang Mamplam,  alumnus Ummul Ayman, Samalanga)

BAGIKAN